Al Habib Ali bin Ja’far Assegaf | Kabar Santri

0 Comment

Sang Penjaga Nasab Mulia

Perjumpaannya dengan Habib Abdurrahman Al-Masyhur meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Sang guru adalah teladan dalam kepedulian dan khidmah pada keluarga Alawiyyin. Baginya, dan bagi orang-orang yang sepertinya, berkhidmah pada keluarga besar ini sama saja dengan berkhidmah pada Rasulullah SAW.

Perjumpaannya dengan Habib Abdurrahman Al Al Habib Ali bin Ja’far Assegaf
Bicara tentang dunia habaib berarti berbicara tentang sebuah komunitas yang memiliki hubungan mata rantai genealogis dengan Rasulullah SAW. Kaitan hubungan yang ada itu disebut dengan istilah “nasab” atau “silsilah”.

Dalam keluarga besar komunitas habaib, nasab atau silsilah memiliki tempat yang sangat istimewa dan teramat penting. Bukan untuk berbangga-bangga tentunya, tapi justru sebagai pengingat bahwa mereka memanggul beban amanah yang tidak ringan. Dengan nasab yang terpercaya keshahihannya itu ia memahami bahwa dalam dirinya mengalir darah keturunan keluarga besar Ahlul Bait Rasulullah SAW yang meniscayakan agar hendaknya keutamaan akhlaq dan ilmu berpadu dalam dirinya.

Tokoh kita kali ini, Habib Ali bin Ja’far Assegaf, adalah tokoh yang tak boleh terlepas dari pembicaraan sejarah pemeliharaan nasab habaib. Setelah berlalunya masa demi masa pencatatan nasab keluarga besar ini, dialah tokoh yang meski dilahirkan di belakangan hari, tapi memiliki peran sentral di dalamnya. Dialah yang mendirikan Maktab Ad-Daimi, badan pencatat dan pemelihara nasab Alawiyyin, lembaga otonom dalam lingkungan organisasi Arrabitah Al-Alawiyah dan kemudian Maktab Ad-Dai, yang juga merupakan institusi nasab yang ia dirikan secara pribadi, setelah ia memilih untuk tidak aktif lagi di Maktab Ad-Daimi.

Kontinuitas kemurnian nasab Alawiyyin hingga saat ini amat terbantu lewat jerih payah Habib Ali bin Ja’far di masa hidupnya, yang tanpa kenal lelah menyambangi hampir setiap wilayah bumi Nusantara, bahkan hingga di sejumlah tempat Asia Tenggara, India, Afrika, dan jazirah Timur Tengah. Buah dari perjalanan panjangnya itu tertuang dalam karya masterpiece-nya, kitab Asy-Syajarah Al-‘Alawiyyah, yang kini menjadi buku induk atau buku pedoman lembaga pemeliharaan nasab Alawiyyin.

Dari waktu ke waktu, begitu banyak pribadi habaib yang dikenal luas di tengah-tengah masyarakat Nusantara, baik dalam lingkup lokal maupun nasional. Mereka dikenal dan dicintai, salah satunya, karena nasab yang mereka miliki. Karenanya, menjadi ironis bila seorang Habib Ali bin Ja’far Assegaf, yang menjadi sosok yang sangat berjasa dengan berkhidmat demi keterpeliharaan nasab sekian banyak tokoh habaib itu sendiri justru terlupakan.

Latar Belakang Keluarga

Habib Ali bin Ja’far Asseggaf lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada tanggal 22 Rabi’ul Awwal 1307 H/16 November 1889 M. Dari garis silsilah keluarganya, ia generasi pertama yang lahir di Nusantara.

Kakeknya, Habib Syech bin Sagaf bin Ahmad Aseggaf dikenal sebagai seorang yang ‘alim di masanya, yang lahir pada 1258 H/1842 M dan wafat 1322 H/1905 M di Sewun, Hadhramaut, Yaman Selatan.

Habib Syekh bin Segaf Assegaf memiliki beberapa saudara, di antaranya Habib Husein. Habib Husein berputra Habib Abdul Qadir, ulama besar tempo dulu di kota Pasuruan, menantu Habib Ja’far bin Syekhan Assegaf.

Habib Abdul Qadir bin Husein mempunyai beberapa anak, salah satunya adalah Ustadz Taufiq, dai terkenal di Pasuruan saat ini. Jadi, meski Ustadz Taufiq terbilang masih berusia muda (sekitar 50-an), tapi “pangkat” nasabnya tergolong tua. Sebab, Ustadz Taufiq merupakan saudara sepupu dua kali (mindon kata orang Jakarta atau mindonan kata orang Jawa) Habib Ali bin Ja’far Assegaf, lantaran kakek mereka berdua, yaitu Habib Husein dan Habib Syekh, adalah saudara kakak beradik.

Dalam pengelompokan nasab keluarga, mereka termasuk dalam cabang Al (keluarga) Ahmad Maula Maryamah. Lebih spesifiknya lagi, kelompok Al-Fargasy. Ahmad Maula Maryamah adalah leluhur Habib Umar yang ke-13, sedangkan Al-Fargasy menunjukkan bahwa cabang keluarga Assegaf Al-Ahmad Maula Maryamah ini berasal dari jalur keturunan Habib Abdullah bin Ahmad Assegaf, leluhur Habib Ali yang ke-7.

Kembali pada kakek Habib Ali, yaitu Habib Syekh bin Segaf, ia mempunyai beberapa anak, yaitu: Ja’far, Muhammad, Ali, Abdul Qadir, Ahmad, Hasan, Abdullah, dan Bahiyah.

Suatu saat, empat putra Habib Syekh (Ja’far, Muhammad, Ali, Abdul Qadir), yang semuanya kelahiran Sewun, Hadhramaut, mengadakan perjalanan ke Nusantara. Mereka masuk lewat Palembang. Setelah beberapa lamanya hidup bersama di Palembang, mereka berempat pun berpisah.

Habib Ali dan Habib Abdul Qadir meneruskan perjalanan, dan kemudian menetap di Pasuruan. Hingga wafatnya mereka tak meninggalkan keturunan. Habib Muhammad hijrah ke Singapura dan membina rumah tangga di sana hingga beranak pinak. Sebagian keturunannya saat ini berada di Johor, Malaysia. Sementara itu Habib Ja’far, ayah Habib Ali, mulai membangun rumah tangga di Palembang. Di Kota Pempek ini, ia menikah dengan Syarifah Futhum binti Alwi bin Ahmad Assegaf (Al-Ali bin Abdullah) dan dikaruniai tiga putra: Abdullah, Ahmad, dan Ali.

Habib Abdullah, dalam keadaan terdesak di zaman Jepang, hijrah ke Lampung dan, konon, ia wafat di sana, di suatu daerah bernama Pring Sewu. Sebagian keturunannya saat ini ada di Palembang dan Sukabumi. Saudara Habib Abdullah, yang bernama Ahmad, meninggal saat kecil. Yang satunya lagi, yaitu Habib Ali, dialah tokoh yang sedang disebutkan manaqibnya ini. Seorang tokoh nassabah (pakar nasab) kebanggaan Alawiyyin dan rujukan utama mereka dalam pencatatan nasab.

Setelah lama menetap di Palembang dan anak-anaknya pun mulai beranjak remaja, ayah Habib Ali hijrah ke Jakarta. Di Jakarta ia menikah lagi dengan Syarifah Rugayyah binti Abdullah bin Husin bin Abdurrahman Bin Sahl Jamalullail.

Dari pernikahan tersebut lahirlah Syarifah Khadijah dan Habib Umar, seorang tokoh ulama yang banyak berdakwah di wilayah Bogor dan sekitarnya. Salah seorang cucu Habib Umar, yakni Habib Hasan bin Ja’far, adalah seorang dai muda yang dikenal lewat majelis Nurul Musthafa. Mengutip catatan Habib Ali bin Ja’far, adiknya ini (yaitu Habib Umar bin Ja’far) lahir pada 1331 H, atau 1913, bila dikonversi dalam hitungan masehi.

Sang ayah, Habib Ja’far, kemudian pindah lagi ke daerah Cicurug, Sukabumi, hingga wafat di sana, pada zaman penjajahan Belanda.

Teladan dari Mufti Hadhramaut

Habib Ali bin Ja’far menghabiskan masa kecilnya di Palembang. Dalam usia yang masih belia menjelang remaja, sebagaimana kebiasaan sebagian kalangan orangtua Alawiyyin, ia dikirim ke Sewun, Hadhramaut, tempat kelahiran ayahnya.

Di antara gurunya pada masa itu adalah Al-Allamah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Syihabuddin, ulama besar Hadhramaut dan mufti negeri itu di masanya. Habib Abdurramman menghasilkan banyak karya, yang sangat terkenal adalah kitab kumpulan fatwanya, Bughyah al-Mustarsyidin, yang sekarang ini banyak dikaji di pesantren-pesantren. Lalu, Syams az-Zhahirah, sebuah kitab nasab keluarga Alawiyyin, yang juga merupakan salah satu kitab penting dalam dunia nasab Alawiyyin. Dari sini, tampaklah bahwa sang guru rupanya bukan hanya mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, tapi seorang yang juga ahli dalam ilmu nasab.

Meski hanya sempat berjumpa beberapa tahun saja, pertemuan Habib Ali dengan Habib Abdurrahman Al-Masyhur meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Di matanya, sang guru adalah seorang teladan dalam berkhidmah pada keluarga besarnya. Di sela-sela kesibukan waktunya sebagai seorang mufti, gurunya itu masih mau menyibukkan diri untuk mencatatkan nasab keluarga besarnya. Dan berkhidmah pada keluarga besar ini sama saja dengan berkhidmah pada Rasulullah SAW.

Di tanah leluhurnya itu, Habib Ali bin Ja’far selama beberapa tahun memanfaatkan waktunya untuk mengkaji dan mempelajari kitab nasab tersebut secara teliti dan menyeluruh. Termasuk yang dikajinya saat itu adalah tiga jilid kitab Syajarah Alawiyyah karya gurunya tersebut. Tiga jilid kitab nasab itu merupakan kelanjutan catatan cabang-cabang nasab yang tercantum dalam Syams az-Zhahirah.

Di kemudian hari, tiga jilid kitab nasab tersebut penjilidannya disusun menjadi tujuh jilid, disesuaikan dengan tujuh jilid Syajarah Alawiyyah-nya Habib Ali bin Ja’far. Tampaknya itu dimaksudkan agar menjadi mudah bagi yang ingin mencocokkan data di antara dua kitab tersebut, dan lebih mudah pula untuk digunakan karena menjadi tidak terlalu tebal.

Saat Habib Ali bin Ja’far pulang ke Indonesia, ia pun membawa tiga jilid kitab nasab tersebut. Berpijak kepada kitab-kitab karya sang guru dan berbekal ilmu nasab yang dipelajarinya di sana kala itu, ia melanjutkan pencatatan nasab keluarga Alawiyyin hingga pada generasi terakhir, dan melengkapinya dengan berbagai catatan tambahan.

Sensus Alawiyyin

Saat melakukan aktivitasnya, mendata keluarga-keluarga Alawiyyin di berbagai pelosok, seringkali ia melakukannya seorang diri, meski dengan membawa bekal yang relatif banyak, baik kitab-kitab maupun perlengkapan pribadinya. Ia mengarungi berbagai medan yang beragam lagi berat, baik sungai, laut, hutan, dan gunung dengan perjalanan yang memakan waktu yang tentu tak singkat. Untuk orang zaman sekarang, jangankan pernah mendatangi daerah-daerah itu, mendengar namanya pun jangan-jangan belum. Sebut saja Champalegian, Notan, Tehoro, Zanana, Sula, Pambuang Hulu, Benda Kerep, dan banyak lagi nama tak familiar lainnya.

Banyak daerah terpencil yang didatanginya saat itu, yang hingga saat ini pun masih relatif sulit dijangkau. Terkadang, apa yang dijalani Habib Ali ini agak sulit dibayangkan akal sehat. Bila di zaman teknologi transportasi maju ini saja masih terasa sangat sulit mencapai daerah-daerah itu, lalu bagaimana ia dapat mencapai semua daerah itu di tahun 1930-an, dan mencatat data setiap individunya secara terperinci dan sistematis?

Habib Ali melaksanakan sensus Alawiyin sejak tahun 1932 dan selesai pada tanggal 28 Januari 1940 M. Itu adalah sensus Alawiyyin yang pertama yang dilakukannya dengan berkeliling Nusantara. Individu yang tercatat saat itu adalah 17.764 orang. Sekitar tahun 1954, ia mengadakan sensus Alawiyyin yang kedua kalinya. Tercatat pula, sensus Alawiyyin ini terlaksana atas bantuan Habib Syech bin Ahmad Bin Syihabuddin.

Sensus dilakukan per daerah yang memuat secara rinci data komunitas Alawiyin, baik daerah, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, umur, kemampuan berbahasa (Arab, Indonesia, Belanda), kemudian dihimpun dalam satu buku yang menyajikan data tersebut secara tertib. Buku ini berukuran cukup besar dan juga berhalaman tebal karena menyebutkan nama satu individu hingga beberapa generasi ke atas serta dengan keterangan-keterangan yang lengkap. Sebagai contoh sensus daerah Betawi, sensus daerah Surabaya, sensus daerah Palembang, dan seterusnya.

Dari buku sensus per daerah ini selanjutnya disusunlah satu risalah tipis yang menjadi rekapitulasi sensus Alawiyyin tersebut, yang hanya memuat nama daerah, jumlah Alawiyin yang ada di suatu daerah, serta nama qabilah-qabilah yang ada di daerah tersebut.

Semua data hasil sensus tersebut lalu dihimpun Habib Ali bin Ja’far dan ditulis dengan sistematika penulisan yang merujuk pada kitab nasab karya gurunya, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, menjadi tujuh jilid kitab Syajarah Alawiyyah. Jadi, Syajarah Alawiyyah karya Habib Ali bin Ja’far ini merupakan catatan kelanjutan dari Syajarah Alawiyyah-nya Habib Abdurrahman Al-Masyhur.

Kitab Induk Nasab Alawiyyin

Kitab nasab ini memuat dengan rinci semua keluarga Alawiyin yang tersebar di berbagai negara yakni Indonesia, Semenanjung Melayu, Singapura, Yaman Selatan dan Utara, Afrika, India, Oman, Makkah, Madinah, dan lain lain. Kitab ini sempat ditulis ulang di Singapura, sama persis dengan yang asli, hanya saja berbeda dalam style tulisannya.

Selanjutnya pada tahun 1954 didirikan Lembaga Pencatatan, Penelitian, dan Pemeliharaan Nasab Alawiyin yang dinamakan Al-Maktab Ad-Daimi, yang berpusat di Jakarta. Karena Habib Ali bin Ja’farlah yang dianggap menguasai ilmu nasab saat itu, maka tidak ada orang yang pantas menduduki jabatan ini kecuali dirinya, maka ia pun diangkat sebagai ketuanya dan wakilnya adalah Habib Hasyim bin Muhammad Al-Habsyi. Sebagai penasihat, ditunjuk dua ulama terkemuka saat itu yang juga memiliki sejumlah karya terkait ilmu nasab, yaitu Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad (kelak menjadi Mufti Johor) dan Habib Ahmad bin Abdullah Ash-Shafi Asseggaf, penulis kitab Khidmah al-‘Asyirah, ringkasan Syams az-Zhahirah.

Di masa kepengurusan awal Al-Maktab Ad-Daimi, Habib Ali bin Ja’far menyerahkan buku tujuh jilid yang ia bawa dari Hadhramaut karya Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur kepada lembaga Al-Maktab Ad-Daimi, sementara kitab tujuh jilid karya Habib Ali bin Ja’far Asseggaf tetap di tangannya dan itu menjadi pegangan pribadinya saat mendirikan Al-Maktab Ad-Dai. Sepeninggal Habib Ali, kitab tersebut diserahkan pihak keluarga Habib Ali kepada pengurus Maktab Daimi.

Dari tujuh jilid kitab Habib Ali bin Ja’far tersebut kemudian penulisan dan penjilidannya dikembangkan menjadi buku besar kitab induk nasab dan dibuat empat rangkap yakni satu untuk di Jakarta, Pekalongan, Surabaya, dan di Palembang. Buku pengembangan kitab nasab Habib Ali bin Ja’far inilah yang saat ini dijadikan sebagai buku induk dalam pencatatan dan penelitian untuk menentukan kebenaran nasab setiap individu Alawiyin.

Setelah ia tiada, sebenarnya ada pribadi-pribadi Alawiyyin yang melanjutkan usaha-usahanya dalam pencatatan nasab Alawiyyin, namun amatlah sulit –untuk tidak mengatakan tidak ada– orang yang setara dengannya dalam usaha melestarikan pemeliharaan nasab keluarga besar dzurriyah Rasulullah SAW.

Sifat Kasih pada Sesama

Dalam buku biografi Habib Ali bin Ja’far Assegaf yang belum lama ini diterbitkan, disebutkan, jika datang ke suatu tempat banyak sekali orang-orang yang menemuinya, baik yang berurusan dengan nasab ataupun bahkan orang-orang desa yang datang membawa air untuk didoai olehnya.

Dalam kesehariannya, hampir setiap hari ia ke pasar untuk berbelanja kebutuhan masak sehari-hari. Sesekali Habib Ali membeli kambing lalu memotongnya sendiri dan memakan empedunya mentah-mentah yang merupakan ciri khas sebagian kalangan Alawiyyin terdahulu. Setelah ia memasaknya sendiri, dan menatanya di bale-bale teras rumah, ia mengundang sanak keluarga untuk makan bersama-sama. Ia bahkan akan mengundang setiap orang yang berlalu lalang di depan rumahnya untuk ikut makan bersama.

Pertengahan tahun 1960 dari Purwokerto, Habib Ali pulang ke Jakarta menggunakan kereta api seorang diri, membawa begitu banyak kitab, terutama kitab-kitab nasab. Dalam usia yang sudah tergolong amat sepuh untuk sebuah perjalanan jauh seorang diri, yaitu 71 tahun, tentu saja tenaga dan kekuatan fisiknya sudah sangat lemah. Sesampainya di stasiun Senen, Jakarta, ia yang sedang membawa banyak kitab itu terjatuh. Dengan bersusah payah akhirnya sampai juga ia ke rumahnya, di Jln Kebon Kacang III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sejak itu, ia jatuh sakit dan tak dapat kemana-mana lagi. Namun dalam keadaan yang sudah sangat lemah ini, ia masih saja berkutat dalam peliknya pemeliharaan nasab.

Shafar 1382 H/Juli 1982 M, sampai juga waktunya sang penjaga nasab mulia ini dipanggil ke haribaan Allah SWT, dengan meninggalkan mahakarya yang sangat luar biasa bagi segenap keluarga Alawiyyin Nusantara, bahkan di seantero dunia. Kesungguhannya dalam menjaga nasab mulia ini berpadu dengan penguasaan dan kejeniusannya dalam ilmu nasab, membuat karya peninggalannya bak sebuah buku hidup yang dapat “berkomunikasi aktif” dengan para penggiat nasab di kemudian hari.

Jenazah mulianya dimakamkan di Pekuburan Karet wakaf (sekarang masuk dalam kompleks sekolah Said Naum), Tanah Abang, yang kemudian dibongkar dan dipindahkan di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, ke pekuburan Umum Karet. Sampai saat ini, makamnya tak diketahui letak pastinya karena saat pembongkaran makam, keluarganya tak diajak berunding.

Semasa hidupnya, Habib Ali bin Ja’far menikah dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah bin Abdul Ma’bud bin Khidhir bin Jarjis bin Ahmad Al-Kazhimi Al-Baghdadi, di Jakarta. Dari hasil pernikahannya ini, ia dikarunia enam putra dan putri, yaitu Mushthafa, Maryam, Wasilah, Ahmad, Muhammad, dan Syekhah. Ia juga menikah dengan Syarifah Khadijah (Ibu Tejun) binti Abdullah Bin Yahya, dan memiliki dua anak, yaitu Raguan dan Salwa (meninggal di masa kanak-kanak).

Saat ini, Syarifah Raguan adalah satu-satunya anak Habib Ali bin Ja’far yang masih ada dan tinggal di Tuban, Jawa Timur. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haul Habib Ali bin Ja’far, yang baru pertama kali diadakan pada 8 Desember 2013 tempo hari, dilaksanakan di kota Tuban, yaitu tepatnya di kediaman putri Habib Ali bin Ja’far tersebut. Rencananya, haul Habib Ali bin Ja’far Assegaf ini akan secara rutin diselenggarakan setiap Ahad pertama bulan Shafar di setiap tahunnya.



Dok. alKisah

Loading...

Post a Comment Disqus

 
Top