Widget HTML Atas

Kyai Raden Sumomihardjo, Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung


Narasumber:
KH. Raden Muhaeminan Gunardho
(Ulama Sepuh, Jawa Tengah, Pimpinan Pondok Pesantren Kyai Parak, Bambu Runcing, Parakan, Jawa Tengah)

Pada ketika penjajah Belanda yang dibantu oleh sekutu ingin kembali menjajah Indonesia, Bupati Temanggung yang berjulukan Sutikno mengumpulkan para ulama dan tokoh masyarakat. Dihadapan para ulama dan tokoh masyarakat tersebut, dia berkata bahwa tidak usang lagi Belanda akan kembali untuk menjajah Indonesia sebab Jepang telah kalah perang melawan sekutu. Bupati Sutikno berharap kepada para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir biar sanggup memperlihatkan jalan keluar terbaik, yaitu apakah Belanda akan mereka terima kembali sebagai bangsa penjajah ataukah Belanda akan dilawan begitu mereka masuk ke Bumi Temanggung. Bupati Sutikno mengingatkan para hadirin dihadapannya bahwa jikalau contohnya mereka setuju untuk melawan Belanda, apakah mereka benar-benar sudah memperhitungkan dengan seksama kekuatan yang mereka miliki sebab Belanda mempunyai senjata perang dan bom sedang mereka tidak mempunyai persenjataan sama sekali.
Setelah mendengarkan klarifikasi dari Bupati Sutikno tersebut, para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir, tidak ada yang berani angkat bicara, apalagi mau mengajukan usul, hingga kesudahannya ditengah kesunyian yang mencekam penerima musyawarah ketika itu, ada seseorang yang mengangkat tangan guna memohon waktu untuk memberikan buah pikirannya, dan penerima tersebut ialah dari kalangan ulama, dia berjulukan Kyai Raden Sumomihardho. Setelah dia dipersilakan untuk memberikan pendapatnya Kyai Raden Sumomihardho, berkata : " Menurut ekonomis saya, sebaiknya Belanda kita lawan begitu mereka tiba di bumi Temanggung". Mendengar pendapat dia yang sangat berani tersebut suasana pertemuan ketika itu menjadi tambah mencekam bagi sebagian besar penerima yang hadir sebab mereka membayangkan sebuah resiko yang sangat berat niscaya akan mereka tanggung jikalau mereka berani melawan penjajah yang mempunyai tentara dengan persenjataan yang lengkap. Kyai Raden Sumomihardho sanggup membaca suasana pertemuan yang semakin mencekam tersebut, tetapi dia sedikitpun tidak berubah pikiran, tetapi malah sebaliknya dia manambahkan : "Kita tidak rela diperbudak lagi oleh bangsa penjajah, dan adapun mengenai masalah hidup dan mati semuanya terjadi atas kehendak Allah". Beliau melanjutkan : "Masalah hidup dan mati itu semua ialah urusan Allah, dan kita memang tidak mempunyai persenjataan menyerupai yang dimiliki bangsa penjajah, tapi kita punya Allah". Dan mendengarkan alasan yang masuk nalar yang disampaikan oleh Kyai Raden Sumomihardho, kesudahannya semua ulama dan tokoh masyarakat yang hadir ketika itu menyetujui pendapat beliau. Setelah program ditutup, para cowok pejuang tiba ke pondok pesantren dia dan kepada para cowok pejuang tersebut, Kyai Raden Sumomihardho memperlihatkan mereka senjata berupa Bambu Runcing yang sudah diberi asma'. Bambu Runcing yang sudah diberi asma' oleh dia tersebut mempunyai beberapa kelebihan. Diantaranya : siapa saja yang memegang bambu runcing itu dia tidak mempunyai rasa takut terhadap musuh (tentara penjajah), musuh yang melihat bambu runcing tersebut menjadi kehilangan akal, jikalau bambu runcing yang telah diberi asma' itu dipegang, ia akan mengeluarkan api. Dan jikalau ada pria yang melangkahi bambu runcing tersebut, kelaminnya menjadi membesar, dan pernah suatu ketika di kawasan Boyolali, bambu runcing tersebut dilempar ditumpukkan pring (bambu biasa), dan pring tersebut terbakar.
Selain memperlihatkan bambu runcing yang sudah di asma', Kyai Raden Sumomihardho juga memperlihatkan senjata berupa ketapel kepada para cowok pejuang. Batu kerikil yang akan digunakan terlebih dahulu diberi asma' dan setiap watu kerikil yang telah diberi asma'. Jika watu tersebut dipakaikan diketapel dan digunakan untuk menyerang musuh, maka musuh yang terkena oleh watu kerikil itu akan mati. Senjata terakhir yang diberikan kepada cowok pejuang ialah berupa sujen (sejenis tusuk sate). Setelah sujen tersebut diberi asma', maka jikalau sujen itu ditanam pihak musuh tidak akan sanggup melewati kawasan tersebut. Jika sujen itu dilangkahi tikus, tikus itu sanggup mati. Kyai Raden Sumomihardho ialah teman seperjuangan dari Cokro Aminorto dan dia juga masih keluarga dari Bupati Magelang dan merupakan keturunan Wali Songo.

Sumber : http://chemot-marley.blogspot.com/2012

No comments for "Kyai Raden Sumomihardjo, Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung"