Widget HTML Atas

Kh. Marzuki Mustamar

Curriculum Vitae

Nama        : KH. Marzuki Mustamar

TTL            : Blitar, 22 September 1966       

Alamat      : PP. Sabilurrosyad Gasek Malang Telp.(0341) 564446

Pendidikan:

1.      Taman Kanak-kanak Muslimat Karangsono Kanigoro, Blitar  tahun 1972

2.      MI. Miftahul ‘Ulum, Tahun 1979

3.      Sekolah Menengah Pertama Hasanuddin, Tahun 1982

4.      MAN Tlogo, Tahun 1985

5.      PP. Nurul Huda, Mergosono         

6.      LIPIA Jakarta, Tahun 1988

7.      S-1 IAIN Malang, Tahun 1990

8.      S-2 UNISLA Tahun, 2004    

Istri: Hj. Saidah

Putra-Putri:

1.      Habib Nur Ahmad

2.      Diana Nabila

3.      Millah Shofiya

4.      M. ‘Izzal Maula

5.      ‘Izza Nadila

6.      Rossa Rahmania             

7.      Dina Roisah Kamila

Jabatan:

1.      Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang

2.      Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad

3.      Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang

4.      Dosen Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

5.      Penulis tetap di Media Ummat rubrik Mutiara Hadits dan Tanya Jawab

 

Penampilan dia sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak menerka bahwa dia ialah seorang kyai. Di balik kesederhanaan dia tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah dia di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara dia yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau.


Rajin Ngaji Sejak Kecil

Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 43 tahun yang lalu. Sungguh beruntung Kyai Marzuki lantaran dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya ialah seorang kyai. Alhasil, semenjak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang bau tanah dia dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang bau tanah dia inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai  Siti Jainab ini mulai belajar  al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata dia waktu kecil sudah dididik wacana kemandirian semoga mempunyai etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, dia mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah hingga sebelum berguru di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai berguru ilmu  nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih  kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar. Sejak SMP, dia diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada belum dewasa dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, dia sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada ketika dia kelas 3 SMP.

Selepas dari Sekolah Menengah Pertama Hasanuddin, dia melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Kyai Marzuki muda merupakan cowok yang beruntung alasannya ialah di usia dia yang masih belia itu, dia sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau  mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah Ridwan.

Ketika dia duduk di dingklik Aliyah, dia sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum dia berguru di Malang, selama di Blitar yang mengajar dia ialah Orangtua beliau, Kyai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib ialah guru dia di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah dia dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada Kyai Masduki Mahfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuki yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akibatnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun ketika itu Kyai Marzuki masih berusia 19 tahun. "Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib belahan buyuu’ (jual-beli),” Kenang kyai yang juga Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Selain itu, Kyai Marzuki juga beruntung, lantaran dia seringkali  diminta untuk mendampingi dakwah Kyai Masduki ketika mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kyai marzuki mulai mengetahui betapa beratnya kiprah seoarang ulama dalam mengayomi ummat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu, Kyai Marzuki berguru akan keistikomahan menjadi seorang guru.  Kyai Masduki Mahfud itu meskipun pulang malam hari dari mengisi pengajian, dia selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,” ungkap Kyai Marzuki.

Salah satu kelebihan beliau, ketika masih duduk di dingklik kuliah, Kyai Marzuki sudah biasa memperlihatkan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya. Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya berguru nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan dia semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kyai berputra tujuh ini mendapat kesempatan  berguru di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, Kyai Marzuki kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1.



Membangun Rumah Tangga dan Pesantren

Pada tahun 1994, Kyai Marzuki memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda  yang berjulukan Saidah. Sang istri merupakan putri Kyai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kyai Marzuki sangat bersyukur sekali alasannya ialah gadis yang menjadi pendamping hidup dia ialah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).

Selang satu bulan sesudah menikah, Kyai Marzuki bersama istri mencoba mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuki memilih  kawasan Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya, dia mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, dia ngontrak di rumah salah seorang warga yang berjulukan pak Har. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kyai Marzuki akibatnya menempati tempat yang baru. Pada ketika dia boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kyai Marzuki boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama dia menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang tiba mengaji kepada beliau. Di rumah yang sederhana itulah Kyai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu berguru merupakan cikal bakal santri dan pesantren dia yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah dia tidak memadai sebagai tempat berguru mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT memperlihatkan jalan. Waktu itu di kawasan Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah mempunyai lahan luas. Namun, sesudah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum sanggup berkiprah secara optimal. Akhirnya Kyai Marzuki berhubungan dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikkan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.

Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memperlihatkan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke majid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kyai Marzuki juga aktif di banyak sekali organisasi kegamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang. Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai pola dia menyusun sebuah kitab, wacana dasar-dasar atau dalil-dali amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak baiklah dengan sebagian amaliayh warga Nahdhiyyin. Saking ahli dan lugasnya dia membuktikan itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan "Hujjatu NU". "Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU" Demikian pernyataan Kyai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.    

Meski acara dia sangat padat, namun, Kyai yang juga penasehat FKUB ini tetap berusaha untuk menjadi orangtua yang baik. Beliau begitu dekat dan dekat dengan belum dewasa dia yang masih kecil-kecil itu. Tak jarang pula, dia ikut mengantarkan atau menjemput putra putri dia sekolah. Dari hasil janji nikah dengan Bu Nyai Saidah, Kyai marzuki dikaruniai tujuh orang putra. Dua pria dan lima perempuan. Semua putra putrinya disekolahkan di SD Sabilillah Blimbing. Kecerdasan Kyai Marzuki tampaknya menurun kepada putra-putrinya, terbukti dengan nilai mereka yang seringkali mendapat nilai tepat termasuk pelajaran eksakta. Bahkan beberapa waktu yang kemudian putri dia menjadi juara Olimpiade Matematika di Yogyakarta.



Sumber : http://www.pesantren-gasek.net/index1.php?kode=25

No comments for "Kh. Marzuki Mustamar"