Syekh Abdurrahman Al-Khalidi Dan Sejarah Silat Kumango

Syekh Abdurrahman Al-Khalidi Dan Sejarah Silat Kumango

Silat Kumango ialah salah satu seni beladiri hasil dari kebudayaan masyarakat Minangkabau. Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa narasumber, asal nama “Kumango” pada Silat Kumango berasal dari nama tempat tempat Silat ini tumbuh dan berkembang yaitu Nagari Kumango yang terletak di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Berbicara wacana sejarah dan perkembangan Silat Kumango tidak lepas dari pengalaman dan usaha dari Syekh. Abdurrahman Al-Khalidi, yaitu seorang putra asli dari Nagari (desa) Kumango.

Syekh. Abdurrahman Al-Khalidi dilahirkan pada tahun 1802 masehi, memiliki nama kecil Alam Basifat. Sebelum dia menjadi guru besar silat dan guru besar agama Islam dia ini ialah seorang cowok Kumango yang sangat berani dan pantang kalah dalam hal apapun. Oleh alasannya ialah itu dia sangat desegani dan ditakuti oleh orang-orang seumuran beliau. Karena sifatnya yang ibarat itu banyak pemuda-pemuda yang tidak bahagia dengan beliau, sehingga tiba niat jahat untuk menghabisi dia dengan membacok dia dari belakang ketika dia berdiri untuk sholat subuh. Setelah menghabisi beliau, pemuda-pemuda tersebut pergi meninggalkan tempat insiden (surau) dengan bahagia hati. Belum jauh pemuda-pemuda itu pergi dari tempat kejadian, tiba-tiba terdengar kumandang adzan subuh di tempat insiden (surau). Ternyata yang adzan ialah dia (Syekh. Abdurrahman Al-Khalidi). Alangkah terkejutnya pemuda-pemuda tadi, ternyata yang dibacok dan dicincang mereka ialah sebuah batang pisang. Kemudian dengan secepat kilat dia menghilang dari pandangan pemuda-pemuda tadi.

Karena merasa terancam sehabis insiden tersebut dia pergi dan menghilang dari Nagari Kumango, sebelum pergi dia sempat minta izin kepada isterinya yang sedang mengandung anak dia tiga bulan. Beliau pergi tanpa tujuan. Tak seorang pun masyarakat Nagari Kumanago mengetahui kemana dia pergi, termasuk isterinya. Sepeninggal beliau, pada tahun 1852 lahirlah seorang anak pria (yang kini bermakam sempurna di sebelah dia di Surau Subarang Kumango). Anaknya dia beri nama (setelah berjumpa ketika anak dia sudah dewasa) M. Dalil Angku Gadang.

Berpuluh-puluh tahun kemudian masyarakat kumango mendapat kabar bahwa salah seorang dari Nagari Kumango menjadi guru besar silat dan pengembangan pedoman agama Islam di Negara Malaysia. Mendengar kabar tersebut, pihak keluarga dan masyarakat pribadi mengirimkan surat kepada dia untuk kembali ke Nagari Kumango. Beliau membalas surat tersebut dan menyatakan ingin kembali ke Nagari Kuamango dengan seruan semoga dibangun sebuah surau di belakang kampung ditepi sungai. Dengan bahagia hati dan penuh semangat keluarga dan masyarakat di Nagari Kumango menyebarkan sebuah surau sesuai dengan seruan beliau. Setelah surau telah selesai dibangun, dia kembali di kirimi sebuah surat ke Malaysia oleh keluarga dan masyarakat Nagari Kumango. Konon pada waktu itu dia sudah menikah lagi di Malaysia dan memiliki empat orang anak. Beberapa tahun kemudian, kesannya dia kembali ke Nagari Kumango dengan membawa seorang anaknya dari Malaysia yang berjulukan Angku Saleh.
Surau Subarang Kumango

Pada awalnya surau tersebut beratapkan ijuk, yang dia namakan surau bulek. Setibanya di Nagari Kumango dia lansung menuju surau yang telah dibuatkan oleh keluarga dan masyarakat yang kemudian dia beri nama Surau Subarang. Kemudian masyarakat beramai-ramai bersama dia untuk menimba ilmu yang dia anut yaitu agama Islam dengan pengajiannya yang berjulukan tarekat Samaniyah-Naqsabandiah-Khalidiah dan Silat Kumango yang ajarannya didapat dia sewaktu dia berada di Mekkah yang pegajiannya di Jabal Qubis didapat dari gurunya Syekh. Bahaudin Sanaq Sabandiah, sedangkan pelajaran silat diambil lansung di makam Rasulullah dengan gurunya Syekh. Saman dan Nabi Qoidir.

Silat kumango sangat erat hubungannya dengan agama islam dan pengajian yang diamalkan yaitu tarekat Samaniyah yang falsafahnya dalam bahasa Minangkabau berbunyi :
silek lahia mancari kawan
silek bathin mancari Tuhan

Yang artinya ialah secara lahiriah Silat Kumango bertujuan untuk mencari teman, bukan untuk mencari musuh. Berguna untuk bertahan apabila diserang oleh musuh. Sedangkan secara lahiriah Silat Kumango semata-mata hanya berfungsi mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan menjalani perintahnya dan menjauhi larangannya. Hal ini senada dengan falsafah hidup masyarakat minangkabau yaitu :
Adat Basandi Syarak
Syarak Basandi Kitabullah

Yang maknanya moral bersendikan syari’at (agama), agama bersendikan Kitabullah (Al-Quran).
Inilah dasar dari pengajian dan Silat Kumango yang kini sudah berkembang ke luar Nagari Kumango, bahkan ketika ini Silat Kumango sudah berkembang hingga ke luar negeri ibarat Malaysia dan Belanda. Saat ini banyak murid-murid dari pengajian yang berasal di luar Nagari Kumango sering berdatangan ke Nagari Kumango, tepatnya ke Surau Subarang, mereka berziarah untuk mengenang jasa yang dia tinggalkan yaitu silat dan pengajian tarekat yang telah diamalkan oleh murid-murid dan jemaah hingga sekarang. Dari dulu hingga kini acara silat dan pengajian selalu dilakukan bersamaan di Surau Subarang. Tetapi ketika ini kegitan Silat sudah sangat jarang dilakukan dikarenakan oleh beberapa hal. Hanya pengajian tarekat yang kini rutin dilakukan pada setiap kamis malam yang gurunya terdiri dari guru-guru tuo silek di Nagari Kumango.
Baca Juga
ARTIKEL PILIHAN

Post a Comment