Widget HTML Atas

Rotan Bertuah Dari Kyai Abdul Manan

Setelah Indonesia merdeka, justru ada insiden yang lebih kejam lagi adalah pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kyai dan santri menjadi korban PKI. Melihat tindakan menyerupai itu, ia bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.


Rotan-rotan itu oleh KH Abdul Manan sesudah didoakan di pergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di kawasan Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan sanggup mengkremasi rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang sanggup di asma’ oleh KH Abdul Manan, banyak orang yang tiba sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, menyerupai cincin, sorban, peci dll.

Kelebihan dan kejadugan KH Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah semenjak ia berusia muda. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melaksanakan puasa mutih, ngrowot. Saat mencar ilmu di Mekah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa adalah hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.

Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda hingga menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan dia untuk memperihatini (laku prihatin) semoga anak –anak dan santrinya kelak sanggup menjadi orang yang berhasil serta mempunyai kegunaan bagi masyarakat banyak. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H (1979 M) dan di makamkan masih di sekitar pondok pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi (Jawa Timur).