Al Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri

Al Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri

Berdakwah di Daerah Pinggiran

Dakwah ke daerah terpencil dan pinggiran kota menjadi langganan Habib Ali Jufri. Tantangan medan dakwah yang berat, ia jalani dengan sikap penuh ketegaran dan keikhlasan untuk mensiarkan dakwah Islam

Berdakwah dalam mensyiarkan ajaran Islam tentu tak kenal tempat. Bisa berdakwah lewat jalur pendidikan, media, taklim, mendirikan pesantren, menjadi dai dan lain-lain. Namun, bagi Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri ini, berdakwah ke daerah pinggiran kota, dengan medan alam pegunungan dan jalan sulit dijangkau menjadi keunikan tersendiri bagi habib yang telah berusia 65 tahun ini. Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri dikenal sebagai dai yang menggarap wilayah kecamatan Paninggaran dan sekitarnya, sebuah daerah terpencil, pegunungan sekitar 20 kilometer arah selatan kota Pekalongan.

Walaupun, usianya tak tergolong muda lagi ini semangat dalam berdakwah mensyiarkan ajaran Islam ke daerah-daerah yang sulit terjangkau. ”Tantangan dalam berdakwah adalah medan yang sulit, karena memang dijangkau oleh kendaraan umum atau mobil tidak bisa,” kata Habib Ali Al-Jufri.

Maka terpaksa, sang Habib ini naik ojek bersama, bersama Habib Abdurahman bin Shihab, Habib Ali bin Syekh bin Shihab dan lain. “Terpaksa kadang –kadang turun memakai ojek. Terjadi kasus-kasus yang lapor kepada saya, tentang penggundulan hutan. Rombongan turun untuk memberantas. Saya menjawab itu adalah urusan Bupati atau Kapolres. Saya hanya sekedar guru mengaji saja. Saya jangan dilibatkan ke situ,” kata bapak tujuh putri dan dua putra ini kepada alKisah.

Habib Ali Al-Jufri sedari kecil telah dididik dalam lingkungan keluarga yang sarat religius. Ia pertama menempuh pendidikan tingkat Madrasah sampai Tsanawiyah di Mahad Islam, Pekalongan dari tahun 1950-1959. Kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Darul Hadits, Malang di bawah bimbingan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih selama lima tahun dari 1959-1964. Lepas dari Darul Hadits ia kemudian menjadi santri Pendidikan Islam Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah selama dua tahun dari 1964-1966 dibawah bimbingan Habib Idrus Al-Jufri.

Setelah menempuh pendidikan, ia kemudian berdakwah di sekitar rumahnya yang terletak di Jl Agus Salim No 22 tiap hari Sabtu awal bulan Islam (Qamariah). Sejak empat tahun terakhir ini, ia diminta oleh warga sekitar kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan untuk membina masyarakat. Habib Ali setelah didesak beberapa kali untuk berdakwah di daerah pegunungan paling selatan Kabupaten Pekalongan, sudah berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Dengan dakwah yang lembut dan selalu mengajak serta menyertakan tokoh-tokoh masyarakat setempat, akhirnya dakwahnya bisa diterima masyarakat dan semakin berkembang. Awal berdakwah hanya satu desa, sekarang telah berkembang menjadi sekitar 20 desa binaan.

Sikap istiqamah untuk murni hanya berdakwah ini ditunjukan oleh Habib Ali dengan tidak tergiur dengan berbagai tawaran politik atau dagang dari berbagai pihak. “Saya ingin berdakwah saja, tidak mau dilibatkan dalam urusan politik atau dagang. Walau saya didesak untuk dagang, katakanlah ada jama’ah membawa barang dagangan dengan mengatakan,’Ini adalah barang dagangan milik Habib Ali’. Saya selalu katakan, ‘Jangan saya dilibatkan urusan dagang, saya ingin murni berdakwah.’ Ini semata-mata untuk menjalin keakraban saya dengan masyarakat di Paninggaran dan sekitarnya,” kata Habib Ali.

Kendala lain dalam berdakwah adalah justru dari kalangan umat Islam sendiri. “Adanya paham-paham yang tidak sepaham dengan Aswaja (Ahlussunnah Wal Jama’ah), dimana mreka menyamar dengan pakaian sorban, dan menginap di masjid, tapi kemudian melakukan indoktrinasi terhadap warga muslim,” katanya.

Untuk itu, saya selalu mengatakan pada jama’ah “Kalau sekedar menginap di masjid, hormati. Tapi kalau akan mengindoktrinasi sesuatu, tolong ditolak saja,“lanjut alumnus Darul Hadits, Malang ini dengan tegas.

Sumber : http://syahiircenter.blogspot.com/p/kisah-ulama.html


Setya Sastrodimedjo
SHARE
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait

Post a Comment