Widget HTML Atas

Al Quthub Al Habib Hamid Bin 'Abbas Bahasyim ( Wali Majedzub Asal Kalimantan )

Di Posting Oleh Syababun Nabawi Manaqib 09:58

Beliau masyhur dikenal dengan julukan "Habib Basirih / Datuk Keramat Basirih". Begitulah orang kalimantan mengenal Beliau lantaran Beliau tinggal dan di makamkan di kampung Basirih (Banjarmasin-Kalimantan Selatan),Di mata orang Kalimantan Beliau yaitu seorang Wali Quthub yang Waro' dan mempunyai banyak sekali kelebihan/karomah yang luar biasa dan ajaib. Tanah makam ia naik secara sendirinya membentuk sebuah tumpukkan gunungan kecil dan selalu tercium anyir harum. Beliau mempunyai sebuah bak sumur tempat ia mandi yang hingga kini masih terawat apik disekitar komplek makam beliau. Air bak tersebut dipercaya sanggup menyembuhkan banyak sekali penyakit dan menunjukkan banyak berkah lainnya.

(Wallahu'alam,, sungguh ALLAH SWT Maha Sempurna dengan menampakkan kekuasaannya kepada seorang Walinya).
Tak secara terang kami mengetahui kapan ia lahir dan semenjak kapan Beliau menetap di Kalimantan dan kenapa Banjarmasin ibu kota Kalimantan Selatan jadi tempat singgah terakhir Beliau.

Nasab Al Habib Hamid:
Beliau seketurunan dengan Sunan Ampel (Surabaya).Yang mempertemukan keduanya yaitu mereka sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shohib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rosulullah SAW). Silsilah kedua Auliya ini bertemu di Alwi Ummul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Sunan Ampel dari jalur putra Alwi Ummul Faqih yang berjulukan Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut, Yaman ke India) sedang Habib Basirih dari jalur putra Alwi yang berjulukan Abdurrahman. Jika Sunan Ampel yaitu keturunan ke-23 dari Rasulullah Muhammad SAW, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36. Dari segi usia, Sunan Ampel lebih bau tanah dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup di masa yang lebih muda. Habib Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih

Satu versi menyebut Habib Awad masuk ke Banjar lewat Sampit, Kalteng. Keterangan anggota keluarga Bahasyim lainnya menyebut bahwa Habib Awad bermakam di Bima, Nusa Tenggara Barat. Oleh lantaran itu antara Bahasyim di Banjar dengan Bahasyim di Bima ada pertalian persaudaraan. Satu versi lain menyebutkan bahwa salah satu cucu Habib Awad bin Umar ada yang hijrah ke Bima dan kemudian menurunkan keluarga besar Bahasyim di Bima. Tapi sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad yaitu Bahasyim tertua (paling awal) yang tiba ke Tanah Banjar (Lihat Mata Banua, 8 Agustus: Kisah Para Penebang Kayu Trah Bahasyim Basirih).
Selain sanggup ditempuh lewat jalan darat (ada rute trayek angkutan kota/taksi kuning yang melintasi dan menuju Kubah Habib Basirih), peziarah juga sanggup mengunjungi petilasan Basirih lewat jalur sungai. Belum ada distributor perjalanan wisata yang menggarap rute alternatif via jalan sungai ini sebagai cuilan dari paket wisatanya. Sebelum mencapai Kubah Habib Basirih, beberapa ratus meter sebelumnya terdapat pula makam ibu ia yakni Syarifah Ra’anah. Makam Habib Basirih dan ibundanya masuk dalam daftar inventaris binaan Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin. Keduanya digolongkan sebagai objek wisata religius (spiritual) yang layak dikunjungi. Makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Ra’anah dan ayahanda Habib Basirih justru tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Beberapa pihak mengira makam ia berkumpul di pemakaman habaib di Basirih seberang sungai di bersahabat Masjid Jami Darut Taqwa Kelurahan Basirih, Banjar Selatan. Masjid ini berdasarkan keterangan didirikan tahun 1822 oleh H Mayasin. Pada tahun 1848 keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini.Versi lain menyampaikan Habib Abbas bermakam di wilayah Sungai Baru. Habbis Abbas dikenal sebagai saudagar kaya raya dan mempunyai kapal dagang. Beliau juga disebut-sebut mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping di Sungai Baru (kini nama sebuah kelurahan di sekitar Jalan A Yani dan Jalan Pekapuran).

Nama Basirih bersinar tak lepas dari sosok Habib Hamid. Beliau pernah berkhalwat (mengurung diri dan melaksanakan sejumlah amalan) sekian tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil tak jauh dari makamnya sekarang. Pada zaman Jepang, Habib Hamid keluar dari pertapaannya. Sejumlah kelakuan aneh ia belakangan dipahami sebagai pekerjaan kewalian ia menyelamatkan orang lain. Suatu kali, misalnya, dengan memakai gayung, Habib Hamid memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan tak bermakna. Padahal, itu yaitu cara Habib Hamid menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris tenggelam di lautan luas. Sebab di belakang hari ada orang tiba ke rumah ia dan mengucapkan terima kasih atas derma Habib Basirih waktu kapal mereka hampir tenggelam di tengah laut.

Perbuatan Habib Hamid lainnya yang spektakuler yaitu menghidupkan kambing mati. Suatu hari, seorang tetangga menyampaikan kepada ia bahwa di batang (rakitan kayu gelondongan di atas sungai yang sanggup berfungsi untuk tempat mandi dsbnya) milik Habib Basirih terdapat bangkai kambing yang sudah membusuk. Bersama Habib Hamid, tetangga itu turun ke batang untuk menunjukan penglihatannya. Tetangga itu kaget dikala matanya menatap seekor kambing hidup terikat di batang Habib Hamid.Ulah Habib Hamid lainnya yaitu ia pernah duduk di atas tanggui (penutup kepala berbentuk bulat terbuat dari daun nipah) menyeberangi Sungai Basirih menengok keponakannya Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim (Habib Batillantang).
“Waktu kecil saya pernah diberi gulungan benang layang-layang,” ujar Habib Abdul Kadir bin Ghasim bin Thaha Bahasyim, 86 tahun. Gulungan benang layang-layang itu kemudian dipahami oleh Habib Abdul Kadir sebagai perjalanan hidupnya yang sepanjang tali benang layang-layang. HabibAbdul Kadir bekerja di kapal dagang dan berlayar mengarungi banyak sekali penjuru wilayah pedalaman Kalimantan.Beberapa perempuan bau tanah di Basirih mengungkapkan pernah diajak orangtuanya berziarah ke Habib Basirih dikala ia hidup untuk minta ‘berkah’. Beberapa orang bau tanah meminta air kepada Habib Basirih dengan hajat biar belum dewasa mereka pintar mengaji. Setalah diberi ‘air penenang’ belum dewasa kecil mereka pun lancar membaca Kitab Suci AlQur’an.

Kisah lainnya, beberapa laki-laki dari atas bahtera melintas di depan batang Habib Basirih. Mereka mengolok-olok Habib Basirih dikala ia sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Basirih yang ganjil menyulut mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas. Tiba-tiba, bahtera mereka menabrak tebing sisi sungai dan kandas. Cerita lainnya, yang masyhur beredar di Basirih, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah Habib Hamid. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membayar dagangannya. Akibatnya, selama satu hari penuh tak satupun barang jualan pedagang ikan tersebut ada yang laku. Sementara pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat lantaran dagangannya hari itu tak bersisa.

Habib Hamid banyak mengungkapkan sesuatu dengan bahasa perlambang (isyarat). Hanya segelintir orang yang paham dengan perkataannya. Suatu hari tiba seorang Jepang menemui Habib Basirih. Si Jepang kemudian berjanji sesudah urusannya di Makasar selesai akan kembali membawa Habib Basirih ke rumah sakit jiwa. “Pesawat orang Jepang itu jatuh dalam perjalanan ke Makassar,” ujar Syarifah Khadijah binti Habib Hasan Bahasyim, 70 tahun, cucu Habib Basirih.“Selesai berkhalwat di sebuah rumah kecil, Habib Basirih naik ke rumah ini,” ujar Syarifah Khadijah. Kenang-kenangan fisik yang tersisa dari Habib Basirih yang sanggup disaksikan yaitu foto ia bersama anak cucunya pada tahun 1949, beberapa waktu sebelum ia berpulang ke rahmatullah. “Waktu ditawari difoto Habib Basirih cuma tersenyum, menolak tidak, mengiyakan tidak. Tukang fotonya namanya Beng Kiang,” tutur Syarifah Khodijah.

Seperti diketahui, Habib Hamid mempunyai 4 anak, 3 putri dan 1 putra. Saya tidak membicarakan ke 3 putri beliau, lantaran otomatis garis keturunan ia terputus (maksudnya tidak menurunkan fam Bahasyim dari habib Hamid lagi kepada anak2 nya)

Dari 1 putra ia yang berjulukan Habib Hasan Bahasyim menerima 1 anak laki-laki berjulukan Habib 'Idrus Bahasyim dan beberapa anak perempuan (termasuk Syarifah Khodijah Bahasyim yang masih hidup)

Alm.Habib 'Idrus (satu-satunya cucu laki-laki habib Hamid) kemudian kawin 2 kali dengan anak anak sbb :

Dari Syarifah Raguan Baragbah (istri pertama) ;
1. Syarifah Fizria Maryam (Banjarbaru)
2. Habib Fitri Hamid (kubah Basirih)
3. Habib Fathurrachman Bahasyim (Banjarmasin)
4. Habib Fadil Bahasyim (Samarinda)

Dari Syarifah Hani Bilfagih (istri kedua)
1. Habib 'Ali Bahasyim (Jakarta)
2. Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin)
3. Habib Fuad Bahasyim (Banjarmasin)


Jumlah pengunjung di Kubah Habib Basirih walau belum sanggup dibandingkan dengan makam Sunan Ampel di Ampel, Surabaya tak mengurangi ketokohan beliau. Sunan Ampel yaitu tokoh utama Wali Songo, sebuah dewan (forum) ulama kelas wahid di zaman Kesultanan Demak. Dari segi usia, Sunan Ampel lebih bau tanah dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup di masa yang lebih muda. Habib Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih. Yang mempertemukan keduanya yaitu mereka sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shahib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah Muhammad SAW). Silsilah kedua tokoh ini bertemu di Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Sunan Ampel dari jalur putra Alwi Umul Faqih yang berjulukan Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut, Yaman ke India) sedang Habib Basirih dari jalur putra Alwi yang berjulukan Abdurrahman. Jika Sunan Ampel yaitu keturunan ke-23 dari Rasulullah Muhammad SAW, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36.

NASAB HABIB BASIRIH yaitu sebagai berikut: Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husin bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syekh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad AlFaqih bin Abdurrahman bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

Leluhur Bahasyim di Banjar yaitu Habib Awad bin Umar. Habib Awad bin Umar yaitu keturunan ke-32 dari Rasulullah Muhammad SAW. Tak ada keterangan terang wacana asal seruan dan di mana Habib Awad tinggal selama hidupnya. Apakah ia kelahiran Hadramaut (Yaman) atau ada pendahulunya yang berdiam di salah satu kawasan di negeri ini dan kemudian hijrah ke nusantara.
Satu versi menyebut Habib Awad masuk ke Banjar lewat Sampit, Kalteng. Keterangan anggota keluarga Bahasyim lainnya menyebut bahwa Habib Awad bermakam di Bima, Nusa Tenggara Barat. Oleh lantaran itu antara Bahasyim di Banjar dengan Bahasyim di Bima ada pertalian persaudaraan. Satu versi lain menyebutkan bahwa salah satu cucu Habib Awad bin Umar ada yang hijrah ke Bima dan kemudian menurunkan keluarga besar Bahasyim di Bima. Tapi sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad yaitu Bahasyim tertua (paling awal) yang tiba ke Tanah Banjar (Lihat Mata Banua, 8 Agustus: Kisah Para Penebang Kayu Trah Bahasyim Basirih).
Selain sanggup ditempuh lewat jalan darat (ada rute trayek angkutan kota/taksi kuning yang melintasi dan menuju Kubah Habib Basirih), peziarah juga sanggup mengunjungi petilasan Basirih lewat jalur sungai. Belum ada distributor perjalanan wisata yang menggarap rute alternatif via jalan sungai ini sebagai cuilan dari paket wisatanya. Sebelum mencapai Kubah Habib Basirih, beberapa ratus meter sebelumnya terdapat pula makam ibu ia yakni Syarifah Ra’anah. Makam Habib Basirih dan ibundanya masuk dalam daftar inventaris binaan Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin. Keduanya digolongkan sebagai objek wisata religius (spiritual) yang layak dikunjungi. Makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Ra’anah dan ayahanda Habib Basirih justru tak diketahui keberadaannya hingga kini.
Beberapa pihak mengira makam ia berkumpul di pemakaman habaib di Basirih seberang sungai di bersahabat Masjid Jami Darut Taqwa Kelurahan Basirih, Banjar Selatan. Masjid ini berdasarkan keterangan didirikan tahun 1822 oleh H Mayasin. Pada tahun 1848 keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini.Versi lain menyampaikan Habib Abbas bermakam di wilayah Sungai Baru. Habbis Abbas dikenal sebagai saudagar kaya raya dan mempunyai kapal dagang. Beliau juga disebut-sebut mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping di Sungai Baru (kini nama sebuah kelurahan di sekitar Jalan A Yani dan Jalan Pekapuran).
Nama Basirih bersinar tak lepas dari sosok Habib Hamid. Beliau pernah berkhalwat (mengurung diri dan melaksanakan sejumlah amalan) sekian tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil tak jauh dari makamnya sekarang. Pada zaman Jepang, Habib Hamid keluar dari pertapaannya. Sejumlah kelakuan aneh ia belakangan dipahami sebagai pekerjaan kewalian ia menyelamatkan orang lain. Suatu kali, misalnya, dengan memakai gayung, Habib Hamid memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan tak bermakna. Padahal, itu yaitu cara Habib Hamid menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris tenggelam di lautan luas. Sebab di belakang hari ada orang tiba ke rumah ia dan mengucapkan terima kasih atas derma Habib Basirih waktu kapal mereka hampir tenggelam di tengah laut.
Perbuatan Habib Hamid lainnya yang spektakuler yaitu menghidupkan kambing mati. Suatu hari, seorang tetangga menyampaikan kepada ia bahwa di batang (rakitan kayu gelondongan di atas sungai yang sanggup berfungsi untuk tempat mandi dsbnya) milik Habib Basirih terdapat bangkai kambing yang sudah membusuk. Bersama Habib Hamid, tetangga itu turun ke batang untuk menunjukan penglihatannya. Tetangga itu kaget dikala matanya menatap seekor kambing hidup terikat di batang Habib Hamid.Ulah Habib Hamid lainnya yaitu ia pernah duduk di atas tanggui (penutup kepala berbentuk bulat terbuat dari daun nipah) menyeberangi Sungai Basirih menengok keponakannya Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim (Habib Batillantang).
“Waktu kecil saya pernah diberi gulungan benang layang-layang,” ujar Habib Abdul Kadir bin Ghasim bin Thaha Bahasyim, 86 tahun. Gulungan benang layang-layang itu kemudian dipahami oleh Habib Abdul Kadir sebagai perjalanan hidupnya yang sepanjang tali benang layang-layang. HabibAbdul Kadir bekerja di kapal dagang dan berlayar mengarungi banyak sekali penjuru wilayah pedalaman Kalimantan.Beberapa perempuan bau tanah di Basirih mengungkapkan pernah diajak orangtuanya berziarah ke Habib Basirih dikala ia hidup untuk minta ‘berkah’. Beberapa orang bau tanah meminta air kepada Habib Basirih dengan hajat biar belum dewasa mereka pintar mengaji. Setalah diberi ‘air penenang’ belum dewasa kecil mereka pun lancar membaca Kitab Suci AlQur’an.
Kisah lainnya, beberapa laki-laki dari atas bahtera melintas di depan batang Habib Basirih. Mereka mengolok-olok Habib Basirih dikala ia sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Basirih yang ganjil menyulut mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas. Tiba-tiba, bahtera mereka menabrak tebing sisi sungai dan kandas. Cerita lainnya, yang masyhur beredar di Basirih, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah Habib Hamid. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membayar dagangannya. Akibatnya, selama satu hari penuh tak satupun barang jualan pedagang ikan tersebut ada yang laku. Sementara pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat lantaran dagangannya hari itu tak bersisa.
Habib Hamid banyak mengungkapkan sesuatu dengan bahasa perlambang (isyarat). Hanya segelintir orang yang paham dengan perkataannya. Suatu hari tiba seorang Jepang menemui Habib Basirih. Si Jepang kemudian berjanji sesudah urusannya di Makasar selesai akan kembali membawa Habib Basirih ke rumah sakit jiwa. “Pesawat orang Jepang itu jatuh dalam perjalanan ke Makassar,” ujar Syarifah Khadijah binti Habib Hasan Bahasyim, 70 tahun, cucu Habib Basirih.“Selesai berkhalwat di sebuah rumah kecil, Habib Basirih naik ke rumah ini,” ujar Syarifah Khadijah. Kenang-kenangan fisik yang tersisa dari Habib Basirih yang sanggup disaksikan yaitu foto ia bersama anak cucunya pada tahun 1949, beberapa waktu sebelum ia berpulang ke rahmatullah. “Waktu ditawari difoto Habib Basirih cuma tersenyum, menolak tidak, mengiyakan tidak. Tukang fotonya namanya Beng Kiang,” tutur Syarifah Khadidjah


Sumber : https://www.kabarsantri.id//search?q=jumlah-pengunjung-di-kubah-habib

No comments for "Al Quthub Al Habib Hamid Bin 'Abbas Bahasyim ( Wali Majedzub Asal Kalimantan )"