Al Imam Ali Zainal Abidin | Kabar Santri

0 Comment

Ali bin Husain, yang juga dikenal sebagai Ali Zainal Abidin, adalah salah seorang sufi yang paling masyhur sepanjang sejarah Islam. Selain karena kedudukan spiritualnya yang tinggi dan statusnya sebagai cucu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kemasyhurannya juga berasal dari penokohannya dalam tarekat-tarekat mu’tabarah seperti Qadiriyah dan Naqsybandiyah. Julukan Zayn al-’Abidin (hiasan para hamba) dan as-Sajjad (orang yang banyak bersujud) menggambarkan betapa penting posisi beliau dalam sejarah spiritual Islam.

Warisan intelektual dan spiritual Ali Zainal Abidin yang paling popular adalah ash-Shahifah as-Sajjadiyyah (Lembaran as-Sajjad). Doa-doa dan munajat-munajat yang terkandung dalam gita suci ini tak lain berasal dari ungkapan-ungkapan spontan Ali Zainal Abidin ihwal berbagai pengalaman batin yang dilaluinya. Pengamatan sepintas atas bahasa dan diksi kumpulan doa itu cukup untuk memperlihatkan nada spontanitasnya yang merekam emosi terdalam manusia.

Hampir semua doa yang tercantum dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyyah adalah riwayat yang disampaikan oleh para sahabat Ali Zainal Abidin. Para sahabat inilah yang secara langsung menyaksikan apa yang terjadi pada diri Ali Zainal Abidin saat doa-doa itu terucap dari mulut suci beliau. Satu dari sekian cerita dramatis yang dilaporkan Ibn Thawus berikut ini merupakan gambaran keagungan hati Ali Zainal Abidin.

“Saya pernah melihat Ali Zainal Abidin bertawaf mengelilingi Ka’bah sejak Isya’ hingga menjelang sahur. Setelah itu beliau melakukan berbagai ibadah lain. Ketika sudah tak ada seorang pun di sekitarnya, ia mulai menatap langit, menengadahkan tangannya lantas berdoa : “Tuhanku, berkelip-kelip sudah bintang-gemintang di langit-Mu, terpejam sudah mata para hamba-Mu, dan telah terbuka lebar pula berbagai pintu-Mu. Aku datang kepada-Mu agar Engkau sudi mengampuniku, merahmatiku, dan menampakkan wajah kakekku Muhammad SAW kepadaku kelak di hari kiamat”.

Sesudah itu beliau menangis tersedu-sedu, lalu kembali berdoa :
“Demi keagungan dan kemuliaan-Mu, kemaksiatanku sekali-kali tiada untuk menentang-Mu. Ketika aku bermaksiat kepada-Mu, maka itu bukan karena aku ragu kepada-Mu. Tidak pula itu karena aku tidak tahu bencana (akhirat)-Mu atau menantang siksa-Mu. Tetapi hal itu semata-mata karena aku digelincirkan oleh diriku. Karena itu, berilah aku pertolongan untuk menghadapi semua ini, melalui penutup-Mu yang memberi ketenteraman hati. Siapa kelak yang bakal menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dengan tali apa aku harus berpegang bila engkau putuskan tali-Mu? Oh, alangkah buruk nasibku ketika kelak berdiri di hadapan-Mu? Alangkah sial aku bila umurku panjang tetapi dosaku bertumpuk, sementara aku tidak pernah bertobat kepada-Mu? Tidakkah aku akan sangat malu pada-Mu, Tuhanku?”

Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika beliau melantunkan munajat berikut ini :
Apakah Engkau akan membakarku dengan api neraka, wahai puncak segala harapan? Jika memang demikian, dimanakah Harapanku dan di mana pula Keaksihku? Aku datang (kepada-Mu) dengan amal yang buruk dan penuh dosa. Di persada ini tiada yang begitu berdosa seperti aku”.

Sambil terus bercucuran air mata, beliau bertutur :
“Mahasuci Engkau! Engkau dimaksiati seakan-akan Engkau tiada tampak sementara kasih saying-Mu berupa perbuatan-perbuatan baik-Mu kepada para hamba tidak pernah terhenti, sekan-akan Engkau tak pernah dimaksiati. Seolah-olah Engkaulah yang membutuhkan mereka, padahal Engkau, wahai Junjunganku, sama sekali tiada membutuhkan mereka”.

Sebentar kemudian beliau tersungkur ke tanah dalam keadaan sujud. Pelan-pelan aku mendekatinya dan mengangkat kepalanya untuk kuletakkan di pangkuanku. Aku pun hanyut dalam tangis, sampai-sampai air mataku membanjiri pipinya. Beliau duduk dan berkata :

“Siapakah gerangan yang mengganggu zikirku ini?”

“Saya Thawus, wahai putra Rasulullah”, jawabku.

“Duhai, apa yang membuat Tuan sedemikian prihatin dan bersedih seperti ini ? Kamilah yang sepatutnya melakukan semua ini, lantaran kami adalah orang-orang yang bermaksiat dan berdosa. Sedangkan tuan adalah Ali Zainal Abidin. Ayah Tuaan adalah al-Husain bin Ali, cucu Rasulullah. Nenek Tuan adalah Fatimah az-Zahra. Dan ayah nenek Tuan adalah Rasulullah SAW”.

Sembari menatapku beliau berkata :
“Sudahlah Thawus … sudahlah. Jangan kau bawa-bawa ayah, ibu, dan kakekku. Sebab, Allah menciptakan surge bagi para pelaku kebaikan, sekalipun dia negro dari Habasyah. Dan menciptakan neraka bagi para pelaku kemaksiatan, sekalipun dia orang Quraisy. Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah yang artinya:

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (QS. Al-Mukminun : 101)

“Demi Allah, tiada yang bermanfaat bagimu kelak kecuali amal salehmu sendiri”.



Loading...

Post a Comment Disqus

 
Top