Widget HTML Atas

Al Maghfurlah Kh Ghufron Achid

Haul Al Maghfurlah KH Ghufron Achid, bukan untuk mengkultus-individukan beliau, tetapi untuk mengenang keshalehan beliau, mengenang sikap baik beliau, dedikasi ia untuk Allah SWT, dan masyarakat, usaha ia yang kadang – kadang harus menentang arus, menerjang ombak, tantangan dan rintangan yang tidak ringan.

Rasulullah SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَا اَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَ وَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى. روه ابو داود وترمذى

“Siapa saja yang menciptakan tarekh (Biografi) seorang muslim, maka sama dengan menghidupkannya. Dan barang siapa ziarah kepada seorang Alim, maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi SAW). Dan barang siapa berziarah kepadaku sehabis saya wafat, maka wajib baginya mendapat syafatku di Hari Qiyamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Disebutkan dalam kitab Akhbar ashbihan Juz 10 halaman 264

أخبار أصبهان - (ج 10 / ص 264)

2107 - حدثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن جعفر ، ثنا يعرب بن خيران ، ثنا محمد بن الفضل بن العباس البلخي بسمرقند ، ثنا أبو محمد حمد بن نوح ، ثنا حفص بن عمر العدني ، عن الحكم ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

« من زار العلماء فكأنما زارني ، ومن صافح العلماء فكأنما صافحني ، ومن جالس العلماء فكأنما جالسني ، ومن جالسني في الدنيا أجلس إلى يوم القيامة »

أُذكروا محاسن موتاكم وكُفُّوا عن مساويهم { سنن الترمذي كتاب الجنائز حديث ٩٤٠ }
“ Sebutkan kebaikan Orang – Orang yang telah mati dari kamu, dan berhentilah mencela keburukan – keburukan mereka “

Beliau Almarhum, Al maghfurlah Bapak KH Ghufron Achid berdasarkan catatan dilahirkan pada hari kamis pahing tanggal 15 Syawal 1349 H/tanggal 5 Maret 1931 M dari pasangan Bapak Achid dan Ibu Arifah di Kauman Pekalongan.

Beliau wafat/dipanggil oleh Allah SWT pada hari Rabu Wage tanggal 7 Pebruari 2001 M/13 Dzul Qo’dah 1421 H, berarti ia pada waktu wafatnya berusia 69 tahun 11 bulan 2 hari berdasarkan hitungan tahun Syamsiyah. Atau 73 tahun lebih 28 hari berdasarkan hitungan tahun Qamariyah.

Beliau dinikahkan dengan Aisyah putri dari Al Markhum, Al Maghfurlah mbah KH Mudzakir bin KH Fadholi, adik kandung dari KH Ibnu Chadjar Mudzakir. Dari perkawinannya ia dianugerahi 11 Putera ( anak ), 4 orang pria dan 7 orang perempuan, dan hingga kini sudah bertambah 13 cucu dan 1 cicit. Putra/Putri dan menantu ia :

1. Hj Aminah + KH Azizuddin Muzajjad (3 cucu + 2 cicit)

2. Khairiyah + Miftakhuz Zuhri (2 cucu)

3. Dhofiroh + H Zainudin (Payaman – 6 cucu)

4. Sa’duddin + Inayah

5. Labib + Novita

6. Ishmah + K Jamil (1 cucu)

7. Kamilah + Slamet Rahmat (1 cucu)

8. Akhiroh

9. Mismakhah al Khafidhoh

10. Muhammad (ndung)

11. Hamid

Beliau Orang yang sabar tapi penuh semangat.

Bapak ia yaitu Bapak Achid Almarhum meninggal alasannya yakni kekejaman Belanda, sehingga pada waktu kecil ia dan Saudara–Saudaranya dalam keadaan yatim/miskin. Untuk menunjang kehidupan rumah tangga, ia pernah berjualan ‘IDER ROKOK’ dan ‘BURUH NGUWUK BATIK’ meskipun umurnya masih relatif kecil / muda.

Pada masa mudanya, ia menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu, bukan untuk berfoya – foya menyerupai layaknya anak muda yang lain. Dari keterangan keluarga, pada waktu kecil ia pernah mengaji pada Ust Baidlowi Kauman, selanjutnya ia menuntut ilmu pada para Ulama di aneka macam Pondok Pesantren antara lain :

1. KH Ma’shum Ponpes Al Hidayah Lasem selama 6 tahun

2. KH Masduki Ponpes Al Ishlah Lasem

3. KH Baidlowi Lasem

4. KH Maftukhin Lasem

5. KH Cholil

6. KH Fatkhur Rohman

7. KH Manshur Lasem

8. KH Muhammadun Tayu

9. KH Arwani Kudus

10. KH Muhammad Hambali Sumardi

Beliau juga bertabarruk kepada mbah kyai Ahmad Asy’ari Poncol Salatiga, meskipun waktu itu sudah berkeluarga. Beliau juga penah bai’at thariqah An Naqsyabandiyah Al Khalidiyah sebagaimana pernah diceritakan oleh sobat ia KH Abdullah Faqih Langitan dalam kesempatan pertemuan di tempat Kudus.
Beliau orang yang waro’, qona’ah dan gigih

Beliau diserahi mengajar dan memimpin Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) yang didirikan oleh Ayah Mertua ia KH Mudzakir Fadholi bersama Pengurus Salafiyah yang lain. Tugas itu ia laksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab meskipun dengan imbalan honor/gaji yang sangat – sangat sedikit, sangat kurang untuk menopang kehidupan beliau.

Dari MSI yang berlokasi di Kauman Pekalongan dengan 6 (enam) lokal kecil pada awalnya, dan selanjutnya berkat kegigihan ia dan para Pengurus Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan, sekolah itu berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, dan pada ketika ini terdiri dari :

o MSI 01 KAUMAN

o MSI 02 KEPUTRAN

o MSI 05 SAMPANGAN

o Sekolah Menengah Pertama SALAFIYAH KAUMAN

o MA SALAFIYAH

Pernah terjadi suatu hari ia berkunjung ke rumah Wali Murid untuk berkonsultasi wacana anaknya, tiba–tiba ia dilempar kerikil dari belakang oleh muridnya, sehingga orang renta murid tadi sangat aib dan memohon maaf kepada beliau, hal ini ia hadapi dengan sabar dan tidak mempermasalahkan.

Beliau yakni seorang yang Alim Al Allamah

Setelah Ayah Mertua ia yaitu Al Marhum Al Maghfurlah mbah KH Mudzakir wafat pada tahun 1975, disamping ia memimpin sekolah, ia juga melanjutkan pengajian Bapak Mertua bersama KH Ibnu Chajar bin KH Mudzakir yaitu pengajian kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan berhasil mengkhatamkan 4 ( empat ) jilid, dan ia tambahkan pula pengajian kitab Shokhih Bukhori. Dan banyak lagi kitab – kitab lain yang diajarkan kepada para Santri beliau.

Beliau yakni seorang pejuang

Disamping kesibukannya memimpin sekolah, mengajar aneka macam kitab kepada santri, ia sempat pula terjun di aneka macam acara organisasi sosial menyerupai :

1. Rois Syuriyah PC NU Kota Pekalongan, dalam kapasitas sebagai Rais ini dalam Haul ke tujuh (2008) Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff menceritakan bahwa ia pernah mendapat rekomendasi dari Al Maghfurlah untuk membahas duduk masalah Ahlus sunnah wal jama’ah di PB NU dan berhasil meluruskan buku wacana ahlussunnah wal jama’ah yang akan diterbitkan oleh PB NU.

2. Ketua Umum MUI Kota Pekalongan pernah menjadi satu periode

3. Ketua I Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan menjadi,

4. salah satu pengurus Yayasan Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang membawahi Sekolah Menengah Pertama Wahid Hasyim dan Sekolah Menengan Atas Hasyim Asy’ari, dan

5. Ketua Yayasan Khirzaddin yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Kamaludin Bachir

6. Pengurus serta aktifis “Majlis Musyawarah Diniyah” Pekalongan yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Junaid.

7. Beliau juga seorang yang sangat memperhatikan duduk masalah ekonomi dengan aktif memperlihatkan pertimbangan didirikannya Koperasi Pemuda Buana (KOPENA) dan mensupport gerakannya, dibuktikan dengan kesediaan ia menjadi anggota Koperasi tersebut.

8. Beliau aktif pula memperhatikan permasalahan Haji yang antara lain dengan keikutsertaan ia sebagai Penasehat di KBIH AS SALAMAH Kota Pekalongan.

9. ia memprakarsai berdirinya Badan Amil Zakat ( BAZ ) di Kota Pekalongan dan menjadi salah seorang Pengurus yang tujuan utamanya untuk memperlihatkan pemikiran santunan kepada Fuqara Masakin/ekonomi lemah,

Ada beberapa catatan yang perlu kami sampaikan di sini :

1. ia pernah mengadakan penelitian secara langsung bersama – sama pengurus MUI yang lain wacana proses pemotongan binatang di lokasi pemotongan binatang (blandong), apakah proses pemotongan binatang itu sudah sesuai dengan syari’at Islam.

2. ia pernah mengadakan penelitian secara langsung bersama – sama pengurus MUI yang lain ke tempat – tempat praktek SMOKE COUTHING ( dindong ), dan akhirnya MUI memperlihatkan anutan Permainan Dindong termasuk perjudian dan mengajukan permohonan kepada Walikota Pekalongan semoga permainan itu dilarang. Dan Al Hamdu lillah permohonan itu dikabulkan, Walikota melarang dan menutup permainan dindong.

3. ia bersama pengurus MUI lainnya dan didukung oleh Ormas – Ormas Islam serta Pon Pes – Pon Pes di Pekalongan mengajukan proposal kepada Pemda dan Pemerintah Pusat semoga Gedung Pemuda yang memiliki sejarah heroik / kepahlawanan Orang – Orang Pekalongan, dijadikan Masjid. Dengan adanya proposal tersebut terpaksa ia bersama dengan pengurus yang lain harus berhadapan dengan DPRD, Walikota dan Kejaksaan serta Orang – orang yang menentang waktu itu.

Memang nampaknya pada waktu itu, pada ketika pemerintah sangat berkuasa, hal tersebut terasa merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesuatu yang kelihatannya tak mungkin terjadi, sanggup saja terjadi atas ijin-Nya. Akhirnya terjadilah Reformasi di Indonesia, dan atas desakan para Pemuda dan seluruh lapisan Masyarakat, serta sumbangan jasa dari Walikota Pekalongan bersama tokoh – tokoh lain, al hamdu lillah kini telah bangkit dengan megah sebuah Masjid dengan nama MASJID AS SYUHADA’ sebagai monumen usaha para Pahlawan/Syuhada Pekalongan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada tanggal 3 Oktober 1945.

Itulah sekelumit catatan wacana biografi beliau. Masih banyak lagi prilaku baik yang belum tercatat, dan masih banyak lagi mahasin, Fadhilah dan maziyyah ia yang belum terungkap.

Beliau Al Markhum Al Maghfurlah kini telah tiada, telah meninggalkan kita semua, kewajiban kita bukan untuk bersedih berkepanjangan yang tak berujung. Tetapi yang penting Akhlaqul Karimah, sikap baik, kesabaran, kesholehan, kegigihan, kejelian, ketelitian, ketaqwaan dan usaha ia patutlah kita teladani dan kita teruskan usaha ia untuk Islam, Bangsa dan Negara.

Marilah kita berdo’a mudah-mudahan kesalahan ia selama hayat, diampuni oleh Allah SWT, dan semua amal baik, keshalihan ia diterima dan dibalas oleh – Nya dengan pahala yang berlipat ganda. Amin.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tim Penulis

Para Santri Al Maghfurlah


https://www.kabarsantri.id//search?q=biografi-ulama

No comments for "Al Maghfurlah Kh Ghufron Achid"