Widget HTML Atas

Kyai Soeratmo (Mbah Idris)

Kyai Soeratmo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Idris, dilahirkan pada tanggal 1 april 1913 M, putra KH. Amir Hasan Yogyakarta dan Ny. Aisyah binti KH. Idris Boyolali. Beliau wafat pada hari rabu pon tanggal 26 Jumadil Akhir 1423 H/4 September 2002 M. II. Pendidikan dan Pergaulan Semenjak kecil dia sudah tekun dalam menuntut ilmu. Beliau mencar ilmu di Manbaul Ulum Slompretan hingga tamat kelas XI dengan nilai yang sangat memuaskan. Selain itu dia juga pernah mencar ilmu dibeberapa Pondok Pesantren, antara lain : 1. Pondok Pesantren Jamsarem, Solo dibawah asuhan KH. Idris. 2. Pondok Pesantren Tremas Pacitan 1941 -1944 M. 3. Pondok Pesantren Bangkalan Madura. 4. Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal. 5. Mengikuti Majlis Ta’lim dibawah asuhan Habib Muhsin Bin Abdullah, Solo untuk mempelajari Hadits Bukhori Muslim. Selain itu dia juga telah terbiasa dengan riyadloh menyerupai Puasa sunah, Sholat lail dan tahan tidak tidur dimalam hari. Beliau juga menekuni olah raga seni Pencak Silat dan bergabung dalam Pendekar solo. Tidak ketinggalan dia juga mendalami ilmu tasawuf. Maka dengan tempa’an-tempa’an tersebut terbentuklah sosok pribadi Kyai Soeratmo/ KH. M. Idris menjadi ulama’ khas yang berwawasan luas dan menghabiskan hidupnya untuk mencari ridlo Allah Swt. Sejak muda dia sangat bahagia bergaul dengan siapapun tanpa mengenal status sosial maupun agama dan golongan. Cara berbusana selalu menampilkan kerapian sesuai dengan situasi dan kondisi pergaulannya. Beliau sangat ta’dhim kepada sesepuh, Alim Ulama’ dan Habaib. Beliau sangat peduli terhadap fakir miskin, dan sayang kepada anak kecil. Beliau mendalami dan Bai’at Thoriqoh Szadziliyyah semenjak muda kepada beberapa mursyid/Guru Thoriqoh, antara lain : 1. KH. Abdul Mu’id Tempur Sari – Klaten. 2. KH. Ahmad Siroj Keprabon – Solo. 3. KH. Abdul Rozaq Termas Pacitan. 4. KH. Ahmad Ngadirejo. 5. KH. M. Idris Jamasaren – Solo. 6. Bertemu pribadi dengan Syeikh Mufthi Kamal di Makkatul Mukaromah dan syeikh Muhtarom Makkah. Semenjak dia menjadi Mursyid, telah puluhan ribu jumlah anggota yang diasuh, terdiri dari aneka macam macam lapisan masyarakat. Bahkan beberapa bulan sebelum dia wafat, dia masih sempat memba’aiat sekitar 200 orang sambil tiduran alasannya sudah udzur atau sakit, dan dilakukan bersama atau dijama’. III. Kebiasaan Beliau Beliau sangat rajin mempelajari kitab-kitab, kemudian merangkum dan menuliskannya kembali dalam bentuk kitab/buku dengan ditulis tangan sendiri secara rajin, dengan sistematis dan penafsiran / terjemahan yang gampang dipahami oleh siapapun yang membaca. Kebiasaan ini telah dilakukan semenjak dia mencar ilmu di Pondok Pesantren tremas Pacitan, hingga menjelang wafatnya. Adapun kitab-kitab yang dia himpun antara lain : 1. Kitab Nikah. 2. Kitab Asyhuril Hurum. 3. Do’a-do’a di dalam sholat dan diluar sholat. 4. Kitab Tanbihul Awwam Jilid I dan II. 5. Kitab perihal tata krama masuk Thoriqoh Syadziliyyah. 6. Kitab Manaqib Syeikh Ali Abil Hasan Assyadzili Ra. Dll. IV. Perjuangan dan Dakwah Beliau. 1. Beliau termasuk pejuang 45, pada dikala pertempuran menghadapi pasukan penjajah Belanda di Mranggen, dia bergabung dalam barisan Hizbullah. 2. Dalam berdakwah dia lakukan dengan bahasa yang lugas dan gampang dipahami. Contoh-contoh pengalaman syariat agama dilaksanakan secara sederhana, tidak selalu harus memaparkan dalil-dalil, namun mengutamakan tata krama dan akhlakul karomah. 3. Beliau sangat peduli terhadap pelestarian budaya Jawa yang relevan dengan pedoman Islam, misalnya, wayang kulit, tata busana jawa dll. Beliau sangat fasih apabila menuturkan Babat tanah Jawa yang penuh dengan nilai filsafahnya. 4. Beliau termasuk ulama Ahli falak. Namun hal ini sanagat disimpan rapi, alasannya sangat sederhana “jangan hingga diartikan atau dianggap sebagai andal nujum. V.Karomah-karomahnya Karena sifat kehati-hatian beliau, maka dia sangat rapat dalam menyimpan belakang layar kekhususan yang dimiliki. Adapun kejadian-kejadian yang merupakan karomah yang diungkap disini ialah sebagian kecil yang sempat direkam semasa dia masih hidup. 1. Beliau sangat menghormati tamu, pernah suatu ketika dia kedatangan tiga orang tamu dari jauh. Pada dikala itu ibu nyai dan pembantu tidak ada dirumah. Tiga tamu tadi dihidangkan minuman yang diambil dalam teko persediaan dia sendiri. Anehnya dalam satu teko yang biasanya berisi teh, ketika dituangkan digelas para tamu tersebut isinya berbeda-beda sesuai dengan kesukaan tamu tersebut. Satu gelas pada dikala dituangkan berisi kopi, satu berisi teh dan satunya lagi berisi susu. Hal ini menciptakan ketiga tamu tadi tertegun sambil berbisik :”Mengapa Kyai sudah tahu minuman kesukaan kami padahal kami belum pernah silaturahmi dan ketemu kyai, dan kami dikala ini memang betul-betul haus”. 2. Beliau melakukan ibadah haji gres tiga kali. Namun kenyataan tiap tahun banyak saudara yang pergi haji berjumpa dia baik di Makkah dan Madinah.



Hal ini pernah dialami oleh KH. Ahmad Zakasy, KH. Abu Shihab, KH. Taubatan Nasuha. Ketika mereka bertiga yang tergolong sudah sepuh melakukan ibadah haji, ketiganya disana di pandu oleh KH. Soeratmo/Mbah Idris. Maka sesudah ketiganya pulang tersebarlah gosip tersebut. Dan mereka menuturkan Kyai Soeratmo atau mbah Idris setiap paginya sudah di Makkah, tetapi setiap sore slalu pamit untuk pulang. Dengan gosip tersebut, para jama’ah majlis ta’lim asuhan dia merasa heran dan dalam hati membantah gosip tersebut, alasannya selama demam isu haji dia setiap malamnya selalu aktif menawarkan ceramah tafsir al Qur’an di Gedung Batik PBB Kacangan. Akhirnya kami percaya sesudah KH. Ahmad Zarkasy sambil berliangan air mata membenarkan gosip tersebut. Peristiwa menyerupai itu ternyata banyak dikisahkan oleh beberapa orang yang pergi haji, meskipun Mbah Idris sudah wafat. 3. Pada dikala pertama kali Mbah Idris mengadakan haul Imam Agung Syekh Syadzili Ra/sewelasan pada tahun 1971 di Masjid Muqorrobbin yang gres saja didirikan. Pada dikala itu demam isu paceklik, masyarakat banyak mengalami kesusahan sulit mencari makan, flora pangan dihabiskan oleh tikus. Panitia sangat cemas, alasannya hingga menjelang maghrib masakan yang tersedia sangat sedikit. Kemudian Mbah Idris memberi nasehat, “Jangan cemas, Apabila kita Mahabbah dengan kekasih Allah, Insya Allah diberkahi. Maka mohonlah keberkahan. Kenyataannya memang benar, sesudah program dzikir selesai dibaca kami mulai menghidangkan masakan yang ada hingga merata, padahal yang hadir ribuan. Setelah pengajian selesai panitia sangat heran alasannya masakan yang tersedia semenjak sore masih utuh. Alhamdulilah akibatnya sanggup diberikan kepada pekerja yang ada.

sumber: www.almihrab.com

No comments for "Kyai Soeratmo (Mbah Idris)"