Karomah Kiai Hamid Pasuruan saat Melawan Rezim Orde Baru | Kabar Santri

0 Comment

Rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto benar-benar menancapkan cengkraman kekuasaan terhadap semua lini. Seusai Pemilu 1971, misalnya, Orde Baru memfusikan partai-partai menjadi dua saja. Plus Golkar yang tak mau disebut partai, namun berperan sebagai partai.


Karomah Kiai Hamid Pasuruan saat Melawan Rezim Orde Baru Karomah Kiai Hamid Pasuruan saat Melawan Rezim Orde Baru

Semua partai Islam dilebur dalam PPP. Sedangkan selain itu, partai nasionalis dan non-muslim, menjadi PDI.

Tak berhenti sampai disitu, Orde Baru terus mengkebiri dan merepresi aktivitas politik NU yang sebelumnya menjadi partai dan lantas melebut ke PPP merasakan hal yang amat perih pada masa-masa itu. Terutama menjelang Pemilu 1977.

Banyak Kiai NU di kampung-kampung dipaksa untuk memilih Golkar. Para pengasuh pesantren tersebut, dipanggil baik di Koramil maupun Kodim. Sesuai dengan tingkat pengaruh sang kiai.

Hampir merata semua tokoh NU mengalami hal itu. Termasuk almagfurlah KH. Abdul Hamid Pasuruan. Pengasuh PP Salafiyah tersebut menyebut tahun-tahun itu, sebagai tahun “Innalillah”. Sebuah ucapan kala mendengar berita buruk, seperti kematian. Suatu istilah yang melambangkan betapa buruknya masa-masa itu.

Suatu ketika, Kiai Hamid dipanggil oleh Kodim. Di markas tentara itu, Kiai Hamid diperintah untuk menandatangani berkas untuk memberikan dukungannya pada Golkar.

Dipinjamilah bolpoin untuk menandatangani surat tersebut. Namun sayang, saat Kiai Hamid menggoreskannya di surat itu, seketika bolpoinnya tak mengeluarkan tinta.

Begitu terus hingga ganti bolpoin beberapa kali. Tak ada yang mempan. Sampai akhirnya tentara itu jengah dan suruh menggantinya dengan cap jempol.

“Pakai cap jempol saja, Kiai,” ujar salah satu tentara.

Kiai Hamid pun menuruti. Namun keanehan terjadi. Saat jempol waliyullah itu menempelkan jempolnya pada surat dukungan tersebut, yang membekas bukanlah sidik jarinya. Akan tetapi yang membekas justru lambang kakbah di kertas itu. Lambang yang menjadi logo PPP.

Seketika itu, para tentara melepaskan kiai yang kharismatik tersebut.

Cerita disampaikan oleh Rois Syuriah Ranting NU Sumberrejo Pak Mustofa, dari gurunya, Kiai Abdullah Syafi’i Pakis Sawi saat menyampaikan di pengajian umum. Kiai Abdullah yang tak lain teman sejawat Kiai Hamid kala nyantri di Mbah Maksum Lasem mendapat kabar saat bertemu di kediaman Kiai Hamid.

Loading...

Post a Comment Disqus

 
Top