Habib Ahmad Bin Hamid Al-Kaaf, Seorang Wali Masthur | Kabar Santri

0 Comment

Kabar Santri ~ Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Palembang. Banyak ulama dari aneka macam penjuru Nusantara mengaji kepada beliau.

Ada pendapat, Palembang sanggup di ibaratkan sebagai Hadramaut (markas para Habib dan Ulama besar). Sebab di Palembang memang banyak Habib dan Ulama besar, demikian pula makam-makam mereka. Salah seorang diantaranya ialah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaaf, yang juga dikenal sebagai wali masthur. Iaitu wali yang karamah-karamahnya tersembunyi. Padahal karamahnya cukup banyak.

Salah satu karamahnya ialah ketika dia menziarahi orang bau tanah dia (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah AL-Jufri) di kampung yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan lebat dan deras. Untuk bebrapa ketika dia mengibaskan tangan dia ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujanpun reda.

Nama dia ialah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai di ajal dia tinggal di jalan K.H. Hasyim Asy’ari No. 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil dia diasuh oleh Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas.

Uniknya, hampir setiap pagi buta, Habib Ahmad Al-Attas menjemput muridnya ke rumahnya untuk shalat subuh berjama’ah alasannya ialah sangat menyaynginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Alatas. Ketika usia 7 tahun ketika belum dewasa lain duduk di kelas satu madrasah Ibtidaiyyah, Habib Ahmad mencar ilmu ke Tarim Hadramaut Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah-yang dekat dipanggil Endung.

Di sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun dia mengaji kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru dia ialah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Maulid Simtuth Durar. Selama mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi , dia mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapat sarapan 3 butir kurma. Selain kepada Habib Ali , dia juga mencar ilmu tasawuf kepada Habib Alwi bin Abdullah Shahab.

Sedangkan sepupu dia Habib Endung mencar ilmu fiqih dan ilmu-ilmu alat mirip nahwu, sharaf dan balaghah. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun . Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff . meski usianya belum genap 20 tahun namun dia sudah mulai dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta’lim. Dua diantara murid dia yakni Habib alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan mubaligh.

Selain di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa tempat di tanah air, contohnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid dia yang kemudian dikenal sebagai ulama ialah habib Salim bin ahmad bin Jindan ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 1969.

Empat Pertanyaan

Ketinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad, ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang habib dari Palembang (Habib Ahmad bin Zen bin Syihab) dan rakan-rakannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan hikmahnya.

Mengetahui bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan impulsif Habib Alwi berkata, “Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff ?. Buat apa kalian jauh-jauh tiba ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku ? Saya pernah bertemu dia di dalam mimpi”. Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari pegawanegeri penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada Rasulullah SAW, dan malam harinya dia bermimpi bertemu Rasulullah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang pria yang wajahnya bercahaya.

Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini”. Dialah Habib Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan problem yang dihadapinya kepada Habib Ahmad al-Kaff- yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad al-Kaff.

Sebagaimana para waliyullah yang lain, Habib Ahmad al-Kaff juga selalu mengamalkan ibada khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari 100.000 kali. Selain itu dia juga menulis sebuah kitab perihal tatacara menziarahi guru dia Habib Ahmad Alatas. Beliau juga mewariskakn pesan spiritual yang disebut Pesan Pertanyaan yang empat, yaitu empat pertanyaan mengenai ke mana tujuan insan sehabis meninggal.

Lahirnya empat pertanyaan tersebut bermula ketika Habib Ahmad al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu dia berkata, “Aku belum hendak bersenang-senang sebelum saya tahu apakah saya akan mengucapkan kalimat tauhid di simpulan hayatku. Apakah saya akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah saya akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim”. Itulah yang dimaksud dengan “empat pertanyaan” yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya.

Habib Ahmad al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil simpulan 1275H/1955M. Jenasah dia dimakamkan di komplek pemakaman Telaga 60, 14 Hulu Palembang. Beliau meninggalkan lima anak: Habib Hamid, Habib Abdullah, Habib Burhan, Habib Ali dan Syarifah Khadijah.

Loading...

Post a Comment Disqus

 
Top