Widget HTML Atas

Kh. Taufiqul Hakim Penemu Metode Cepat Baca Kitab Amtsilati



Siapa sih yang tidak ingin sanggup memahami tulisan-tulisan berbahasa Arab secara baik dan benar? Tidak ada yang sanggup meragu, kitab suci Al-Qur’an dan teks-teks hadits Nabi serta sebagian besar khasanah keislaman disuguhkan dengan bahasa dan goresan pena Arab. Ada yang hiperbola bahkan menyebut bahasa Arab sebagai bahasa surga.
Akan tetapi melihat huruf-huruf yang kelihatan ruwet dalam kitab-kitab kuning atau kitab gundul itu orang menjadi ngeri. Yang menyeramkan lagi, kalau orang ingin sanggup berbahasa Arab harus mengeram berlama-lama di pesantren, hingga bau tanah dan tidak sempat menikah. 
Orang harus mencar ilmu ilmu nahwu, memutar-mutar harakat hingga ngelu; harus mencar ilmu ilmu sharaf yang menegangkan saraf, satu kata dibolak-balik menjadi puluhan kata, puluhan makna. Banyak yang ketakutan bahwa bahasa Arab ialah bahasa tersulit di dunia.
Hal itulah yang menginspirasi Taufiqul Hakim, seorang kiai muda usia, untuk menyusun metode pembelajaran kitab kuning secara cepat, tepat, dan menyenangkan. Metode itu diberi nama ”Amtsilati” yang terinspirasi dari metode mencar ilmu cepat membaca Al-Quran, yakni ”Qiro’ati”. Jika dalam metode Qiro’ati orang sanggup mencar ilmu membaca Al-Qur’an dengan cepat, maka dengan metode Amtsilati orang akan sanggup membaca dan memahami kitab ‘gundul’ kitab tanpa harakat, kenapa tidak!!
“Terdorong dari metode Qiro’ati yang mengupas cara membaca yang ada harokatnya, saya ingin menulis yang sanggup digunakan untuk membaca yang tidak ada harokatnya. Terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa rujukan dari saya yang sesuai dengan akhiran “ti” dari Qiro’ati.
Mulai tanggal 27 Rajab 2001, saya merenung dan bermujahadah, dimana dalam thoriqoh ada do’a khusus, yang kalau orang secara tulus melaksanakannya, insya Allah akan diberi jalan keluar dari problem apapun oleh Allah dalam jangka waktu kurang dari 4 hari. Setiap hari saya lakukan mujahadah terus-terusan hingga tanggal 17 Ramadhan yang bertepatan dengan Nuzulul Qur’an,” katanya.
”Saat mujahadah, kadang saya ke makam Mbah Ahmad Mutamakin. Di situ kadang seolah-olah berjumpa dengan Syekh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandiyyah, Syekh Ahmad Mutammakin dan Ibnu Malik dalam keadaan setengah tidur dan setengah sadar. Hari itu seolah-olah ada dorongan berpengaruh untuk menulis. Siang malam saya ikuti dorongan tersebut dan hasilnya tanggal 27 Ramadlan selesailah penulisan Amtsilati dalam bentuk goresan pena tangan. Amtsilati tetulis hanya sepuluh hari.”
”Kemudian diketik komputer oleh Bapak Nur Shubki, kang Toni dan kang Marno. Proses pengetikan mulai dari Khulashoh hingga Amtsilati memakan waktu hampir 1 tahun. Kemudian dicetak sebanyak 300 set. Sebagai follow up terciptanya Amtsilati, kami gelar bedah buku di gedung Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jepara, tanggal 16 juni 2002 diprakarsai Bapak Nur Kholis. Sehingga timbullah jawaban dari akseptor yang pro dan kontra.”
Diceritakan, Salah satu dari akseptor bedah buku di Jepara kebetulan memiliki abang di Mojokerto yang menjadi pengasuh Pesantren. Beliau berjulukan KH. Hafidz pengasuh pondok pesantren “Manba’ul Qur’an”. Beliau berinisiatif untuk menyelenggarakan pengenalan sistem cepat baca kitab kuning Metode Amtsilati, tanggal 30 Juni 2002. untuk jadwal tersebut Bapak H. Syauqi Fadli sebagai donatur, menyarankan semoga dicetak 1000 set buku Amtsilati dan sekaligus untuk jadwal Hubbur Rosul di Ngabul Jepara.
Dari Mojokertolah proteksi mengalir hingga ke beberapa kawasan di Jawa Timur melalui lembaga yang digelar oleh Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, Jember, dan Pamekasan Madura. Sampai dikala ini Amtsilati telah tersebar ke pelosok Jawa, bahkan sudah hingga ke luar Jawa, ibarat Kalimantan, Batam dan Alhamdulillah telah dikenal di luar negeri, ibarat Malaysia. Dalam waktu 4 tahun kitab amtsilati sudah diterbitkan tidak kurang dari 5 juta exemplar.
Kitab Amtsilati pertama kali digandakan dengan mesin foto copy. Hasil penjualannya digunakan untuk memalsukan Amtsilati di mesin percetakan. Kemudian, hasil penjualan selanjutnya digunakan untuk membeli mesin cetak sendiri. Setiap kali cetak sejumlah 5000 ekslempar. Pegawai percetakan ialah masyarakat sekitar, termasuk ibu-ibu rumah tangga.
***
Taufiqul Hakim lahir pada 14 Juni 1975 di Sidorejo RT. 03 RW. 12 Bangsri, Jepara, Jawa Tengah. Dia ialah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Dia bukan keterunan kiai atau bangsawan. Ayah dan ibunya hanya petani. Dari tujuh bersaudara hanya ia yang berprofesi sebagai seorang guru, dan dikala ini ia dikenal sebagai kiai. Hal yang paling disesalinya ialah ketika ayahnya meninggal, ia tidak sempat ikut mengantarkan mayat ayahnya alasannya harus menuntaskan kiprah belajar.
Dia ialah alumnus Perguruan Islam Matholiul Falah Kajen Pati. Ketika menjadi siswa di Matholiul Falah, ia juga nyantri di Pondok Pesantren Maslakhul Huda Kajen, yang diasuh oleh Rais “am PBNU KH. MA. Sahal Mahfudh. Pada tahun yang sama ia nyantri di Popongan Klaten, mencar ilmu Thariqah an-Nagsabandiyah dibimbing oleh KH. Salman Dahlawi, dan dinyatakan lulus sesudah mencar ilmu selama 100 hari.
Selain sibuk mengajar dan mengisi pelatihan-pelatihan Amtsilati di banyak sekali kota di Indonesia ia juga tetap produktif menulis. Di antara karyanya ialah Program Pemula Membaca Kitab Kuning: Amtsilati jilid 1-5; Qaidati: Rumus dan Qaidah, Shorfiyah: Metode Mudah Memahami Sharaf dan I’lâl, Tatimmah: Praktek Penerapan Rumus 1-2, Khulashah Alfiyah Ibnu Malik, ‘Aqidati: Aqidah Tauhid, Syari’ati: Fiqih, Mukhtarul Hadits 1-7, Muhadatsah, Kamus At-Taufik 587 halaman, Fiqih Muamalah 1-2, Fiqih Jinayat, Fikih Taharah, Fikih Munakahat, Fikih Ubudiyah 1-2, dan beberapa kitab lainnya. Sudah ada sekitar 30 buku, dan masih terus menulis. “Di mana saja menulis, di mobil, di mana saja menulis. Kalau ada mud menulis, kalo tidak, ya tidak,” katanya.
Pesantren Darul Falah yang dipimpinnya sekarang membimbing tidak kurang dari 650 santri. Santri Darul Falah ada dua kategori: santri tetap dan santri kilatan. Santri tetap harus mengikuti semua hukum yang ada dalam jadwal Amtsilati, sementara santri kilatan tidak diwajibkan banyak hafalan. Masa mencar ilmu bagi santri kilatan antara 1 minggu s.d. dua bulan saja.
Nama Al-Falah diambil dari nama pesantren Matholiul Falah, tempat ia pernah menjadi santri. Secara tidak resmi, Darul Falah ada semenjak Taufiqul Hakim lulus dari Pesantren. Secara resmi, Darul Falah didaftarkan ke Notaris (Bapak H. Zainurrohman, S.H. Jepara) tanggal 01 Mei 2002 dengan nomor pendaftaran 02.
***
Awalnya Tufiqul hakim menyimpulkan bahwa ternyata tidak semua nadzam atau syair dalam kitab Alfiyah yang disebut-sebut sebagai babonnya gramatikal arab itu tidak semuanya digunakan dalam praktek membaca kitab kuning. Dia menyimpulkan bahwa dari 1000 nazham Alfiyah yang terpenting hanya berjumlah sekitar 100 hingga 200 bait, sementara nazham lainnya sekedar penyempurna. Dengan bekal hafalan dan pemahamannya terhadap kitab Alfiyah, ia mulai menyusun metode Amtsilati. Penyusunan tersebut ia mulai dari peletakan dasar-dasarnya kemudian terus berkembang sesuai kebutuhan.
Amtsilati memberi rumusan berpikir untuk memahami bahasa Arab. Di sana ada rumusan sistematis untuk mengetahui bentuk atau posisi satu kata tertentu. Hal ini sanggup dilihat pada rumus utama isim dan fi’il atau tabel. Lalu juga ada rumus bayangan dhamīr untuk mengetahui jenis atau kata tertentu; penyaringan melalui dzauq (sensitivitas) dan siyāqul kalām (konteks kalimat).
Sebelum memasuki praktek, Amtsilati telah memberi rambu-rambu mengenai kata-kata yang serupa tapi tak sama (homonimi: homografi, homofoni). Kata-kata yang serupa ini sanggup terjadi dari beberapa kemungkinan: isim; fi’il mādhi; fi’il mudhāri’; fi’il amar; isim fi’il; huruf; dhamīr; isyrāh; maushūl; dan lainnya. Rumus selengkapnya terangkum dalam buku Tatimmah 1 hal. 3-7, 10, 12, 15-34.
Kelebihan Amtsilati ialah peletakan rumus secara sitematis, dan penyelesaian problem gramatikal Bahasa Arab melalui penyaringan dan pentarjihan. Selain itu, rumus yang pernah dipelajari diikat dengan hafalan yang terangkum dalam dua buku khusus, yaitu “Rumus Qaidati” dan “Khulashah Alfiyah”. Diharapkan, para pemula tidak perlu bersusah-susah mempelajari bahasa Arab selama 3 hingga 9 tahun; cukup 3 hingga 6 bulan saja. 
Ditulis oleh :
Abdul Rosyid
 Ketua Forum Mahasiswa Alumni Pesantren Lirboyo (FORMAL)Tulisan ini diambil dari skripsi penulis berjudul “Metode Amtsilati dalam Proses Penerjemahan: Studi Analisis Buku ‘Program Pemula Membaca Kitab Kuning’, Karya KH. Taufiqul Hakim” di Jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. (nam)
Sumber : http://www.nu.or.id 
http://aladamyarrantawie.blogspot.com/
http://www.facebook.com/Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan
http://www.facebook.com/Para.Pecinta.Habaib.dan.Ulama

No comments for "Kh. Taufiqul Hakim Penemu Metode Cepat Baca Kitab Amtsilati"