Widget HTML Atas

Kh. Ahmad Basyir Jekulo Kudus

KH. Ahmad Basyir, Ngaji Riwayah dan Diroyah

بدلائل الخيرات كن متمسكا والزم قرأتها تنل ما تبتغى
Ulama’ ialah pewaris para nabi. Ia mamainkan tugas yang tidak sedikit dalam masyrakat. Sebagai center of attention in Islamic civilization (figure sentral dalam masyarakat Islam ) ulama’ tak obahnya pengayom masyarakat yang kiprahnya selalu dirindukan. Dalam lokalitas masyarakat manapun keberadan ulama’ menjadi unsur yang paling memilih bagi nafas hidup wilayah itu. Kudus, eksistensinya sebagai kota santri tetap survive alasannya ialah keberadaan para ulama’ yang selalu mengayomi. Maka tak heran jikalau Kudus menjadi simpul keilmuan para santri baik dari dalam, maupun luar daerah. Tak ubahnya Kudus menjadisurga bagi santri mengapa? Karena Kudus ialah gudang ulama’ khos. Banyak ulama’ di Kudus yang menjadi simpul peraduan masyarakat salah satu diantaranya ialah KH. Ahmad Basyir.
Masa kecil
30 november 1924 M silam ialah hari yang paling indah bagi pasutri Kyai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh. Hari itu, lahir seorang bayi mungil yang kelak menjadi orang besar, ulama’yang kuat di tengah masyarakat, menjadi referensi banyak orang dari berbagia penjuru tanah air. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu dititihkan nama Ahmad Basyir, orang yang menyuguhkan nafas kebahagian bagi umat. Kelahiran dia ialah “anugerah” terindah, bukan hanya bagi kedua orang tuanya, namun juga banyak kaum muslimin diseluruh tanah air.
Memburu ilmu
Saat usia kanak-kanak, KH. Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal di Veer Folex Schooll (sekarang SD) dan menamatkan jenjang kelas V. Pada ketika itu belum ada jenjang kelas VI. Sekolah tempat KH.Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal itu kini menjadi SD Negeri 1 Jekulo. Selama mengenyam pendidikan di sana, dia acapkali menjadi juara kelas. Karena prestansinya yang begitu gemilang, dia pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk jadi guru di sekolah itu.
Usai menamatkan pendidikan di Veer FolexSchooll, dia melanjutkan pendidikan non formal di madrasah Diniyyah yang kini berjulukan Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini dia dididik oleh para Kyai sepuh, diantaranya ialah KH.Dahlan. di luar aktifitas berguru di madrasah Diniyyah, dia mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, K. Hudlori dan KH. Zainuddin.
Dalam bidang Al-Qur’an, masa muda dia berguru kepada Kyai Muhammad Mubin (ayahnya sendiri) dan Kyai Mukhib, dan pentashihan Al-Qur’an kepada KH. Mansyur Jekulo.
Selain rasa haus dia terhadap ilmu, ketika masih remaja, dia juga mulai gemar berziarah kemakam-makam para wali, menyerupai Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, dan makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’I dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo), yang tidak pernah dia tinggalkan hingga sekarang. Itu ialah perwujudan rasa ta’dzim dia kepada para Masyayeh dan Auliya’.
Termasuk tradisi dia ketika masa mudanya ialah silaturrahim kepada para Ulama’, menyerupai KH. Hamid Pasuruan. Beliau juga sering mengikuti khataman Al Qur’an bersama Mbah Arwani Kudus, baik di Kudus maupun di luar daerah.
Sebelum betul-betul menetap dalam menimba ilmu di PP. Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), pada tahun 1940 M dia juga sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyah di PP.Kenepan Langgar Dalem Kudus, waktu itu dia berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, menghatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para Masyayeh di sekitar Kudus, diantaranya ialah KH. Irsyad danKH. Khandiq, abang dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.
Saat dia masih usia remaja, Mbah basyir seringmengikuti Romonya mengajar di Pesantren, oleh ibunya Nyai Dasireh Kyai Basyir kecil juga sering diajak sowan kepada Mbah Yasin ketika itulah dia diwejangi oleh Mbah Yasin supaya dia mengurungkan niatnya menjadi guru sekolah. Beliau diajak oleh mbah Yasin supaya nyantri pada mbah beliau, si mbah yasin itulah yang mengukir jiwa mbah Basyir.
Mulai ketika itu mbah Basyir mengabdi pada mbah Yasin mulai dari abdi dalem hingga jadi qori’, menjadi badal mbah Yasin mengajar para santri. Sejak ketika itu, populer tiga serangkai ulama’ yang termasyhur, yaitu Kyai Muhammad, putra mbah Yasin, Kyai Hanafi menantunya, dan mbah Basyir sebagai lurah pondoknya. Pada waktu nyantri pada mbah Yasin dia juga menimba ilmu pada KH. Muhammadun Pondohan Tayu.
Aktivis
Semas mudanya sekitar tahun 1944-1945 M. dia bergabung dalam BPRI ( tubuh perjuanganrepublic Indonesia) sebuah organisasi cowok yang gigih memperjuangkan kemerdekaan RI ketika itu BPRI dipimpin oleh bapak karmain dan bapak mulyadi jekulo. Sebelum masuk BPRI dia masuk organisasi GPII ( gerkan cowok islam Indonesia)
Masa usaha kemerdekaan ketika itu, dia faham betul, alasannya ialah dia ialah pelaku sejarah. Saat itu, kiayi basyir menjabat ketua pondok. Setiap ada pejuang yang ditahan direndenga, dia bergegas mengupayakan sesuatu untuk membebaskannya.
Dalam pengembaraannya untuk tolabul ilmi pada tahun 1949 M. dia kembali ke kawasan jekulo dan kembali nyantri di popes bareng jekulo asuhan kiayi H yasin. Sembari menimba ilmu, dia mengabdi kepada kh. Yasin. Semua urusan mbah yasin dia yang mengurusi. Bahkan, menyimpan uang sekalipun dipercayakan kepada mbah basyir. Suatu ketika mbah yasin waktu itu menderita penyakit bawasir. Dalam kondisi ini, mbbah basir selalu ada untuk merawat beliau.
Kiayi basir sanggup banyak mendapat pelajaran berharga dari pengabdiannya pada simbah yasin. Beliau tidak hanya mengaji riwayah, tetapi juga mengaji dirayah.
Sembari mengaji dan mengabdi, dia melaksanakan riyadhah puasa tahunan, ijazah dari mbah yasin. Adab dia pada sang guru begitu luar biasa. Konon, setiap menyelesaikan riyadah puasa berliau tidak berani meminta khizib ibi atau itu. Beliau matur kepada simbah yasin,” kulo sampun ba’do siyam”, tidak “nyuwun niki niku”
“Ini rasa ta’dhim kepada guru” inilah cara orang dahulu dalam ta’dhgim kepada guru, bagaimana mereka mencicipi ilmunya,” ujuar kiayi KH. Ahmad badawi (putra kiayi basyir).
KH basyir menghabiskan masa mudanya sebagai santri, abdi kiayi, hari dia dipenuhi dengan rutinitas berlajar, pekerjaan keseharian danpuasa. Rutin dengan riyadha selama puluhan thahun, pada th 1958 M oleh KH yasin dia diserahi ijaZah dalail khoiroit beserta khizib-khizibnya.
Mendirikan pesantren
Pada tahun 1969M. bersama dengan kiayi lain, dia mendirikan madrasah diniyah Nurul Ulum Jekulo Kudus. Nama nurul ulum merupakan pemberian KH. Cholil. Madrasah tersebut dipimpin kyai Khalimi dengan guru-gurunya ialah K. Cholil, KH. Khalimi, KH. Ahmad Basyir, dan K Mahin
Tahun 1970 M. dia mendirikan pesantren Darul Falah yang bertempat disebelah utara masjid kauman jekulo. Cikal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir. H. Basyir memberi wakaf bangunan kuno kepada K AhmadBasyir. Kemudian bangunan itu dijadikan pondok pesantren yang diberi nama DARUL FALAH, tepatnya pada tanggal 1 januari 1970 M.
Berkeluarga
KH. Ahmad Basyir menikah dengan Hj. Sholikhah binti KH. Abdul Ghoni yang lahir didesa Hadiwarno Mejobo Kudus pada tanggal 31 desember 1946 M. pernikahannya dengan Nyai Hj. Sholihah ini dikaruniai Sembilan anak.
Dimata keluarga, kyai Basyir ialah sosok ayah yang penyanyang. Beliau selalu memberi teladan kepada keluaganya. Keuletan dan kesabaran dia menjadi pandangan gres bagi putra putrinya. Sosok K Basyir di tengah keluarga tidak sekedar kepala rumah tangga, tetapi juga sosok idola yang menjadi pandangan gres teladan putra-putrinya.
K. Basyir ialah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh pengabdian dan berfikir progresif. Perjuangan dia untuk keluarga tak pernah letih, apalagi putus asa. Tidak sedikit usaha dia untuk anak anaknya. Pada saatitu dibareng tidak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat bareng ialah tabu. Kendati demikian K Basyir menyurau anaknya sekolah. Setiap pagi dia menggayuh sepeda hingga kudus kulon untuk mengantarkan putrinya sekolah. Saat itu dia menyekolahkan putrinya dimadrasah Mualimat. Di mata masyarakat. KH. Ahmad Basyir , sosok yang moderat dan menjadi pembaharu.
Menghadapi masyarakat dia tampil khas dan kharismatik. Kedatangan tamu yang bermacam-macam jenis dari banyak sekali penjuru, dengan karakte masing masing, dengan membawa persoalan yang kompleks, dia menghadapinya dengan santun dan hormat tanpa membedakan.
Beliau orang yang tidak pemarah, dikerutan wajahnya yang bersinar itu, dia selalu tersenyum segar. Senyum itu menjadi siraman rohani bagi orang yang dia temui. Di mata santri dan masyarakat dia ialah dermawan. Komitmen dia jangan hingga santri rekoso dalam belajar. Beliau menangisi (memperjuangkan) anak dan santri (sungguh) luar biasa. Ujar KH. Badawi. KH. Ahmad Basyir memegang falsafah ilmu itu harus diamalkan walau hanya satu kali, kalau ingin manfaat.
Teladan
KH. Ahmad Basyir ialah teladan yang patut kita contoh. Beliau ialah seorang ulama’ yang mentradisikan riyadhoh (laku prihatin) semenjak mudanya hingga sekarang. Tradisi itu masih dia pegangi hingga usia ke 88 tahun ini. Keseharian dia dihabiskan untuk beribadah, berjama'ah, ngucal kitab kuning, ziarah, menyuguh tamu serta selebihnya untuk keluarga dan masyrakat.
Saat malam hari sehabis mendidik santri dia istirahat sesaat. Disaat orang tertidur lelep beliaudipastikan berdiri ba’da nisfu lail dia melaksanakan rutinitas dia menyerupai wirid, sholat malam dan ibadah lainnya hingga waktu subuh tiba. Saya tidak pernah melihat mbah Basyir tidursetelah jam dua belas malam. Ujar KH M. Jazuli.
Sehabis menjadi imam jamaah sholat subuh di Masjid baitussalam, rutinitas dia ialah berziarah ke makam masyayeh dan auliaya' sebagai guru beliau, yang hingga ketika initidak pernah dia tinggalkan. Itu ialah bentukta’dhim dia tehadap para ulama’ yang telah mewariskan ilmu kepada beliau. Pada masa muda dia terbiasa dengan puasa Dalail Khairatdan riyadhah lainnya, hingga jadinya dia diutus menjadi mujiz Dalail Khairat.
Enome riyalat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto demikian dia memberi penyegaran rohani kepada para santri yang hendak mengamalkan tradisi riyadhah. Baik puasa dalail maupun riyadhah lainnya. Menurut KH. Jazuli ungkapan itu diartikan sebagai bentuk usaha yang sungguh ketika masih muda baik dalam menuntut ilmu dan riyadah, ketika hingga waktunya orang tersebut akan mendapat kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Rasa ta’dhim yang dia agungkan ketika ini juga merupakan suri teladan yang pasti kita teladani. Yang dia tradisikan hingga ketika ini ialah berziarah ke makam para auliya di lingkungan Jekulo, yang merupakan guru guru beliau. Disinilah simpul korelasi guru dan murid yang tak pernah putus, terus berkesinambungan.
Banyak hal kida sanggup teladani dari beliau, mulai dari kegigihan menuntut ilmu, kreatifitas hidup, usaha hingga akhlaqul karimah yang menjadi tempat kita berkiblat.


Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=216266841850340&set=a.136312209845804.40121.100004010769061&type=1&theater