Widget HTML Atas

Wujud Cinta Alasannya Yakni Allah Swt

Disunahkan orang yang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Tuhan Wujud Cinta Karena Tuhan Swt
Disunahkan orang yang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah

1. untuk mengabari dan memberitahukan cintanya kepadanya. Nabi saw. bersabda : "Jika seseorang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya". (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

2. mendoakan dan meminta doa dari saudaranya . Nabi saw. bersabda:

Barang siapa yang mendoakan saudaranya pada ketika ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasinya berkata, “Semoga Tuhan mengabulkan; dan bagimu semoga mendapat yang sepadan.” (HR. Muslim).

Umar bin Khatab berkata: Aku meminta izin kepada Nabi saw. untuk umrah, lalu dia menunjukkan izin kepadaku dan bersabda: “Wahai saudaraku, engkau jangan melupakan kami dalam doamu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. mengunjungi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi alasannya yaitu Allah, sehabis mencintai-Nya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Tuhan memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat hingga kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu berkata, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja saya mencintainya alasannya yaitu Allah.” Malaikat itu berkata, “Sesunggunya saya yaitu utusan Tuhan kepadamu. Aku diperintahkan untuk menyampaikan bahwa Tuhan sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mengasihi saudaramu itu alasannya yaitu Allah.” (HR. Muslim)

4. Senantiasa berusaha membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sungguh menghilangkan kesusahannya. Hal ini menurut hadits Mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda:

Seorang muslim yaitu saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa. Barangsiapa berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Tuhan akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim maka dengan hal itu Tuhan akan menghilangkan salah satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi malu seorang muslim maka Tuhan akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.

5. menemui orang yang dicintai dengan menampakan masalah yang disukainya untuk menggembirakannya dan dengan wajah yang berseri-seri. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab As-Shagir; Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang menemui saudaranya yang muslim dengan menampakan masalah yang disukainya alasannya yaitu ingin membahagiakannya, maka Tuhan akan menunjukkan kebahagiaan kepadanya di Hari Kiamat.

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau sekedar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (HR. Muslim).

6. menunjukkan dan mendapatkan hadiah saudaranya serta membalasnya. Rasulullah saw bersabda:

Kalian harus saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai. (HR. Bukhari).

Rasulullah saw. pernah mendapatkan hadiah dan membalasnya. (HR. Bukhari)

Termasuk menunjukkan akibat hadiah yang setimpal yaitu kalau seorang muslim menyampaikan kepada saudaranya, “Jazakallah Khairan”, artinya semoga Tuhan membalasmu dengan kebaikan. Tirmidzi meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa diberi kebaikan lalu ia berkata kepada orang yang memberi kebaikan, “Jazakallah Khairan” (semoga Tuhan membalasmu dengan kebaikan), maka dia sungguh telah menunjukkan kebanggaan yang sangat baik.

7. Harus berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kebaikan kepadanya. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda :

Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan sanggup mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa yang tidak sanggup bersyukur kepada orang, maka ia tidak akan sanggup bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Tuhan yaitu sama dengan bersyukur. Dan tidak membicarakan kenikmatan berarti mengingkari nikmat. Berjamaah yaitu rahmat, bercerai berai yaitu adzab.

8. Disunahkan membela saudaranya untuk mendapatkan kemanfaatan dari suatu kebaikan atau untuk menunjukkan akomodasi dari suatu kesulitan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. kalau didatangi peminta-minta, maka dia suka berkata:

Belalah ia maka kalian akan diberikan pahala. Dan Tuhan akan memutuskan dengan ekspresi nabi-Nya masalah yang ia kehendaki. (HR. Bukhari).

9. Wajib mendapatkan usul maaf dari saudaranya. Diriwayatkan Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Barangsiapa yang mengajukan usul maaf kepada saudaranya dengan suatu alasan tapi ia tidak menerimanya, maka ia akan mendapat kesalahan ibarat kesalahan pemungut pajak.

10. Wajib menjaga diam-diam seorang muslim. Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dari Jabir, gotong royong Rasulullah saw. bersabda :

Jika seseorang berkata kepada orang lain dengan suatu perkataan lalu ia menoleh (melihat sekelilingnya), maka pembicaraan itu yaitu amanah.

11. Wajib memberi nasihat. Imam Muslim telah mentakhrij dari Abu Hurairah ra., ia berkata; gotong royong Rasulullah saw. bersabda :

Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Dikatakan, “Apa yang enam itu, Ya Rasulallah?” Rasul saw. bersabda, “Apabila engkau bertemu dengan saudara muslim yang lain, maka ucapkan salam kepadanya; Apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; Apabila ia meminta pesan yang tersirat kepadamu, maka berikanlah pesan yang tersirat kepadanya; Apabila ia bersin dan mengucapkan al hamdu lillah, maka ucapkanlah yarhamukallah; Apabila ia sakit maka tengoklah; Apabila ia meninggal dunia, maka hantarkanlah hingga ke kuburnya.”

Semoga dengan melakukan petunjuk Rasulullah saw. dalam mengasihi seorang hamba karena-Nya, kita dicintai Tuhan SWT sebagaimana hadits dari Umar bin Al-Khathab, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tuhan mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi dan bukan syuhada, tapi para nabi dan syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah. Para sobat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa mereka dan bagaimana amal mereka? Semoga saja kami sanggup mengasihi mereka.

” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka yaitu suatu kaum yang saling mengasihi dengan karunia dari Allah. Mereka tidak mempunyai hubungan nasab dan tidak mempunyai harta yang mereka kelola bersama. Demi Tuhan keberadaan mereka yaitu cahaya dan mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak insan merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak insan bersedih.” Kemudian Rasulullah saw. membacakan firman Allah:

Ingatlah, gotong royong wali-wali Tuhan itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (TQS. Yunus [10]: 62).

Wallahu a'lam