Widget HTML Atas

Al Marhum Al Maghfurlah Muhammad Yunus (Mu’Allim Yunus)

Mu’allimin Yunus yaitu ulama nomor satu di tanah Betawi Kawasan Bukit Duri sesudah dia barulah yang lainnya. Ia lahir di Jakarta pada 31 November 1914 dengan nama Muhammad Yunus, anak pasangan Muhammad Sholeh dan Napsiah. Ibunya yaitu seorang guru agama bagi hampir seluruh warga betawi di bukit duri dan sekitarnya pada ketika itu, dengan sapaan bersahabat guru Nap. Sang ibu yaitu tokoh masyarakat yang sangat disegani. Dari perempuan inilah kemudian lahir banyak Ulama dan Habaib berdarah betawi di Bukit Duri Jakarta.
Mu’allim Yunus, demikianlah nama seorang tokoh yang pernah sangat bersahabat di dengar bagi masyarakat di daerah Bukit Duri di masa lalu. Secara historis, peranan Mu’allim Yunus sangatlah sentral dalam membentuk masyarakat Bukit Duri sebagai salah satu wilayah dari sedikit wilayah di Jakarta ini yang mempunyai asatidz dan keterkaitan keluarga dengan Guru Nap.
Salah satunya yaitu keluarga Habib Abdurahman Bin Ahmad bin Abdul qodir Assegaf, termasuk di dalamnya. Karena Habib Abdurahman menikah dengan H.Barkah, yang tak lain yaitu cucu dari Guru Nap. Sehingga seluruh putra Habib Abdurahman, yang ketika ini juga menjadi ulama, pun tak lain keluarga besar Guru nap, ibunda dari Mu’allimin Yunus.
Setelah dididik dalam lingkungan keluarga yang penuh nuansa keilmuan, terutama dari tangan hambar sang ibu, ia melanjutkan pelajarannya kepada guru Marzuki inilah dirinya semakin terbentuk sehingga menjadi ulama besar pada beberapa dekade silam.
Teladan Kesabaran
Hampir semua masalahnya yang ada dihadapinya dengan penuh kesabaran ,kesabarannya tidak mengenal waktu dan tempat. Kepada murid-muridnya ,maupun di tengah keluarganya . Walhasil ,dalam kondisi apapun ia sanggup tetap tampil sebagai seorang yang disegani ,karena kesabarannya yang luar biasa tinggi.
Suatu ketika sepeda yang iya gunakan di pengadilan agama hilang di curi orang. Sedikitpun tak keluar dari lisannya kata-kata keluhan apalagi celaan untuk orang yang mengambil sepedanya.di tengah perjalanan pulang seseorang yang sering melihat ia menaiki sepeda bertanya. Dengan ringan dia menjawab” Ada yang pinjam”
Pada ketika yang lain sudah dua bulan beras jatah bulanan dari kantornya tidak ia ambi. Setelah lewat dua bulan , salah seorang karyawan lainya mengatakan,”Mu’allim berasnya kok gak diambil-ambil,saya bawa kerumah,ya.?
Mu’allim mendapatkan jasa baik yang ditawarkan. Rupanya,entah salah paham atau memang maksudnya tidak baik,beras tersebut ternyata di bawa kerumahnya si karyawan itu.
Setelah beberapa hari istri Mu’allim mulai gusar dan emosinya meninggi,bahkan hingga marah-marah.”belajar sanggup murka ma orang,jatah beras dua bulan di ambil diem aje!!!” Mu’allim tetap hening dan tidak melayani kemarahan sang istri,bahkan ia menjawan”berarti itu bukan rizki kita,insya allah nanti ada gantinya.”
Tak berapa usang murid terdekatnya datang.H.Yunus mendengar ada sedikit kegaduhan di rumah itu, si murid memberaikan diri untuk bertanyagerangan apa yang terjadi. Istri Mu’allim menjawab”Ni…guru lu,beras jatah dua bulan di ambil,didiemin aje.”
Spontan sang murid berinisiatif menjawab,”O..beras yang itu ada di rumah saya .nanti saya ambilin” Bergegas H.Yunus berangkat ke pasar dan membeli dua karung beras,dan eksklusif diantarnya ke rumah Mu’allim.
Di keluarganya, Mu’allim juga mendidik anak-anaknya dengan penuh kesabaran.salah seorang putranya ,Ustadz Muhammad yang ketika ini meneruskan jejak dakwahnya mengatakan,”orang renta saya tidak pernah ada marahnya sama sekali kepada anak-anaknya,bertolak belakang dengan ibu yang amat tegas.Ujar anaknya.
Di samping sabar, ia juga sosok orang renta yang sangat perhatian dengan keluarga besarnya. Sering kali ia membeli makan dalam jumlah yang agak banyak untuk kemudian di bagikan kepada kerabatnya yang tinggal di Bukit Duri.meski sudah menjadi sosok yang sangat dihormati ketika itu, namun ia tidak segan-segan untuk menghampiri rumah kerabatnya satu persatu.begitu pula bila menjelang lebaran,hampir semua kerabatnya menerima hadiah darinya berupa sarung,baju atau bingkisan lainya. Padahal ia sendiri bukan orang yang berlebih,melainkan orang yang hidup dengan penuh kesederhanaan.
Saat tekanan penjajah Belanda sedang keras-kerasnya di wilayah Bukit Duri dan sekitarnya,seluruh ulama yang berdiam di sana sempat angkat kaki dari wilayah itu, dan pindah ke kampung lain. Tapi tak demikian halnya dengan Mu’allim Yunus ia tetap bersabar menetap dirumahnya,meskipun sempat ada suara-suara miring ihwal dirinya alasannya pilihannya yang tetap untuk tidak pindah. Rupanya hal itu dikarenakan perhatiannya yang sangat mendalam terhadap masyarakatnya yang masih tetap tinggal di sana. Katanya pada waktu itu,” jika saya ikut pindah juga, kemudian jika di sini ada yang berzina alasannya tidak ada yang menikahkan atau tidak ada yang mengajarkan akhlaq kepada mereka, bagaimana?
Isyarat menjelang wafat
Sebagai seorang ulama, Mu’allim Yunus sangat dikenal kealimannya. Lantaran keahliannya, tidaklah ajaib bila pada waktu itu hampir seluruh program keagamaan dan kemasyarakatan di wilayah Bukit Duri diselesaikan lewat keputusannya. Karena kealimannya itulah ia dipercaya untuk memangku jabata ketua pengadilan agama Jakarta selatan,bahkan kemudian untuk lingkup Jakarta. Pada masa itu, posisi strategis ketua pengadilan agama tidak diduduki oleh pejabat karier menyerupai ketika ini, tapi dipercaya kepada seorang ulama yang memang diakui kedalaman ilmunya. Sebelum Mu’allim Yunus yang menjabat posisi itu yaitu K.H Abdul Hamid. Saat ia bertemu Mu’allim Yunus yang kemudian ia dengar akan masuk dijajaran pengurus pengadilan agama pada waktu itu,spontan ia menyampaikan mulai ahad besok Mu’allim Yunus yang akan memimpin pengadilan agama ini.
Di mata para ulama di masanya, ia juga mempunyai kedudukan yang istimewa. Guru Mansur Jembatan Lima, seorang ulama besar tempo dulu di Jakarta misalnya, pernah mewasiatkan, bia ia telah wafat, hendaknya orang-orang yang biasa mengaji padanya melanjutkan pelajaran kepada Mu’allim Yunus.
Murid-muridnya tersebar di banyak tempat. Di Bukit Duri sendiri ia sempat mendirikan kumpulan dengan nama Jam’iyyah Syubbanul Muslimin. Ia juga sempat menulis beberapa kitab diantaranya
Yang masih tersimpan hingga sekarang yaitu sebuah kitabnya dalam bahasa arab pada persoalan ilmu arudh ( bab dari ilmu syair ). Al-awzan Al-Asjadiyah.
Di antara muridnya yang menjadi ulama besar yaitu Mu’allim Yunus dan K.H Abdullah Syafi’i . Bahkan K.H Abdullah Syafi’i pernah menyampaikan bahwa gurunya Mu’allim Yunus yaitu gurunya yang pertama kali, yang telah banyak membentuk dirinya, sebelum ia mengenal dan berguru kepada guru lainnya.
Selain alim, sebagimana para ulama jaman dahulu , ia juga mempunyai ke istimewaan dalam hal spiritual . H yunus murid terdekatnya pernah bertanya kepadanya bagaimana citra ihwal Lailatul Qodar. Saat ditanya hal itu Mu’allim Yunus sempat menyerupai tak sanggup berkata, karena sulit menggambarkan keagungan malam itu. Selang beberapa ketika ia menjawab dan bercerita,pada suatu malam di bulan ramadhan, sepulangnya ia dari masjid di tengah malam , sesampainya ia di rumah ia kaget menyaksikan ke agungan malam itu, ternyata rumahnya menjadi terang benderang. Dan ia segera mengambil air wudhu menuju sumur dekat rumahnya, kemudian ia kembali dikagetkan alasannya sumur yang biasanya di timba untuk mengambil airnya, di malam itu menjadi luber dan melimpah ruah. Hingga untuk mengambilnya ia cukup mencidukan gayung dengan tangannya. Rupanya malam itu ia memperoleh anugerah Lailatul Qodar.
Senin sore dibulan Dzulqad’dah 1415 H/Mei 1995, menjelang wafatnya Mu’allim Yunus yang sedang sakit keras, menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia ingin bertemu dengan Habib abdurahman Assegaf, atau yang biasa disapa Al-walid… sebelum keluarganya memberikan pesan itu, rupanya kekerabatan bathin di antara keduanya telah membawa langkah kaki Al-walid untuk segera menemuinya, seakan Al-Walid telah mendengar pesan Mu’allim Yunus.
Sesampainya di kamar Mu’allim Yunus, keduanya berbicang-bincang empat mata. Kemudian tak usang Al- Walid keluar dari kamar dan menyampaikan kepada keluarganya biar segera mempersiapkan segala sesuatunya, alasannya waktunya sudah tidak usang lagi.
Jum’at dini harinya, sekitar pukul tiga malam. Ia menyampaikan kepada H. Yunus biar memberikan pesan kepada muridnya K.H Abdullah Syafi’i, supaya bersedia menjadi imam dala sholad mayat bagi dirinya. Untuk memberikan amanah itu,H.Yunus agak ragu, alasannya sudah ramai isu yang menyampaikan K.H Abdullah Syafi’i akan segera pergi menunaikan ibadah haji. Maka tanpa menunda-nunda H.Yunus segera mendatangi rumah K.H Abdullah Syafi’i dan memberikan pesan Mu’allim Yunus.
K.H Adbullah Syafi’i mendapatkan pesan itu sebagai isyarat bahwa wafatnya Mu’allim Yunus memang sudah dekat sangat dekat, oleh karenanya iapun tak ragu menunda keberangkatannya. Dengan tegas K.H Abdullah Syafi’i menjawab “ ya, insya allah bisa”
Kabar ihwal akan wafatnya Mu’allim Yunus sudah menyebar kemana-mana sehingga jum’at pagi itu rumahnya dipenuhi orang banyak. Hampir semua Ulama besar di Jakarta berkumpul di rumah Mu’allim Yunus, mendampinginya dengan mengaji dan membacakan surah yasin dan yang lainnya ketika itu, Al-Walid tidak tampak di tengah-tengah mereka dan Mu’allim Yunus pun sudah tidak sanggup berkata apa-apa.
Ketika waktunya hampir dekat Al-walid tiba-tiba tiba dan menawarkan arahan untuk seluruh yang hadir biar bahu-membahu membacakan tahlil dengan dipimpin oleh Al-walid sendiri. Anehnya Mu’allim Yunus, yang sedari tadi tidak sanggup berkata apa-apa , seketika ikut bertahlil bersama dengan bunyi yang cukup terang terdengar. Tidak lama, sesudah kalimat tahlil di baca berulang-ulang secara bahu-membahu sekitar lima menit, Mu’allim Yunus pun menghembuskan nafasnya yang terakhir
Selasa sore 30 Dzulqad’dah 1415 H / 30 Mei 1995, pukul 16.00 WIB, Mu’allim penyejuk hati umat ini kembali keharibaan Ilahi. Jenazahnya dimakamkan disamping mihrab Mesjid Al-Makmur Jalan K.H. Abdullah Syafi’I, Tebet, Jakarta Selatan.

No comments for "Al Marhum Al Maghfurlah Muhammad Yunus (Mu’Allim Yunus)"