Widget HTML Atas

Iskandar Zulkarnain, Sang Penakluk Yang Saleh

Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan kami telah memberikannya jalan untuk mencapai sesuatu.

Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi cuilan barat hingga timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang mempunyai kekuasaan antara timur dan barat.
Alexander Yang Agung, Penyatuan Timur dan BaratSejak kecil, Iskandar sudah tidak senang melihat peperangan antara timur, yaitu kerajaan Persia, dan Barat, Kerajaan Romawi. Perang itu tak ada hentinya dari tahun ke tahun, malah dari kala ke abad. Ribuan insan tewas, kerugian harta benda tak terhitung lagi jumlahnya, apalagi kerusakan lingkungan hidup, merugikan insan itu sendiri.
Untuk menghentikan permusuhan antara timur dan barat, Iskandar bercita-cita mendirikan sebuah kerajaan yang sanggup menyatukan wilayah timur dan barat.
Iskandar pun tumbuh menjadi insan cukup umur yang saleh, berakhlak dan berbudi tinggi. Atas segala kesalehannya itu, Allah mengaruniakan kepadanya segala kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemimpin, kemudian Allah memerintahkan untuk menyeru insan kepada agama tauhid.
Iskandar Zulkarnain memutuskan menggempur mereka yang durhaka dan jahat, sedangkan orang yang baik akan dilindungi. Sebelumnya ia berkata kepada bangsa tersebut, “Siapa yang aniaya, akan kami siksa dan dikembalikan kepada Tuhan, biar Tuhan menawarkan siksa yang lebih pedih lagi. Adapun orang-orang yang saleh dan baik, akan kami lindungi, dan kepadanya kami hanya akan memerintahkan kewajiban-kewajiban yang ringan.”
Kemudian tentaranya bergerak menewaskan setiap orang yang kejam, melindungi setiap orang yang baik. Akhirnya negeri itu sanggup diamankan dan di tentramkan serta di atur sebaik-sebaiknya, penuh dengan kehidupan senang dan makmur,
Setelah selesai menunaikan kewajiban terhadap bangsa dan negeri itu, Iskandar dengan tentaranya menuju ke arah timur, India. Dilihatnya matahari di atas bangsa yang musyrik, yang menyembah banyak tuhan, yaitu bangsa Hindustan.
Bangsa dan negeri itu pun sanggup ditaklukkan, diamankan dan ditentramkannya, serta diatur sebaik-baiknya sehingga setiap orang sanggup mencicipi hidup aman, tentram dan bahagia. Bangsa itu juga sanggup dikeluarkan dari lembah kesesatan.
Selesailah sudah kewajibannya terhadap bangsa dan negeri itu. Ia kemudian menuju ke utara, negeri Armenia, melalui Persia dan Azarbaijan. Kemenangan demi kemenangan dicapainya selama dalam perjalanan itu, risikonya sampailah di suatu tempat, di sana ia bertemu dengan suatu bangsa yang selalu dalam ketakutan dan ke khawatiran, alasannya yaitu ternyata negeri itu berbatasan dengan bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang populer berpengaruh dan kejam. Bukan sekali dua kali saja, tetapi seringkali bangsa Ya’juj dan Ma;juj itu tiba menyerang mereka, menghancurkan apa saja yang didapatinya dan membunuh siapa saja yang dijumpainya.
Kedatangan Iskandar ini, mereka sambut dengan segala kehormatan dan kegembiraan, alasannya yaitu mereka tahu dari kabar yang beredar bahwa Iskandar yaitu Raja yang berpengaruh dan paling adil di muka bumi ini.
Lalu mereka meminta pertolongan kepada Iskandar, biar dilindungi dari serangan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka memohon supaya antara negeri mereka dan negeri Ya’juj dan Ma’juj dibangun dinding raksasa yang tidak sanggup ditembus. Sebagai imbalannya mereka sanggup membayar mahal Iskandar.
Mendengar permohonan itu, Iskandar Zulkarnain menjawab, “Saya tidak mengharapkan upah dari kalian, nikmat dan pemberian Tuhanku lebih berharga daripada upah itu. Hanya kepada kalian saya minta kaum pekerja dan alat-alatnya: besi, tembaga, arang kerikil dan kayu.”
Setelah semuanya terkumpul, ia mulai bekerja dengan pertolongan para pekerja. Mula-mula menyalakan api dengan kayu dan arang batu, diambilnya besi, kemudian dileburkannya dengan api, sesudah besi itu mencair, dituangkannya tembaga, dan diaduk menjadi satu. Dengan materi gabungan inilah di dirikan dinding raksasa antara negeri itu dan negeri Ya’juj dan Ma’juj. Dinding besi raksasa itu tidak sanggup di tembus dan di lubangi oleh siapapun dan oleh apapun.
“Dinding ini yaitu rahmat dari Tuhan kepada kalian, hanya tuhanlah yang sanggup menembus dinding ini, bila dikehendakinya,” kata Iskandar. Maka kondusif dan tentramlah negeri tersebut.
Iskandar Zulkarnain sanggup menaklukkan negeri-negeri yang terbentang antara timur dan barat. Dengan demikian cita-citanya untuk mempersatukan kerajaan di timur dan barat tercapai. Negeri yang berada di bawah kekuasaannya, antara lain Maroko, Romawi, Yunani, Mesir, Persia dan India.
Berkat ilmu dan pengetahuannya yang luas, serta dasar ketuhanan yang selalu dipagang teguh dalam mendirikan kerajaan yang besar itu. Penduduknya hidup dengan aman, tentrem dan makmur. Kebesaran dan kejayaan itu tidak membuatnya buta dan lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT.

Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Zulkarnain (Bagian Ketiga)

Menurut Khair Ramdhan Yusuf, dalam bukunya Iskandar Zulkarnain, Panglima Perang, penakluk dan pemerintah yang saleh, kajian terperinci berdasarkan Al-Qur’an, Sunah dan Sejarah, terbitan Malaysia, ada empat sosok yang berkaitan dengan nama Iskandar Zulkarnain. Yaitu, Iskandar Macedonia, Zulkarnain Al-Hamiri, Raja Himyar, seorang lelaki saleh pada zaman Nabi Ibrahim, dan Kursh Al-Akhmini Al-Farisi.
Kendati begitu kita sanggup membaca dengan terperinci kisah Iskandar Zulkarnain ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 98, yang artinya, “Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad, wacana Zulkarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepadamu dongeng tentangnya.”

“Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan kami telah menberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu, maka ia pun menempuh jalan tersebut. Hingga apabila telah hingga ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam di dalam bahari yang berlumpur hitam, dan ia mendapatinya di situ segolongan umat”.

Kami berkata, “Hai Zulkarnain kau boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka.”
Berkata Zulkarnain, “Adapun orang yang aniaya, kami kelak akan mengazabnya, kemudian ia kembali kepada Tuhannya, kemudian tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang yang beriman dan bersedekah saleh, baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya yang gampang dari perintah-perintah kami.”
Kemudian ia menempuh jalan lagi, hingga apabila telah hingga ke tempat terbitnya matahari ia mendapati matahari yang menyinari segolongan umat yang kami tidak menimbulkan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu.”
Demikianlah, dan bergotong-royong ilmu kami mencakup segala apa yang ada padanya, Zulkarnain. Kemudian ia menempuh suatu jalan lagi, sehingga apabila telah hingga diantara dua buah gunung ia mendapati kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
Mereka berkata, “Hai, Zulkarnain bergotong-royong Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang menciptakan kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami menawarkan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kau menciptakan dinding antara kami dan mereka?” Zulkarnain berkata, “apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku yaitu lebih baik, maka tolonglah saya dengan kekuatan biar saya menyebarkan dinding antara kau dan mereka, berilah saya potongan-potongan besi.”
Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua gunung itu, berkatalah Zulkarnain, “Tiuplah, dan katika besi itu sudah menjadi api, ia pun berkata, berilah saya tembaga untuk saya tuangkan ke atas besi panas itu.”
Maka mereka, Ya’juj dan Ma’juj tidak sanggup mendakinya, dan mereka tidak sanggup melubanginya.
Zulkarnain berkata, “Ini yaitu rahmat dari Tuhanku. Maka apabila sudah tiba akad tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh, dan akad Tuhanku itu yaitu benar.”

Zulkarnain, Nabi Ibrahim dan Nabi Khidir


Sungguhpun kekuasaan dan keperkasaannya tak tertandingi, adab dan hatinya selembut sutra, hingga karenanya ia gampang menyerap bukti kebenaran Ilahi. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, menceritakan, suatu ketika Iskandar Zulkarnain mendatangi suatu kaum yang tidak mempunyai harta benda apapun yang sanggup di nikmati. Lalu ia mengirim surat kepada Raja mereka dan berpesan biar Raja bersedia membalas suratnya.
Namun Raja itu menolak seruan Zulkarnain, malah sebaliknya, ia berkata, bila Zulkarnain merasa ada kepentingan dengannya, sebaiknya dialah yang tiba menemuinya.
Maka Zulkarnain pun pergi menemui Raja mareka, “Aku telah mengirimkan surat kepadamu dan memintamu tiba kepadaku, tetapi kau menolak, maka saya tiba kepadamu,” kata Zulkarnain sesudah hingga di istana Raja.
Sang Raja pun berkata, “Seandainya saya membutuhkanmu, saya niscaya akan tiba kepadamu.”
Sebagaimana bila saya melihatmu berada dalam suatu keadaan yang tak pernah dialami oleh siapapun?” tanya Zulkarnain.
“Apa itu?” sang Raja belik bertanya. “Kalian tidak mempunyai harta dunia apapun. Kenapa kalian tidak mempunyai emas dan perak hingga kalian sanggup menikmatinya?” balas Zulkarnain.
“Tetapi kami membenci dua hal tersebut, alasannya yaitu seorang tidak mendapat apapun dari emas dan perak itu, kecuali hanya menginginkannya lebih dari itu,” jawab raja itu dengan tangkas.
Zulkarnain melanjutkan pertanyaannya, “Apa maksud kalian menggali kuburan kemudian sesudah itu kalian menjaganya, membersihkannya, dan sembahyang di sana?”
Raja itu kembali menjawab, “Kami ingin, bila kami memandang kuburan-kuburan itu dan mengharapkan dunia, kuburan-kuburan itu akan menghalangi kami dari harapan itu.”
Zulkarnain bertanya lagi, “Aku melihat kalian tidak mempunyai masakan kecuali sayur sayuran, kenapa kalian tidak mempunyai binatang ternak, hingga kalian sanggup memerah susunya, menungganginya dan menikmatinya?”
Mereka menjawab, “Kami tidak suka menimbulkan perut kami sebagai kuburan bagi binatang itu. Dan kami melihat di dalam tumbuh-tumbuhan itu faedah yang besar. Cukuplah anak adam mempunyai kehidupan yang rendah alasannya yaitu makanan. Dan masakan apa saja yang melewati rahang bawah kami rasanya sama saja menyerupai masakan yang pernah kami makan sebelumnya.”
Setelah Zulkarnain meninggalkan raja itu dengan kagum dan menimbulkan penjelasannya sebagai sebuah nasehat yang berharga.
Dalam setiap perjalananya, Zulkarnain selalu memperlakukan bangsa dan suku yang ditaklukkannya dengan amat baik dan santun. Tak mengherankan bila ia menuai kesuksesan dan selalu mendapat dukungan dari kawasan yang telah di kuasainya.
Selain itu, Zulkarnain juga didampingi seorang penasihat kerajaan yang baik dan sangat luas pengetahuannya, yang tiada lain adalah Nabi Khidir AS.
Sebagian ulama menyebut, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Khidir AS, kemudian mengajarkan Wahyu tersebut kepada Zulkarnain.
Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi Iskandar Zulkarnain, Sang Penakluk Yang SalehSeorang mufassir lain, Al-Alusi, dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma’ani, berkata, “Mungkin Khidir yaitu salah satu pembesar kerajaan, menyerupai perdana mentrinya,  alasannya yaitu tidak tertutup kemungkinan bahwa Zulkarnain bermusyawarah dengan orang lain dikala menghadapi suatu masalah. Sebab pada dikala itu, istilah yang dikenal untuk menyebut orang pandai, termasuk Nabi, yaitu “Ahli Hikmah”. selain itu, pada masa-masa dahulu, para Nabi juga sering disebut dengan istilah “Orang bijak,” atau “Hakim”.
Wahab bin Munabbah dalam kitabnya At-Tijan mengisahkan, pada suatu ketika Nabi Khidir AS berkata kepada Zulkarnain, Wahai Tuanku, tuan membawa suatu amanat yang seandainya diberikan kepada langit, langit itu akan runtuh, bila diberikan kepada Gunung, maka Gunung itu akan roboh, dan bila diberikan kepada Bumi, maka bumi itu akan terbelah. Tuanku telah diberi kesabaran dan kemenangan. Tuanku akan melihat suatu kaum yang menyembah sesama insan dan mereka yaitu musuh-musuh Allah, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Allah yaitu penuntut tidak akan terkelabui oleh orang-orang yang melarikan diri, dan tidak akan dikalahkan oleh orang yang “Menang”.
Kata Nabi Khidir lagi, “Wahai tuanku, ambillah apa yang telah diberikan Allah SWT kepada tuan dengan keteguhan hati dan sungguh-sungguh. Jadikanlah kesabaran sebagai pakaian, kebenaran sebagai pegangan hidup, dan takut kepada Allah sebagai proteksi yang menumbuhkan amal pada tuan, dan tuan akan hening dari ketakutan akan datangnya ajal. Ambillah pedang Allah dengan tangan tuan, alasannya yaitu tidak ada orang yang sanggup menolong dan tidak ada orang yang sanggup mencegah kemenangan. Cukuplah bagi tuan, Allah sebagai penolong tuan.”
Dalam Almuhadlarah al-Awali, kitab yang dikutip Ibnu Katsir, disebutkan, suatu ketika Nabi Ibrahim AS bertemu dengan Zulkarnain di Mekah. Nabi Ibrahim Memeluk dan menjabat tangan Zulkarnain  serta memberinya bendera. Lalu ia mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi itu dan menyeru kepada insan biar berpegang teguh pada syariat tersebut.
Hal ini dikuatkan kembali oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW, Ubaid bin Umair dan anaknya, Abdullah, yang menyatakan, selama masa jayanya, Iskandar Zulkarnain pernah melakukan haji dengan berjalan kaki. ketika Nabi Ibrahim mendengar isu tersebut, ia menemuinya seraya menyeru kepada agama Tauhid dan menawarkan beberapa nasehat. Nabi Ibrahim juga membawakan Zulkarnain seekor kuda biar dinaikinya. Akan tetapi Zulkarnain menolak, seraya berkata, “Saya tidak akan menaiki suatu kendaraan di suatu tempat yang di dalamnya ada Ibrahim Al-Khalil, yang dikasihi Allah.”

 

No comments for "Iskandar Zulkarnain, Sang Penakluk Yang Saleh"