Hujan Turun Begitu Kh Nawawi Banten Doa Dengan Bahasa Jawa Di Depan Ka'bah

Hujan Turun Begitu Kh Nawawi Banten Doa Dengan Bahasa Jawa Di Depan Ka'bah

Kita semua setuju menginginkan keberuntungan dunia dan akhirat. Secara lahir kita bekerja, usaha. Bekerja harus, maka Tuhan berfirman: harrik yadaka ungzil ‘alaikar rizqa (gerakkan tanganmu, kau Ku beri rizki).


Anda dilarang mengharap rizki dari Tuhan kalau tidak bernah “menggerakkan tangan” untuk bekerja. Jangan hanya mendapatkan pinjaman orang lain (krido lumahing asto) –mohon maaf-  itu  namanya tidak muruah (pendremisan).

Semua para nabi bekerja. Nabi Adam dan istrinya Hawa, bertani. Nabi Nuh seorang tukang: kayu bisa, bangunan bisa, berilmu besi bisa. Kalau sekarang, Nabi Nuh menyerupai alumni SMK. Nabi Sulaiman berilmu merangkai janur, jago dekorasi. Bahkan Nabi Sulaiman penyayang binatang-binatang. Nabi Sulaiman juga bisa menguasai arah mata angin. Maka Tuhan berfirman dalam Al-Quran: “Wa li Sulaimana rieh”. Nabi Sulaiman menguasai [mengerti] cuaca: besok hujan, besok reda, besok banjir, besok surut, besok pasang, besong angin ke utara, besok ke selatan. Barangkali kalau kini ia yaitu pakar metreologi dan geofisika.

Sedangkan secara batin yaitu ibadah dan berdoa. Apabila bisa, sekian banyak doa semua dihafalkan. Bila tidak bisa, semampunya. Jika terpaksa tidak bisa bahasa Arab, menggunakan bahasa Jawa tidak apa-apa.

Romo KH. Idris Marzuki, Lirboyo, pernah dawuh kepada saya:

“Koe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

“[Kamu kalau menerima doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka menerima doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu menerima ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir kalau bertemu wali Jawa memberi ijazah doa menggunakan bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura]”

Maka, saya sering berdoa dengan doa Jawa. Saya menerima doa Jawa dari Romo KH. Achmad Abdul Haq dan KH. Dalhar Watucongol Magelang. Doa Jawa yang menciptakan tekun bekerja dan kelapangan rizki.

“Allāāhumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allāāhumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allāāhumma kitra-kitri, sugih angsa sugih meri. Allāāhumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

Almarhum KH. Nawawi Banten pernah diminta untuk berdoa di Makkah dan tetap menggunakan bahasa Jawa. Padahal ia jago bahasa Arab. Hasil karyanya diatas 40 kitab, semuanya berbahasa Arab. Kejadiannya, suatu saat di Tanah Arab usang sekali tidak turun hujan. Ulama-ulama Makkah dan Madinah didatangkan untuk berdoa minta hujan di depan ka’bah. Selesai berdoa, malah semakin panas, hingga beberapa bulan. Sang raja teringat, ada seorang ulama yang belum diajak berdoa. Setelah dicari, ketemu. Orangnya pendek, kecil dan hitam. Mungkin kalau melamar perawan jama kini pribadi ditolak. Kenapa? Karena bukan tipe idola, walaupun mungkin bisa masuk facebook.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut dipanggil oleh sang raja supaya supaya berdoa kepada Tuhan di depan ka’bah: meminta hujan.

Anehnya, meski KH. Nawawi Banten bisa berbahasa Arab dengan fasih, di depan ka’bah, berdoa meminta hujan dengan menggunakan bahasa Jawa. Para ulama Makkah dan Madinah berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “amin”.

Mbah Nawawi berdoa: “Ya Allah, sampun dangun mboten jawah, nyuwun jawah.”

Seketika hujan datang. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justeru ampuh. Maka, kalau anda mendengan orang berdoa dengan fasih menggunakan bahasa Arab, jangan minder alasannya yaitu belum tentu mujarab. Jadi, berdoa menggunakan bahasa Jawa, boleh-boleh saja, asalkan diluar shalat. Kalau berdoa di dalam shalat, wajib berbahasa Arab.
Itu tadi doa yang menyangkut dengan pekerjaan. Saya punya doa yang terkait dengan keamanan. Berbahasa Jawa:

“Bismillāhirrahmānirrahīm. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Lailāhaillallāh Muhammadur Rasūlullah.”

Jadi, secara lahir bekerja, secara batin berdoa. Bahkan, untuk strata yang lebih rendah – mohon maaf – kalau Arab tidak bisa, Jawa tidak bisa, boleh tidak berdoa, asalkan mau berdzikir yang banyak. Karena dzikir itu sama dengan berdoa.

Tuhan berfirman: man saghalahu dzikri ‘an mas alati, a’thaituhu qabla an yas alani. [Barangsiapa terlena berzdikir kepadaKu hingga tidak sempat meminta apa-apa, pasti Kuberi dia apa-apa, sebelum dia meminta apa-apa.
Tulis Komentar
Press Enter to Search