Widget HTML Atas

Kisah Habib Noh, Wali Sakti Dari Singapura

 Singapura, Negeri Melayu yang berpenduduk lebih banyak didominasi Chinese dan beragama Nasrani, ternyata tetap melestarikan tradisi dan peninggalan bersejarah kaum muslimin. Misalnya karamat Habib Noh. Makam sufi yang berusia lebih dari seabad itu tetap terpelihara dengan baik.

Di ketinggian sebuah bukit terlihat bangunan yang dikelilingi taman asri, higienis dan tenteram. Dari Jalan Palmer, semua tampak jelas. Burung-burung merpati yang bebas berterbangan atau bertengger disekitarnya menambah kesegaran suasana di tengah kesibukan Bandar Raya Negeri Singa tersebut. Penduduk setempat, dari rumpun melayu atau kaum muallaf, juga orang-orang dari banyak sekali negeri, ibarat Malaysia, Thailand dan Indonesia masih banyak menziarahi kawasan yang dikenal sebagai keramat Habib Noh ini.
Keramat Habib Noh mendapatkan hadiah itu, tapi kemudian menyerahkan kembali kepada orang yang membutuhkan.
Kisah-kisah Habib Noh
Bahkan dikisahkan Habib Noh pernah menembus hujan angin ribut untuk menyembuhkan sakit seorang anak. Ia berjalan ke Paya Lebar dari rumahnya di Teluk Belangah. Ketika ia tiba di kawasan pasiennya, percaya atau tidak, orang bau tanah si anak yang sakit tadi menyaksikan bahwa jubah Habib Noh tetap kering, tidak basah, atau gejala lain layaknya orang yang kehujanan.
Di lain waktu Habib Noh pernah terbangun dari tidurnya, alasannya yakni bunyi tangis anak kecil berkepanjangan. Ia kemudian menyadari bahwa tangis itu berasal dari sebuah rumah keluarga miskin. Jelas itu tangis bocah yang kelaparan. Habib Noh kemudian mengambil daging buah kelapa, diperas menjadi santan, dan dicampurnya dengan air. Setelah itu dibacanya sebuah doa, atas kehendak Allah, santan itu berubah jadi susu dan untuk sementara sanggup menghentikan tangis kelaparan bocah papa tersebut.
Habib Noh juga dengan kekuatannya yang akurat membaca pertanda, seolah-olah ia sanggup tahu apakah seseorang membutuhkan pertolongan atau mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya. Konon, ada seorang laki-laki India, Muslim yang akan mengunjungi keluarganya di India dengan memakai kapal laut. Secara diam-diam ia bernazar jika sanggup kembali ke Singapura dengan selamat, ia akan memberi hadiah kepada Habib Noh.
Saat tiba kembali di Singapura, ia sangat terkejut mendapati Habib Noh telah menunggunya di pelabuhan. Habib Noh berkata, “Saya yakin Anda telah berjanji untuk menunjukkan sesuatu kepada saya.” Dengan terkejut si India itu menjawab, “Katakan, wahai orang bijak, apa yang engkau inginkan, maka akan saya berikan kepadamu.” Sang Habib berkata lagi, “Saya ingin mempunyai beberapa gulung kain Kuning, yang akan saya berikan kepada orang miskin dan anak-anak.” Yang diminta kain itu pun kemudian memeluk Habib Noh dan sambil menangis, ia berkata, “Demi Allah saya sangat bersedia untuk menghadiahkannya kepada orang yang dimuliakan Tuhan alasannya yakni kebaikannya terhadap kemanusiaan. Berikan saya waktu tiga hari untuk mempersembahkan kepadamu.” Dan orang India itu pun menepati janjinya.
***
Habib Noh rupanya sudah merasa bahwa ia akan segera meninggal dunia. Beberapa hari sebelum saatnya tiba, ia melaksanakan apa saja biar sanggup memberikan sebanyak mungkin pesan yang tersirat kepada teman-temannya yang dicintai. Beberapa kata bijak yang patut kita ingat adalah: “Jangan serakah akan harta dan bahan yang bersifat duniawi, atau mempunyai perasaan benci kepada siapapun sepanjang hidupmu.”
Pada tamat Juli 1866, pada usia 78 tahun, Habib Noh meninggal di kediaman Johor Temenggong Abu Bakar di Teluk Belangah. Ketika isu meninggalnya menyebar, banyak orang dari banyak sekali kalangan, termasuk para muallaf dan pnduduk dari pulau tetangga, tiba untuk menunjukkan penghormatan terakhir. Bahkan semua Kusir di Pulau Singa menghentikan kegiatannya mencari uang, untuk mengantarkan orang tua, wanita, dan belum dewasa ke pemakaman secara gratis.
Namun sebelum rombongan meninggalkan kediaman Temenggong menuju pemakaman Muslil Bidari, terjadi sebuah peristiwa, keranda tidak sanggup bergerak meski puluhan orang telah mengerahkan tenaga untuk mengangkatnya. Suasana panik dan tangis hampir-hampir tak terbendung. Untunglah ketika itu seorang kerabat ingat pesan terakhir almarhum.
Sebelum wafat, rupanya Habib Noh pernah berwasiat kepada kerabatnya bahwa ia ingin dimakamkan di puncak Gunung Palmer – sebuah pekuburan kecil. Namun entah mengapa, di hari itu kerabatnya melupakan pesan tersebut. Begitu para kerabat dan sahabatnya memutuskan hendak membawa mayit ke kawasan yang diwasiatkan, keranda menjadi enteng, dipikul dari pundak ke bahu, kolam melayang mendaki bukit, diiringi gemuruh takbir. Hingga kini makam disebelah Gedung YMCA, atau yang dikenal sebgai Bestway Building, itu tetap diziarahi orang.
Meskipun ia telah pergi, tinggal makamnya yang dikeramatkan, ada sebuah keajaiban yang masih diingat penduduk Singapura. Ketika Perang Dunia II, tanpa ampun sebuah bom menghancurkan area di Gunung Palmer, termasuk taman pemakaman yang ada di sana. Tetapi sungguh ajaib, keramat Habib Noh tetap berdiri tegak seakan tak tersentuh sama sekali. Allahu Akbar…!

Sumber : http://www.sufiz.com/jejak-wali/kisah-habib-noh-wali-sakti-dari-singapura.html

No comments for "Kisah Habib Noh, Wali Sakti Dari Singapura"