Sayyid ‘Abdullah Bin Shadaqah Bin Zaini Dahlan Al-Jailani

Sayyid ‘Abdullah Bin Shadaqah Bin Zaini Dahlan Al-Jailani

Beliau yaitu seorang ulama besar yang dilahirkan pada tahun 1290H /1291H (1874M /1875M) di Kota Makkah al-Mukarromah. Beliau lahir dalam keluarga ulama yang sholeh. Ayahanda dia yaitu saudara kandung Syaikhul Islam Mufti Haramain Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan, ulama dan mufti Hijaz yang masyhur, manakala bunda dia yaitu saudara wanita Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi ( Pengarang kitab I`anathuttholibin ).


Nasab penuh dia yaitu Sayyid ‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matUllah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh bin Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az-Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul radhiyaAllahu`anhum ajma`in.

Tatkala dia berusia 6 tahun, ayahandanya wafat, Sidi Ahmad Zaini Dahlan telah mengambil kiprah ayahandanya untuk menjaga dan memberi pendidikan yang tepat kepadanya. Pamannya ini turut mencintai dirinya serta menawarkan perhatian besar terhadapnya. Beliau berada di bawah asuhan pamannya ini sehinggalah ulama besar Hijaz ini wafat di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1304H (1887M).

Setelah kepergian pamannya yang mulia, Sayyid ‘Abdullah kembali ke Kota Makkah dan menyambung pengajiannya dengan para ulama di sana, antaranya dengan pamannya Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, Syaikh Muhammad Husain al-Khayyath, Habib Husain bin Muhammad al-Habsyi dan lain-lain ulama terkemuka. Kedalaman ilmunya diakui para ulama sehingga dia diberi kepercayaan untuk menjadi Imam dalam Masjidil Harom di Maqam Ibrahim (tempat bagi Imam mazhab Syafi’i ) serta menjadi tenaga pengajar di Masjidil Haram yang mengendali halaqoh ilmu di Babus Salam.

Sayyid ‘Abdullah populer sebagai u`ama yang suka mengembara dari satu tempat ke satu tempat demi berbagi risalah dakwah dan ilmu. Beliau telah merantau ke banyak tempat menyerupai Zanzibar, Yaman, India, Mesir, Bahrain, Iraq, Syam, India, Sri Lanka, Tanah Melayu, Singapura, Jawa dan Sulawesi. Beliau juga telah mendirikan banyak sekali madrasah di tempat-tempat tersebut. Apa yang menarik ialah sewaktu di Tanah Melayu dia telah dilantik menjadi Syaikhul Islam (Mufti) Kedah kedua. Namun jawatan tersebut hanya disandangnya kira-kira setahun yaitu dari 1904M sehingga 1905M dan dilepaskannya sebab dia berhasrat untuk kembali ke Makkah.

Setelah usang berkelana, kesudahannya Sayyid ‘Abdullah telah menentukan untuk menetap di Desa Ciparay Girang, Karang Pawitan dalam tempat Garut, Jawa Barat. Di situlah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1943 M, sesudah menjalani hidup yang penuh keta`atan dan keberkatan. Beliau meninggalkan beberapa karangan, antaranya:-

1. Irsyad Dzil Ahkam;

2. Zubdatus Sirah an-Nabawiyyah;

3. Tuhfatuth Thullab fi qawa’idil i’raab;

4. Khulaashah at-Tiryaaq min samuum asy-Syiqaaq;

5. Irsyadul Ghaafil ila maafiith thoriiqatit Tijaaniyyati minal baathil;

6. Fatwa fi ibthal thoriqah wahdatil wujud.

Mudah-mudahan Allah senantiasa mencucuri Rahmat dan Ridho-Nya kepada Sayyidi ‘Abdullah bin Shodaqoh Dahlan al-Jilani al-Hasani. …… Hadiyatan liruhihi al-Fatihah
SHARE
ARTIKEL PILIHAN

Artikel Terkait

Post a Comment