Widget HTML Atas

Kh. Abdul Mukti Bin Harun

Lahir di Pandaan, Pasuruan, pada Tahun 1896. Wafat 9 April 1963, Dimakamkan di Pemakaman Umum Kasin, Malang. Pendidikan Ponpes di Kauman yang diasuh KH. Yasin Bangkalan. Putra/Putri 17 Orang
Perjuangan/Pengabdian :
Mudarris Masjid Agung Jami' Malang, Salah satu Perintis Masjid Al Mukarromah, Kasin, Syuriyah NU Cabang Malang.
Penggembleng Pejuang Kemerdekaan, yang Ahli Hizib
Bagi warga Kota Malang, khususnya warga Kasin nama KH. Abdul Mukti sudah tidak abnormal lagi. Sosok kiai asal Pandaan yang dilahirkan pada tahun 1896 ini, dikenal sebagai kiai yang waro’ dan mukhlis, serta hebat tasawuf. Sejak muda, putra pertama KH Harun dari enam bersaudara ini sudah ulet berdakwah, dan mengabdi di Ponpes Kauman (belakang masjid Agung Jami’ Malang), yang dirintis KH. Yasin asal Kuanyar Bangkalan. Selain itu, juga ikut berkiprah di Masjid Agung Jami’ Malang, bahkan keberadaan Kiai Mukti cukup disegani pada waktu itu oleh tentara Belanda dan Jepang.
Setelah menikah dengan Ibu Nyai Zahroh, putri ketiga KH. Yasin, Kiai Mukti diminta warga Kasin untuk menetap dan membina masyarakat Kasin, pasca wafatnya Mbah Muhammad. Karena figur ulama dan ketokohan Kiai Mukti sangat dibutuhkan. Bahkan, KH. Abdul Karim sekeluarga rela menunjukkan tanahnya untuk dibangun rumah dan pondok pesantren, serta Langgar Al Mukarromah (kini menjadi Masjid Al Mukarromah, dan menjadi monumen tentara Hizbullah), yang dirintis dan dikelola Kiai Mukti.
Di Ponpes Kasin itulah, Kiai Mukti yang hebat hizib itu membangun umat dan memberi semangat kepada tentara Hizbullah untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Para santri yang berdatangan ke ponpes, tidak hanya dari Kota dan Kabupaten Malang, ibarat Gondanglegi dan Kepanjen. Tapi juga dari Pandaan, Bangil, Pasuruan, Jember, Lumajang, dan beberapa kota lainnya.
Para santri selain diajar ilmu tasawuf, juga diajarkan ilmu fiqih, dengan referensi kitab-kitab klasik (kitab kuning, yang hingga kini masih tersimpan hebat warisnya). Menariknya, selain ada yang nyantri untuk berguru ilmu agama, ada juga yang tiba ke ponpes Kiai Mukti hanya ingin digembleng dan minta wirid atau hizib sebelum mereka ikut berjuang mengusir Belanda. ‘’Sebagian besar tentara Indonesia, yang tergabung dalam barisan Hizbullah selalu minta doa restu, dan penggemblengan biar mereka memiliki keberanian dan selamat dalam pertempuran,’’ kata H. Umar Maksum, santri Kiai Mukti, yang masih hidup, dan kini berusia 92 tahun.
Bahkan, berdasarkan Umar Maksum, mantan Komandan Pertempuran Hizbullah Jatim pada 1946 ini, Bung Tomo, pencetus pertempuran 10 Nopember di Surabaya sempat sowan dan minta digembleng Kiai Mukti. ‘’Waktu itu, oleh Kiai Mukti, Bung Tomo diberi wirid, dan air minum, serta dibekali dengan bambu runcing,’’  kenang Umar Maksum, yang pernah mendapatkan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya dari Presiden Suharto pada 15 Desember 1971.
Perjuangan Kiai Mukti pada masa penjajahan Belanda diakui, cukup besar, terutama dalam training mental dan rohani para santrinya yang ikut berjuang. ‘’Pernah suatu ketika, sewaktu Kiai Mukti sedang menggembleng sekitar satu kompi atau sekitar 100 tentara di pondoknya. Tiba-tiba tentara Belanda tiba untuk menangkap mereka. Mengetahui hal tersebut, Kiai Mukti kemudian mengumpulkan para tentara di belakang laga Al Mukarromah. Anehnya, sewaktu tentara Belanda mencari mereka di pondok, di rumah Kiai Mukti dan di langgar  Al Mukarromah tidak ditemukan seorang pun tentara,’’  ungkap Umar Maksum, yang meski diusia senja masih tampak sehat dan bugar.
Dimata anak cucunya, Kiai Mukti yang memiliki 17 putra-putri ini dikenal sangat penyabar, disiplin, bahkan tidak banyak bicara. ‘’Demikian juga dalam menerapkan pendidikan, Kiai Mukti menunjukkan kebebasan kepada anak cucunya. Asalkan tidak hingga meninggalkan syariat Islam,’’ kata Umi Rosidah, satu-satunya cucu putri, yang menjadi kesayangan Kiai Mukti.
Demikian juga dalam hal bershodaqoh dan mencari nafkah, Kiai Mukti yang juga pernah menjadi Syuriyah NU Cabang Malang selalu menekankan biar melaksanakan ihtiar dan mencari barokah. Tidak ngoyo dalam mencari harta, dan tidak pelit dalam mengeluarkan shodaqoh. Karena prinsipnya, sepanjang insan itu masih bernafas, berarti masih ada rizkinya. ‘’Mungkin alasannya ialah ihlasnya. Dulu, di pondok Kiai Mukti itu selalu tiba kiriman dari masyarakat. Baik berupa beras, ketela pohon, dan beberapa materi makanan pokok, yang ditempatkan di beberapa gudang. Namun, materi makanan itu kembalinya juga kepada santri, tentara yang tiba ke pondok, dan masyarakat sekitar Kasin,’’  tambah Umi Rosidah, putri Ibu Makiyah, putri pertama Kiai Mukti.
Kiai Mukti dipanggil menghadap Allah SWT pada 9 April 1963 sekitar pukul 11.00 WIB di kediamannya di Kasin, yang kini menjadi Jalan Arief Margono alasannya ialah sakit panas, dan dimakamkan di pemakaman umum Kasin.

Sumber : http://www.masjidjami.com/profile-kyai/kh-abdul-mukti-bin-harun-.html