Al Habib Hasyim Bin Musyayakh Bin Yahya (Habib Tunggang Parangan)

Al Habib Hasyim Bin Musyayakh Bin Yahya (Habib Tunggang Parangan)

Menurut catatan sejarah Alawiyin dikenal tokoh Datuk Tunggang Parangan atau Habib Hasyim bin Musyayakh bin Abdullah bin Yahya yang lahirnya  di Tarim, Hadramaut Yaman Selatan, seorang ulama penyebar agama Islam di Kalimantan Timur. Makamnya berada di desa Kutai Lama Kabupatan Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Makam Habib Tunggang Parangan di Kutai Lama Kabupaten Kuta Kartanegara Kalimantan Timur
Habib Hasyim bin Musyayakh keluar dari Hadralmaut Yaman, hijrah untuk menyebarkan Islam  di Pulau Jawa, Pulau Sumatera kemudian kepulau Sulawesi. Disini Habib Hasyim bertemu dengan seorang ulama berasal Kota tengah kampar Riau yang telah lama menetap di Sulawesi bernama Khotib Tunggal Abdul Makmur bergelar Datuk Ribandang. Dari Sulawesi Habib Hasyim menuju negeri Matan (Ketapang) Kalimantan Barat. Disini Habib Hasim sebagai seorang ulama dikenal dengan gelar Habib Tunggang Parangan dan sebutan Si Janggut Merah.

Sementara menurut dokumentasi Wikipedia, disebutkan Habib Hasyim adalah seorang ulama Minangkabau yang menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai di Kalimantan bersama temannya Datuk Ribandang pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota yang memerintah dari tahun 1525 hingga 1589. Datuk Tunggang Parangan berperan besar dalam menyebarkan Islam bersama Sultan Aji Dilanggar atau Aji Gendung gelar Meruhum Aji Mandaraya yang memerintah setelah menggantikan ayahnya, Aji Mahkota sejak tahun 1589 hingga 1605, sehingga rakyat Kutai akhirnya memeluk Islam.

Diceritakan pula sebelum kedatangan Habib Hasyim di tanah Kutai pada abad ke-16, Islam pernah masuk kepedalaman Kutai dibawa oleh saudagar-saudagar Arab diantaranya Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar Al-Marzak ulama dari Minangkabau, terjadi pada zaman pemerintahan Raja Mahkota (meruhum Berjanggut Kawat). Ulama-ulama tersebut belum berhasil membujuk sang Raja untuk memeluk agama Islam.
 .
Dalam beberapa naskah bahwa pernah adanya dialog antara Raja Kutai, Raja Mahkota dengan Habib Tunggang Parangan, yang kemudian Raja tersebut memeluk agama Islam. Selanjutnya keperkasaan Raja Kutai cucu Raja Mahkota yakni (Aji) Ki Jipati Jayaperana bergelar Pengeran Sinum Panji Mendapa menyebar luaskan pengaruh Islam dan menaklukkan Kerajaan Hindu Martapura.

Mengacu kepada uraian di atas maka masuknya agama Islam ke Kerajaan Kutai yang dibawa oleh Datuk Tunggang Parangan dan Tuan Ribandang adalah pada masa pemerintahan Raja Mahkota.

Masuknya Islam ke tanah Kutai adalah pada masa pemerintahan Raja Mahkota, Raja Ke VI dari urutan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Dialog antara Datuk Tunggang Parangan dengan Raja Kutai Raja Makota adalah sebagaimana dikutip dari surat Silsilah Raja-Raja Kutai, deselesaikan oleh Tuan Khatib Muhammad Tahir pada tahun 1265 H. (satuislam.org)
SHARE
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait

Post a Comment