Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasan Sumenep

Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasan Sumenep

Bagi anda yang pernah berkunjung ke Sumenep dan berwisata religi sepertinya kurang lengkap kalau anda tidak mampir dan mengunjungi makam Sayyid Yusuf, sebuah makam seorang ulama yang wafatnya pun tidak diketahui siapapun.

Jika anda hendak menuju ke Makam Sayyid Yusuf, anda harus menyebarang dahulu dengan perahu atau kapal tongkang yang muat untuk mobil, motor dan bis di pelabuhan Kalianget yang berjarak 11 km dari pusat kota Sumenep, karena Makam Sayyid Yusuf terletak di sebuah pulau yaitu Pulau Telango atau yang disebut juga dengan Pulau Poteran yang letaknya di bagian tenggara Kabupaten Sumenep.

Menurut cerita turun temurun asal mula Makam Sayyid Yusuf bermula pada tahun 1212 H (Tahun 1791 M) raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat, beserta rombongan/prajuritnya berangkat dari Keraton Sumenep. Maksudnya akan menyebarluaskan Agama Islam ke Pulau Bali.

Setibanya di Pelabuhan Kalianget, karena hari telah sore, maka beliau terpaksa bermalam, di sekitar jam 24.00 Sri Sultan Abdurrahman terkejut karena tiba-tiba melihat sinar/cahaya yang sangat terang, seakan-akan jatuh dari langit ke Bumi di sebelah timur Pelabuhan atau tepatnya di Pulau Poteran desa Telango Kecamatan Telango Kabupaten Sumenep.

Setelah sholat Subuh, Sri Sultan dengan pengikutnya naik perahu menuju pulau tersebut untuk mencari tanda jatuhnya sinar tersebut. Setibanya di pulau Poteran, Sri Sultan masuk hutan lalu mendapatkan tanda yang meyakinkan seakan-akan kuburan baru. Lalu beliau memberi salam dan salam beliau dijawab dengan suara jelas. Namun tidak ada yang menampakkan diri.

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman ingin mengetahui suara tersebut. Maka beliau munajat atau memohon kehadirat Allah SWT, tiba-tiba jatuhlah selembar daun diharibaannya dan setelah diperhatikan daun tersebut tertulis dengan tulisan Arab 'Hadza Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasani'.

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman memasang batu nisan dengan diberi nama sebagaimana yang terdapat atau tertulis pada daun tersebut. Setelah melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat beliau menancapkan tongkat beliau di dekat kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf dan tongkat tersebut hidup sampai sekarang menjadi pohon yang besar dan rindang.

Setelah beberapa lama kuburan atau pesarean diberi cungkup atau pendopo kecil tetapi hanya kuburan Sayyid Yusuf pindah dari sebelah timur dengan arti tidak menghendaki diberi cungkup.

Dan sekitar kurang lebih satu tahun, kemudian Sri Sultan Abdurrahman mendatangi lagi kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf untuk membangun pendopo di sekitar kuburan tersebut juga termasuk masjid Jami' Kecamatan Telango.
Jika anda kesana, anda akan menemukan sebuah pohon besar yang menaungi Makam Sayyid Yusuf tidak lain itu adalah sebuah tongkat Sri Sultan Abdurahman yang tertancap sehabis memakamkan beliau, sebelum pohon itu besar pernah Sri Sultan Abdurahman membuatkan cungkup atau peneduh diatas makam beliau tapi setelah keesokan harinya makamnya berpindah sedikit ke timur maka dari itu Sultan Abdurahman mengerti jika Makam tersebut tidak ingin diberi cungkup dan ingin menjadi makam yang terbuka dengan alam.

Makam Sayyid Yusuf yang kemudian dikenal dengan sebutan Asta Sayyid Yusuf.

Pada tahun 1986 didirikanlah sebuah yayasan dengan nama Yayasan Asta Sayyid Yusuf yang bergerak dibidang pendidikan mulai dari Madrasah Ibtidayah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan SMA dengan tujuan membantu siswa yang kurang mampu dan jauh dari tempat sekolah.
Demikian sekadar riwayat singkat Sayyid Yusuf dan dikutip dari sejarah wali-wali di Kabupaten Sumenep, Madura. (Sumber: Riwayat Singkat Sayyid Yusuf)



Baca Juga
ARTIKEL PILIHAN

Post a Comment