Syekh Jangkung, Wali Lugu Dari Pati

Syekh Jangkung, Wali Lugu Dari Pati

Wali yang termasuk murid Sunan Kalijaga ini populer dengan keluguannya. Sifat itu membawanya pada ketulusan sejati seorang manusia.


Masyarakat Desa Miyono gempar. Branjung, salah satu warga yang cukup terpandang lantaran kekayaannya, ditemukan tewas di kebun belakang rumahnya. Segera petugas dari desa menyidik ke tempat insiden perkara, menyidik lantaran maut Branjung dan siapa pembunuhnya.

Di dikala warga Desa Miyono sudah berkerumun di rumah Branjung tiba-tiba muncul Saridin. Masyarakat pribadi menunjukkan pandangan pada adik ipar Branjung yang populer gulung tikar itu. Saridin tiba dengan sebilah bambu runcing yang ujungnya berlumuran darah. Segera Saridin dipanggil. “Kemari kamu, Din,” ujar seorang petugas.

“Ya… saya tuan,” jawab Saridin.

“Kamu tahu siapa yang membunuh Branjung?” ujar petugas itu sambil menunjuk jenazah Branjung dengan perilaku menyelidik. Saridin menggeleng. Tapi petugas yang sudah curiga itu tak mau menyerah. Mayat Branjung yang mengenakan baju macan ia rapikan lagi hingga badan Branjung yang terbaring itu kini ibarat macan. “Nah, kalau ini kau tahu siapa yang membunuh?” tanya petugas itu lagi.

“Lha, kalau macan ini saya membunuh,” jawab Saridin. Tak ayal warga Desa Miyono gempar dengan pernyataan Saridin itu. Berarti Saridin-lah yang membunuh Branjung.

Semalam memang telah terjadi insiden pembunuhan di kebun belakang rumah Branjung. Ceritanya diawali ketika Saridin menjagal buah durian yang kepemilikannya ia bagi dua dengan kakak iparnya, Branjung. Perjanjiannya ialah setiap durian yang jatuh pada siang hari dimiliki oleh Brajung, sedang yang jatuh pada malam hari dimiliki oleh Saridin. Branjung yang mengajukan perjanjian itu. Rupanya Brajung salah mengira, ia pikir pada siang hari durian jatuh dari pohon. Padahal durian jatuh pada umumnya pada malam hari.

Jelas saja setiap siang Branjung tidak mendapat durian satu pun. Sedangkan pada malam hari ia mengintip ke kebun dan melihat Saridin selalu mendapat durian jatuh dalam jumlah cukup banyak. Kenyataan ini menciptakan Brajung mempunyai niat licik. Merasa telah rugi ia berencana menakut-nakuti Saridin dengan menyamar sebagai macan. Dan tanpa pikir panjang segeralah ia bergerak sambil berjalan menjiplak macan.

Pertama Saridin tidak menyadari keberadaan kakak iparnya yang menyamar jadi macan itu, tapi Saridin mulai curiga dikala ia tidak menemukan durian dari arah bunyi jatuh yang ia dengar. Begitu hingga beberapa kali, hingga ia memergoki seekor macan yang membawa durian di tangannya. Tahulah Saridin sekarang, si macan yang kurang bimbing itulah yang telah menyusup ke kebunnya. Merasa terancam dengan keberadaan macan itu Saridin pribadi membunuhnya dengan bambu di genggamannya.
Dijebloskan ke Penjara

Dibawalah Saridin menghadap kepala desa untuk disidang secara adat. “Saridin, benar kau telah membunuh kakak iparmu?” tanya kepala desa menegaskan.

“Pak kepala desa, demi Tuhan saya tidak membunuh kakak ipar sendiri,” jawab Saridin polos. Sebagaimana dilakukan petugas keamanan desanya, kepala desa kemudian menutup lagi badan Branjung dengan pakaian macannya. “Nah, kalau macan ini kau yang membunuh?” tanya kepala desa. “Ya, betul saya yang membunuh macan ini lantaran ia mencuri durian saya,” jawab Saridin. Begitu terus hingga berulang-ulang. Saridin tetap tidak mengakui telah membunuh Branjung. Ia hanya membunuh macan, lantaran memang itulah yang terjadi.

Kepala desa merasa resah apa yang harus ia putuskan. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Branjung telah dibunuh oleh Saridin, tapi Saridin tidak sanggup dieksekusi lantaran yang ia bunuh ialah macan, samaran kakak iparnya. Karena merasa tidak sanggup mencari solusi duduk kasus yang gres pertama kali terjadi ini, Kepala Desa Miyono membawa kasus ini ke Kadipaten Pati.

Di hadapan Joyo Kusumo, Bupati Pati, insiden tadi kembali berulang. Kalau pakaian macan Branjung dibuka, Saridin tidak mengakui ia telah membunuh, sedang kalau pakaian Branjung dirapatkan Saridin mengakui ia telah membunuh. Tahulah Bupati, Saridin yang dihadapannya ini ialah orang desa yang lugu dan dungu maka dengan sedikit berbohong ia berkata.

“Ya sudah, Din, kalau begitu macan yang salah, lantaran macan salah, ia harus dikubur, kau sendiri akan saya beri penghargaan dikarenakan telah membunuh macan. Kamu nanti akan saya pindahkan ke bangunan besar, di sana kau akan diberi makan gratis setiap hari, kau bebas tidur atau mengerjakan apa saja, tapi kau dihentikan keluar, kau hanya boleh keluar kalau kau bisa. Nanti kalau kau mau mandi akan ada orang yang mengantar dan menjaga kamu,” ujar Joyo Kusumo kepada Saridin.

Sebagai orang yang gulung tikar tentu saja Saridin bahagia mau diberi makan gratis. Apalagi kalau mandi akan diantar, “Wah, seolah-olah Priyayi,” ujar Saridin gembira. Maka dibawalah Saridin ke tempat yummy yang tidak lain ialah penjara itu. Di sana ia mendekam sebagai tahanan. Disitulah Saridin mulai menyadari apa yang menimpanya. Karena Bupati membolehkan dirinya keluar dari penjara kalau ia bisa. Saridin ingin keluar untuk minta maaf pada istrinya lantaran telah menjadi suami yang berulah. Di sana pula Saridin menghayati wejangan Sunan Bonang, yang mengatakan, jikalau seorang insan telah menyatukan rasa dengan Sang Pencipta, apa yang diingnkan niscaya akan terlaksana.

Begitulah Saridin sanggup pulang dan minta maaf kepada istrinya. Beberapa kali itu ia lakukan. Tapi dasar lugu dan jujur, sesudah menengok sang istri, Saridin pulang kembali ke penjara. Sampai karenanya kelakuannya ini diketahui petugas dan menciptakan berang Bupati, Saridin dijatuhi sanksi mati tapi berhasil meloloskan diri lantaran Bupati memperbolehkan dirinya kabur bila berhasil lolos dari kepungan prajurit.

Demikianlah satu babak dalam dongeng Saridin yang turun temurun dalam tradisi masyarakat Pati. Tokoh ini dikenal masyarakat sebagai seorang wali yang mempunyai keluguan tiada tara. Ia memang rakyat biasa yang polos, tapi justru lantaran kepolosannya itulah yang menciptakan menguasaai ilmu hakikat.

Saridin yang juga dinamai Syekh Jangkung, hidup di tempat Kajen, Pati. Daerah itu masih ada hingga sekarang. Mengenai kelahirannya tidak ada data yang kongkrit yang m,encatatnya. Tapi berdasarkan kisah turun temurun yang hidup subur dikalangan masyarakat dan pesantren di Pati. Saridin diyakini hidup se zaman dengan para walisongo, yakni pada era ke-15.
Cerita Lucu di Kudus

Keberadaan Syekh Jangkung amat terkait dengan Sunan Kalijaga. Wali keramat inilah yang mengajarkan Saridin ilmu hakikat. Konon, Sunan Kalijaga juga yang menolongnya dikala bayi dibuang oleh ibunya di sungai. Makanya kemudian Saridin mengamalkan beberapa wejangan sufistik dari Sunan Bonang yang ia dapatkan dari Sunan Kalijaga.

Keberadaan Saridin juga tidak sanggup lepas dari Sunan Kudus. Saat melarikan diri ke kabupaten Pati, Saridin bertemu dengan Sunan Kalijaga yang menyuruhnya berguru di pesantren Sunan Kudus di Kudus. Maka berangkatlah Saridin untuk menuntut ilmu.

Sekalipun ia murid baru, Saridin sudah menguasai dasar-dasar agama. Seperti syahadat dan rukun dogma yang didapatnya dari Sunan Kalijaga. Kepada Sunan Kudus Saridin menggali lagi makna kalimat suci itu. Saat mengaji itulah beberapa insiden unik terjadi.

Karena murid gres dikerjai oleh murid-murid lama. Para santri setiap hari diwajibkan mengisi tempat air untuk wudu. Nah, Saridin yang juga terkena kewajiban itu rupanya tidak kebagian ember. Para santri usang tak ada satupun yang mau meminjamkan bejana padanya.

Melihat Saridin resah kesulitan mendapat ember, seorang santri bilang dengan maksud mengolok. “Din, kau tidak kebagian bejana ya, tuh ada keranjang…. Bawa saja air di sumur itu pakai keranjang,” ujar santri itu sambil menahan senyum. Terdorong melaksanakan kewajibannya Saridin membawa saja keranjang itu. Ajaib, air yang seharusnya lolos di sela-sela lubang keranjang itu, malah sanggup tertampung hingga Saridin sanggup mengisi tempat wudu hingga penuh. Para santri yang melihat hanya terdiam melihat ulah Saridin.

Berita itu karenanya hingga kepada Sunan Kudus. Di hadapan mursyidnya itu Saridin dengan jujur menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal. Menganggap Saridin sedang menyombongkan diri dengan kelebihannya, Sunan Kudus kemudian mengetes Saridin. “Din… kau ;kan tadi mengisi air, kini di tempat wudu itu apakah ada ikannya?” tanya Sunan Kudus. “Setiap air niscaya ada ikannya, Kanjeng Sunan, begitu pula di tempat air wudu itu,” jawab Saridin polos. Para santri yang mendengar tanggapan Saridin kontan tertawa. “Mana mungkin tempat wudu ada ikannya,” pikir mereka. Tapi sesudah di cek memang betul ditemukan ikan di dalamnya.

Sunan Kudus gusar melihatnya, kali ini Sunan Kudus merasa ditantang. “Baik, Saridin, kini apa yang ada ditanganku ini?” ujar Sunan Kudus. “Buah kelapa, kanjeng,” jawab Saridin pelan.

“Katamu setiap air ada ikannya, kelapa ini didalamnya ada airnya, apakah kau tetap menyampaikan bahwa dalam kelapa ini ada ikannya?” tanya Sunan Kudus lagi. “Ada Kanjeng,” jawab Saridin polos. Kembali hadirin tertawa lantaran menganggap Saridin dungu. Tapi sesudah kelapa itu dibelah kagetlah mereka semua, termasuk Sunan Kudus, lantaran didalamnya ada ikan hidup yang berenang di air kelapa. Menganggap Saridin melaksanakan hal-hal yang tak patut, yaitu menunjukkan karomah diri pada orang lain. Sunan Kudus marah, dan Saridin pun di usir dan dihentikan menginjak tanah Kudus lagi.

Dengan frustasi Saridin pergi, rupanya hal yang dialaminya diketahui Sunan Kalijaga. Wali yang bijak ini kemudian menasehati Saridin untuk sabar sekalipun perbuatannya tadi dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Sikap Sunan Kudus juga dijelaskan oleh Sunan Kalijaga sebagai perilaku yang masuk akal seorang insan biasa yang merasa malu jikalau dipermalukan di depan orang lain di hadapan murid-muridnya. Setelah insiden itu Sunan Kalijaga Menyuruh Saridin mengasingkan diri untuk lebih dalam mengenal Allah SWT serta menjalani latihan-latihan rohani untuk menyatu dengan-Nya.

Setelah lulus Saridin kembali ke masyarakat, ia kemudian dikenal sebagai sufi yang namanya cukup disegani di masa Kerajaan Mataram. Ia mengajarkan konsep-konsep tasawuf pada orang-oarang yang ingin mengaji padanya. Ia menetap kembali di Kajen, tanah kelahirannya, hingga wafat. Makamnya masih sering diziarahi orang hingga sekarang.

Sumber kisah Alkisah Nomor 07 / 29 Maret – 11 April 2004
SHARE
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait

Post a Comment