Widget HTML Atas

Habib Muhammad Mahdi Assegaf: Barakah Sepatu Hitam


 lahirlah satu pandangan gres yang kemudian mengubah jalan hidupnya Habib Muhammad Mahdi Assegaf: Barakah Sepatu HitamDalam kebingungan, lahirlah satu pandangan gres yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
Ada yang sangat berbeda dari pemandangan Peringatan Maulid Agung Nabi Muhammad SAW kali itu, hari Jum’at (27/4). Pada kegiatan akbar yang dipusatkan di Jalan Artzimar III (Bojong Enyod) Tegal Gundil, Bogor Utara, kali itu, tak terlihat bawah umur muda yang berebut areal parkir di sekitar acara.

Semua lokasi parkir dikondisikan dengan tertib oleh panitia, yang dibantu para cowok dari Barisan Bogor Raya Padjajaran. Tak ada asap rokok yang mengepul sepanjang program berlangsung. Bahkan, tak terlihat juga pemuda-pemudi yang berdua-duaan di area peringatan Maulid. Lokasi untuk kaum perempuan disediakan khusus, tidak bercampur baur dengan hadirin pria.

Kondisi semacam inilah yang memang dikehendaki oleh sosok dai muda yang kala itu terlihat berwibawa di depan panggung, yang terbuka dari semua sisinya. Dialah Habib Muhammad Mahdi Assegaf. 

Nama lengkapnya Muhammad Mahdi bin Hamzah bin Alwi Assegaf. Ayahnya, Habib Hamzah, yaitu salah satu tokoh masyarakat di kota Bogor, sedangkan ibunya yaitu Syarifah Khadijah binti Ahmad Al-Attas. Ia lahir pada tanggal 14 Juli 1990 di Bogor dan menikah dengan Syarifah Khairiyah binti Husein Al-Attas, yang juga sama-sama berasal dari kota Bogor, pada  awal tahun  2012 yang lalu.

Sejak usia lima tahun, Habib Mahdi, demikian biasa ia dipanggil, sudah didik sangat ketat dan keras dalam bimbingan keislaman oleh orangtua. Habib Hamzah, orangtuanya, termasuk sosok yang keras dalam sikap keagamaan di tengah masyarakatnya, khususnya terhadap kalangan habaib di lingkungannya. Bila ada di antara mereka yang perilakunya dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang dicontohkan oleh para salaf mereka terdahulu, tak segan-segan Habib Hamzah menegurnya. Demikianlah sosok Habib Hamzah, sang ayah, yang menjadi guru utamanya.

Kepada sang ayahlah Habib Mahdi mendapat dasar-dasar syari’at, terutama mempelajari Al-Qur’an.

Pendidikan yang keras terhadap dasar-dasar agama dari sang ayah telah melahirkan semangat tersendiri di hati Habib Mahdi kecil untuk memperdalam ilmu-ilmu syari’at. Itulah sebabnya, tak mengherankan, semenjak dari SD, Habib Mahdi sudah mempunyai tekad yang berpengaruh untuk masuk pesantren. Namun, keinginan itu belum sanggup diwujudkannya, lantaran sang kakek, Habib Ahmad Al-Attas, melarangnya untuk berguru ke pesantren. “Mahdi, kau cukup berguru di sini sama Enjid (Kakek)," kata Habib Mahdi mengenang ucapan kakeknya waktu itu.

Meskipun demikian, tekad berpengaruh yang ada di hati Habib Mahdi kecil tidak juga hilang, bahkan hasratnya untuk sanggup berguru ke pesantren semakin kuat. Hingga suatu hari, ketika ia masih di kursi SMP, ada dongeng unik yang selalu dikenangnya.

Kisah itu berawal dari ketentuan di sekolah bahwa setiap murid diwajibkan untuk mengenakan sepatu hitam pada hari Kamis. Seperti biasa, di tiap-tiap sekolah selalu ada peraturan yang harus ditaati oleh seluruh siswanya. Dan salah satu peraturan itu yaitu setiap hari Kamis diwajibkan mengenakan sepatu warna hitam. Kebetulan, ketika itu Mahdi kecil hanya mempunyai sebuah sepatu hitam. Nah, lantaran hari Rabu sepatu tersebut dipakai, dan sedari siang hujan lebat, hasilnya sepatu itu menjadi berair dan kotor. Sedangkan besoknya ia wajib mengenakan sepatu tersebut.

Dalam kebingungan, lahirlah satu pandangan gres yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Sedikit takut-takut, ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah dirasa kondusif dan tidak ada yang memergokinya, ia pun membuka tutup mesin cuci, dan... dush! Keluarlah asap dari mesin basuh tersebut. Rupanya, entah kenapa, ketika ia memutar tombol mesin basuh untuk mencuci sepatu, mesin tersebut berputar sejenak, namun tak hingga semenit eksklusif mati dan mengeluarkan asap.

Karena panik, ia pun menjerit kaget.

Mendengar jeritan itu, ibunya pun masuk. Dan ketika melihat mesin cucinya telah tak sanggup lagi bekerja, ia hanya sanggup mengelus dada.

“Mahdi, ane cape ngurusin ente. Udah, berangkat ke pesantren sana,” kata ibunya kala itu. “Dan alhamdulillah, waktu itu akhirnya Kakek pun mengizinkan ane untuk berangkat ke pesantren,” kata Habib Mahdi. 

Tahun itu Habib Mahdi pun berangkat ke pesatren. Dan pesatren yang menjadi tujuannya yaitu Pesantren Darullughah Wadda`wah (Dalwa) Bangil, yang didirikan oleh Al-`Allamah Habib Hasan bin Muhammad Baharun.

Ketika di pesantren, Habib Mahdi berada di bawah bimbingan eksklusif Habib Zainal Abdidin bin Hasan Baharun, pengasuh pesantren, selain ia juga berguru banyak sekali disiplin ilmu-ilmu syari’at dari guru-guru utama yang ada di Pesantren Dalwa.

 lahirlah satu pandangan gres yang kemudian mengubah jalan hidupnya Habib Muhammad Mahdi Assegaf: Barakah Sepatu Hitam"Di pesantren, tidur hanya dua tiga jam," kenang Habib Mahdi.

Di antara acara pesantren yang sangat digemari oleh Habib Mahdi yaitu berziarah ke makam Habib Hasan Baharun. Bahkan kegiatan ini dilakukannya hampir setiap malam. "Jam satu malam, kami tiba ke makam Habib Hasan Baharun dan mengusap debu-debu yang ada nisan makam ia dengan tangan kami."

Di saat-saat itulah Habib Mahdi sering berucap, "Wahai Habib Hasan, ridhailah kami menjadi muridmu, meskipun kami tidak mengaji kepadamu."

Di antara doa yang selalu dipanjatkannya setiap kali menziarahi makam Habib Hasan yaitu permohonan kepada Allah semoga dijadikan sosok yang selalu didengar ucapannya di tengah-tengah masyarakat.

"Ya Allah, dengan keberkahan Habib Hasan, jadikanlah kami selepas dari pesantren ini orang-orang yang didengar ucapannya di tengah-tengah masyarakat untuk tegaknya pedoman Rasul-Mu," kata Habib Mahdi menirukan doa yang sering diucapkannya dahulu.

Sebagai salah satu guru utama, figur Habib Zainal Abidin Baharun sangat banyak mensugesti kepribadian Habib Mahdi. Nasihat-nasihatnya selalu dijadikan pegangan, terutama dalam berdakwah. Di antaranya, "Barang siapa berkhidmah, pasti dia akan dikhidmahi.”

Pesan inilah yang kemudian dijadikan pegangan dan falsafah Habib Mahdi dalam berdakwah. Khidmah yang biasa dilakukannya selama di pesantren terhadap para guru termasuk kepada pesantren dan lingkungannya diteruskan dengan dedikasi di masyarakat.

Syababul Mukhtarin
 lahirlah satu pandangan gres yang kemudian mengubah jalan hidupnya Habib Muhammad Mahdi Assegaf: Barakah Sepatu HitamSejak terjun ke tengah masyarakat, hari demi hari dipenuhinya untuk melayani masyarakat. Ia berprinsip, tidak akan duduk manis di majelis ta`lim, akan tetapi terjun eksklusif ke tengah-tengah masyarakat, siang maupun malam. Mengabdi kepada masyarakat.

Satu ketika, jam dua malam Habib Mahdi ditelepon oleh seorang muhibbin. Ia melaporkan bahwa ada seorang temannya ulang tahun dan sedang merayakan di rumah Fulan dengan pesta minuman keras. Muhibbin itu berharap semoga Habib Mahdi tiba ke daerah itu.

Maka ketika itu juga Habib Mahdi tiba ke daerah yang dimaksud dengan berpakaian layaknya anak muda.
Kedatangannya tidak lain dimaksudkan untuk merangkul mereka. "Saya hanya ingin mereka merasa nyaman dan diperhatikan," kata Habib Mahdi.

Lambat laun mereka pun menjadi erat dan malu untuk melaksanakan hal serupa. "Dan bahkan alhamdulillah, kini mereka aktif dalam kegiatan-kegiatan pengajian yang kami gelar."

Hari demi hari cowok yang tiba dan berkumpul di kediaman Habib Mahdi makin banyak dan bertambah. Bahkan, pemuda-pemuda yang dulu besar hati dengan status mereka sebagai "preman" itulah yang di kemudian hari mengusulkan kepada Habib Mahdi semoga dibuat satu wadah formal bagi mereka.

Berangkat dari itu semua, terbersitlah niat di dalam hati Habib Mahdi untuk membentuk satu perkumpulan yang dibuat semoga nantinya sanggup menjadi wadah bagi semua kalangan masyarakat yang ingin berguru dan memahami agamanya. "Menjadi wadah, baik bagi kalangan majelis, ormas, maupun dari kalangan mana pun dan siapa pun yang ingin mencari jati diri untuk mengenal agamanya."

Pada akhirnya, nama Syababul Mukhtarin (Pemuda Pilihan) pun dipilih sebagai nama perkumpulan tersebut, dengan impian semoga mereka akan menjadi pemuda-pemuda yang terpilih yang erat dan cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada para ulama, cinta kepada tanah air dan bangsa, dan cinta kepada umat dan sesamanya.

Setelah tekad menjadi bundar dan niat pun semakin kuat, dan sesudah minta restu para guru dan para alim ulama, Habib Mahdi mengajak bawah umur muda itu berziarah ke Makam Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas untuk meminta restu para wali, khususnya Shahib Makam Keramat Empang Bogor, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Di samping dengan maksud mengajarkan kepada mereka bahwa langkah yang harus ditempuh untuk mendapat ridha Allah SWT dalam setiap langkah dan upaya kita yaitu dengan cara mendekat kepada para wali-Nya, kekasih-kekasih pilihan Allah SWT.

Bersama sekitar seratus cowok dengan tujuh puluh motor, waktu itu, Habib Mahdi berkonvoi menuju Makam Keramat Empang Bogor. Di makam, Habib Mahdi meminta kepada Allah SWT dengan kemuliaan dan keberkahan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas semoga kelak bawah umur muda yang dahulunya tidak dipandang oleh masyarakat, bahkan dicap jelek lantaran masa kemudian mereka yang kelam, menjadi orang-orang yang utama dalam memperlihatkan manfaat kepada umat pada umumnya, dan masyarakat Bogor, daerah mereka tinggal, khususnya.

"Alhamdulillah, ketika ini Forum Syababul Mukhtarin sudah mempunyai tak kurang dari lima puluh majelis ta`lim dan diikuti ormas-ormas yang berada di Bogor dan sekitarnya, bahkan sudah hingga ke Bandung dan Jadetabek," kata Habib Mahdi penuh syukur.

Mengenai bermacam-macam perbedaan di tengah masyakat yang begitu plural, bagi Habib Mahdi, hal itu merupakan kenicayaan yang harus disikapi secara terpelajar dan bijaksana. Karenanya, dalam setiap gerakan dakwahnya, dirinya selalu berusaha merangkul semua kalangan, termasuk kalangan Muhammadiyah, Persis, dan yang lainnya.

Di ketika ia diminta untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah atau Persis, misalnya, Habib Mahdi dengan bahagia hati memenuhi permintaan mereka.

Prinsipnya, berdasarkan Habib Mahdi, semua kalangan hendaklah saling menghargai, demi terwujudnya persatuan umat. "Silakan masing-masing berpegang dengan keyakinan dan pendapatnya berdasarkan ilmu yang didapatkannya dari para gurunya masing-masing, tetapi dengan catatan, ketika sedang duduk bersama, janganlah masing-masing saling memperlihatkan pendapatnya itu dan menonjolkannya dengan menyalahkan pendapat pihak lainnya, apalagi hingga menganggap sesat."

Terhadap majelis-majelis ta`lim di Bogor, dan bahkan di Indonesia pada umumnya, Habib Mahdi mempunyai impian semoga semua bersatu, saling mendukung, dan tidak hanya membesarkan majelisnya, tetapi hendaknya saling membantu dan saling menguatkan.

Sumber : http://www.majalah-alkisah.com/index.php/figur/26-profile-tokoh/1125-habib-muhammad-mahdi-assegaf-barakah-sepatu-hitam

No comments for "Habib Muhammad Mahdi Assegaf: Barakah Sepatu Hitam"