Bertemu Dan Di Doakan Gus Dur Dalam Mimpi Yang Mustajab Di Dunia Nyata

Bertemu Dan Di Doakan Gus Dur Dalam Mimpi Yang Mustajab Di Dunia Nyata

Secara pribadi saya memiliki pengalaman yang bisa saja pengalaman ini merupakan salah satu bagian dari keistimewaan Gus Dur. Saya menikah pada tahun 2005, saat usia saya 32 tahun, tujuh tahun lebih tua dari saat Rasulullah menikah.

Keinginan untuk segera memiliki anak setealah menikah begitu sangat kuat. Tidak hanya saya, tetapi juga isteri saya. Bulan pertama tidak ada tanda-tanda kehamilan.


Bulan kedua, ketiga, keempat…kedua belas, ternyata juga tidak ada tanda-tanda kehamilan. Kegelisahan semakin menyeruak, terutama di hati kami berdua. Lantunan doa-doa terus dipanjatkan. Upaya-upaya manusiawi, yang berasal dari bahan bacaan, saran teman, atau pengalaman dari orang lain, terus dilakukan semaksimal mungkin. Bulan ketiga belas, keempat belas, kedua puluh empat ( sudah dua tahun), semua upaya itu gagal. Ninil.

Tamu bulanan isteriku tetap saja datang dengan teratur, meski kami berdua saat itu sama sekali tidak menginginkannya. Dokter spesialis kandungan yang ada di kotaku sudah didatangi semua. Belum juga ada hasil. Gelisah, bingung, takut, cemas, dan berbagai rasa lain bercampur aduk dalam kelurga saya, meski sama sekali tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Terbayang beberapa teman yang sudah menikah lebih lama daripada saya, tetapi juga belum punya anak. Terbayang Nabi Zakariya yang dilukiskan oleh al-Qur’an sebagai Nabi yang sangat lama untuk memiliki keturunan. Doa Nabi Zakariya, Rabbi La> Tadzarni> Fardan wa Anta Arh}amur Ra>himi>n, saya baca ribuan kali setiap malam. Dan atas petunjuk KH. Hammad (Karay), doa itu juga dibaca setiap selesai shalat sebanyak 11 kali.

Sudah tiga tahun berlalu. Lantunan doa yang disertai dengan luapan emosi yang dalam dan air mata yang membanjir, terus kami panjatkan. Kami berdua juga tidak lupa untuk meminta doa dari ayah, adik-adik, anak yatim, para santri yang ada di pondok, termasuk guru spiritual saya. Hari-hari kami lalui dengan begitu lambat. Setiap akhir bulan, kami berdua terus berharap bahwa ‘tamu bulanan’ itu tidak datang, sebagai tanda sebuah kehamilan. Sebab saat itu, kedatangannya adalah musibah besar yang semakin menderaskan air mata. Segala kekuatan seakan-akan menjadi runtuh.

Di Bulan Ramadhan tahun ketiga, kami semakin meningkatkan kedekatan kepada Allah, dengan memperbanyak doa. Sebab berdasarkan sabda Rasulullah, bulan itu adalah bulan penuh berokah dan doa-doa akan dikabulkan. Rasa-rasanya, atau sepertinya, kami berdoa tidak memohon apa-apa kepada Allah, kecuali memiliki anak yang shaleh. Jenis kelaminnya terserah Allah. Tidak terlintas sama sekali ingin punya anak laki-laki atau perempuan.

Memasuki minggu ketiga, saya bermimpi Gus Dur datang ke rumah. Kami semua, termasuk mertua saya, berjabat tangan dengan beliau. Senang sekali. Meskipun itu ternyata hanya mimpi. Beberapa hari berikutnya, masih di bulan Ramadhan, memasuki minggu keempat, tepatnya tanggal 25 September 2008 atau tanggal 25 Ramadhan, saya bermimpi bertemu Gus Dur lagi. Saat itu, beliau seperti sedang berada di rumah sakit. Banyak orang di sekitar beliau. Saya mendekati beliau.

“Gus, saya sudah menikah selama tiga tahun. Tapi sampai sekarang masih belum punya anak”, saya mengatakannya di hadapan beliau.

“Berapa?” tanya beliau.

“Tiga tahun,” saya mengatakannya sampil mengacungkan jari sebanyak tiga.

Gus Dur—ghafarulla>h lahu wa rah}imahu—kemudian menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. Cukup lama beliau berdoa.

Ternyata, pada tanggal 6 November 2008, malam kamis, dua bulan dari mimpi tersebut, isteri saya benar-benar poisitf hamil (dengan usia kehamilan satu bulan lebih). Takbir dan tahmid bergema tiada henti di rumah tangga kami. Kata-kata apapun tidak akan sanggup mewakili kebahagiaan kami saat itu.

Pada hari ketujuh, anak saya yang berjenis kelamin laki-laki itu hendak diberi nama. Dari hari-hari awal kelahiran, nama Abdurrahman menjadi pilihan utama. Disampaing sabda Rasul bahwa nama itu adalah yang paling dicintai oleh Allah, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, juga ikut ‘berperan’ dalam kehamilan isteri saya. Kekhawatiran sempat muncul di hati, bahwa nama Abdurrahman ‘terlalu berat’ untuk anak saya. Malam sebelum tidur, saya shalat hajat dan shalat istikharah, memohon untuk bisa bermimpi Gus Dur lagi dan meminta izin untuk memberi nama anak saya Abdurrahman.

Gus Dur benar-benar datang dalam mimpi. Saat itu beliau sedang menerima tamu dari berbagai kalangan dan jumlahnya banyak sekali. Saya tidak sempat mendekati beliau. Setelah bangun, tiba-tiba saya berkesimpulan bahwa beliau merestui nama untuk anak saya yang pertama: Abdurrahman Wahid al-Awva.

Satu lagi. Anak saya tersebut lahir pada tanggal 16 Rajab, yang ternyata bertepatan dengan tanggal didirikannya organisasi besar Islam Indonesia oleh K.H. Hasyim Asy’ari: Nahdlatul Ulama. Semoga semua anak saya, dan keturunan saya menjadi hamba Allah yang shaleh dalam segala hal dan bahagian di dunia dan akhirat.

(penggalan Kisah diatas saya ceritakan di buku saya yang terbaru (agustus 2015) yang berjudul: Gus Dur, Mengarungi Jagat Spiritual Sang Guru Bangsa. Kata Pengantar Prof. Abd. A'la)
SHARE
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait

Post a Comment