Biografi Tuan Guru Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam

Biografi Tuan Guru Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam

Takdir Allah SWT untuk Negeri Moloku Kie Raha, lahirlah seorang sosok Pejuang, Ulama Besar sekaligus Politisi Unggul di Tanah Limau Timore, Moloku Kie Raha tepatnya di Soasio Tidore. Pada Tahun 1100 Hijriah bertepatan dengan 1712 Masehi dari Pasangan Qadi Abdussalam Dan Boki, Imam Abdullah di besarkan di dalam keluarga yang sederhana dan taat Agama, di masa kanak-kanaknya dia yakni anak pintar pandai, pada usia yang relatife muda dia sudah mulai menghafal Al-Qur’an serta memahami Ilmu-ilmu agama ibarat Figih dan Tasauwuf.


Realitas kehidupan Tidore masa itu, berada dalam jajahan Belanda, oleh Imam Abdussalam menyaksikan kebiadaban Belanda yang menjajah, menjarah dan Ingin memurtadkan masyarakat Tidore yang lebih banyak didominasi beragama Islam dengan misi God, Glory dan Gold yang populer itu.

PERJUANGAN IMAM ABDULLAH

Sehingga Imam Abdussalam memulai Aktifitas Perjuangannya dengan melaksanakan Propaganda dari Desa-desa di Tidore untuk menentang Belanda dengan sekutunya. Agama yang melatari gerak juang dia (Jihad fi sabilillah), ummat Islam dihentikan di pimpin oleh orang kafir, dasar gerak ini menerima simpatik dari masyarakat Tidore dan pengaruhnya meluas hingga di kawasan Weda, patani, Gebe bahkan hingga di Raja Empat.

Semangat Juang dan jiwa Patriotis yang ada pada diri Imam Abdulah melaksanakan perjuangan-perjuangan di Tidore karenanya meluas hingga ke wilayah-wilayah lain. Bersama Ayahnya Qadi Abdussalam Begabung dalam Pasukan Kesultanan Jailolo Dibawah Kepemimpinan Sulatan Jailolo Dala Perang Jailolo Yang merambat hingga Kedaerah Paton (Patani) sekitar tahun 1770.

Tahun 1770 suatu Peristiwa besar dalam sejarah Patani Yakni sejarah PERO atau potong Tali do semenanjung NGOLOPOPO, banyak serdadu Belanda dan sekutunya tertangkap dari perangkap kerikil yang digantung. Banyak serdadu Belanda Yang Tewas dari petempuran itu.

Tercatat dalam sejarah Afrika Selatan.

Sebagai Seorang Imam dia sangat anti terhadap sistem perbudakan dan apartheid yang di jalankan oleh Kolonial Belanda dibawah kepemimpinan Gubernur Hermanus Munik di Ternate yang memegang kendali semua negeri Jajahan Moloku Kie Raha (1771-1772), dalam Prinsipnya dia Tidak rela sejengkal Tanah tumpah darahnyadi ambil oleh para Penjajah, dan tidak relah anak negeri menjadi budak di negeri sendiri. inilah khittaPerjuangan Imam Abdullah (Benyamin Marasabessy,M.Ed.).

Selain sebagai pemimpin Shalat, dia juga mengkremasi semangat juang masyarakat Tidore di atas Mimbar-Mimbar Mesjid dan terjun pribadi dalam pertempuran-pertempuran dengan Belanda sehingga Penjajah Belanda kehilangan Akal untuk menghadapi perlawanan-perlawanan dari Imam Abdullah, sehingga gerak-geriknya selalu diawasi, di buntuti dan karenanya Imam Abdullah di tangkap dari suatu hasil tipu kebijaksanaan wangi para Penjajah Belanda dan di asingkan ke Cape town Afrika Selatan.

Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam ditangkap oleh Belanda pada tahun 1763 di Tidore bersama ketiga saudaranya yakni : Abdul Rauf, Badaruddin dan Nurul Imam, dan di bawah Ke Ternate kemudian Ke Ambon dan Batavia kemudian Ke Cape Toen Afrika selatan dan di Penjarakan di Kandang Kuda, sesudah itu di pindahkan ke Pulau Robbin / Robbin Island, pulau terpencil ± 50 mil dari Cape Town dan di bebaskan pada tahun 1792.

AWAL PERJUANGAN DI CAPE TOWN AFRIKA SELATAN 

Tak di sangka dan dibayangkan sebelumnya bahwa seorang Ulama Indonesia asal Tidore Maluku Utara ikut berjasa menebarkan benih Islam di Benua Kulit Hitam Tanah Afrika Selatan Pada Abad 17 dan 18 mereka yakni Syeh Yusuf (1626-1699) dan Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam (1712-1807) Kedua-duanya di buang ke Afrika Selatan alasannya yakni acara Politik dan angkatan senjata melawan Kolonial Belanda.

Kerakusan Belanda juga sangat biadab di Afrika Selatan, Peraturan Pertama yang harus di taati yakni tidak di perbolehkan melaksanakan ibadah maupun aktifitas keagamaan selain Katolik Protestan yang tergabung dalam Calvinist Reformed Church Gereja Belanda, kalau ada kedapatan atau menerima laporan bahwa ada yang mengajarkan agama maka hukumanya yakni bunuh langsung. Luar biasa kejam, biadab dan sangat tidak berperikemanusiaan. Dengan aturan tersebut misi Kristenisasi di Afrika Selata berjalan Mulus dibawah kendali Gereja Belanda  dan VOC, Misionaris Katolik Gencar melancarkan misi kristenisasi akan tetapi perkembangan Katolik tercatat dari tahun 1810-1824 sebanyak 35.698 dengan rata-rata 6 orang Pertahunnya.

Kondisi yang begitu sadis namu tak surut Jiwa Patriotoisme Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam, seorang Imam yang berakhlak baik, Perasa,sederhana dan mengasihi sangat disegani sekaligus disayangi masyarakat Kulit Hitam. Hari-hari menjalankan eksekusi dan melihat kondisi social masyarakat yang di perbudak oleh Belanda dan Gereja Belanda dalam mengkristenisasi dan merampas kekayaan dan hak-hak masyarkat Afrika selatan, karenanya Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam bertekad melaksanakan Pendidikan Agama Islam bagi masyarakat pendatang tanpa Ulama itu. Meskipun dalam status budak, di tindas namun keajaiban akan rahmat Allah SWT menyelimuti Negeri Afrika Selatan, sehingga dengan banyak sekali cara misionaris Katolik tak bisa untuk membendung kemajuan Islam di tanah Afrika tersebut, alasannya yakni sekarang masyarakat Afrika Selatan lewat pedoman Imam Abdullah siap menyambut final hayat dari pada hidup dalam penjajahan. melihat kondisi tersebut Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam nekad mengajukan Permohonan untuk mendirikan mensjid, terang saja ini ditolak mentah-mentah oleh Belanda. Suatu hari di hari Jum’at Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam mengkerahkan ummat Islam untuk melaksanakan Shalat Jum’at di lapangan terbuka tempat kerja paksa, tempat penggalian kerikil di Chiappini Street. Belanda menjadi geger dan mengerahkan pasukan untuk mengepung ummat islam yang melaksanakan shalat jum’at tersebut sehingga suasana menjadi tegang.

Walaupun kehidupan masyarakat Afrika selatan penuh dengan penindasan akan tetapi Rahmat Allah SWT sehingga karenanya shalat Jum’at pertama di tegagkan dengan berani melawan penjajah. Dan karenanya mesjid pertama dan merangkap madrasahpun bangkit di Drop Street. Dengan nama (THE AUWAL MOSQUE) / Mesjid awal atau Pertama didirikan oleh Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam alias Tuan Guru. Madrasah tersebut memakai rujukan Wajib Al-Qur’an dan Sunnah Nabi serta Kitab karangan Tuan Guru Kitab Ma’rifat Al-Islam Wal Imam.

SILSILAH KETURUNAN TUAN GURU IMAM ABDULLAH BIN QADI ABDUSSALAM

Senin 1 Rajab 1105 H seorang ningrat Cirebon UMAR FAAROEK RAHMATULLAH berlabuh di Pantai Toloa Tidore, pada Hari Jum’at 10 Muharram 1006 H (1657 M) siapa Mengira kelak Cucuny Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam menjadi Ulama Besar yang melegenda di Cape Town Afrika selatan.

Dari Cirebon rupanya Umar Faaroek Rahmatullah telah berniat untuk menetap di Tidore dan karenanya menikah di Tidore, dan Putranya menjadi Qadi di Kerajaan Kesultanan Tidore dan berputra Lima, Abdul Kadir dan Nuruddin perna menjadi juru tulis besar (sekretaris Negara) abdul rauf menjadi Qadi sedangkan Muhiddin, Nasaruddin dna Abdullah menjadi Imam. Dan salah turunan dari Imam Abdullah Bin Qadi Abdussalam yakni Malaa Ibrahim salahuddin Tokoh Tasawuf terbesar di Maluku dan Papua.
Baca Juga
ARTIKEL PILIHAN

Post a Comment