Widget HTML Atas

Mengetahui Pikiran Kiai Noer

K.H MUHAMMAD KHOLIL (MBAH KHOLIL) BANGKALAN - MADURA
Narasumber : KH. Imam Bukhori ( Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Kholil ), Bangkalan
(Dari buku Biografi K.H Muhammad Kholil)


 Ketika Kholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban Mengetahui Pikiran Kiai Noer
Mengetahui Pikiran Kiai Noer
Ketika Kholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban. Kholil menyerupai biasanya ikut jama’ah sholat yang memang keharusan para santri. Di tengah kekhusukan jama’ah sholat, tiba-tiba kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini menciptakan santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Noer. Dengan kening berkerut, kiai bertanya :

“Kholil, kenapa waktu sholat tadi, kau tertawa terbahak-bahak. Lupakah kau itu mengganggu kekhusukan sholat dan sholat kau tidak syah?!” Kholil menjawab dengan tenang, “Maaf, begini Kiai, waktu sholat tadi saya sedang melihat Kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul, alasannya ialah itu saya tertawa. Sholat kok mengaduk-aduk nasi. Salahkah yang saya lihat itu, kiai?” Jawab Kholil muda dengan mantap dan sopan.

Kiai Muhammad Noer terkejut. Kholil benar, Santri gres itu sanggup membaca apa yang terlintas di benaknya, Kiai Muhammad Noer duduk dengan damai sambil menerawang lurus ke depan, serta merta berbicara kepada santri kholil: “Kau benar anakku, ketika mengimami sholat tadi perut saya memang sedang lapar. Yang terbayang dalam pikiran saya ketika itu, memang hanya nasi, anakku,” ucap Kiai Muhammad Noer secara jujur. Sejak tragedi itu kelebihan Kholil jadinya menyebar. Bukan hanya terbatas di pesantren Langitan, tetapi juga hingga ke pesantren lain di sekitarnya.

Karena itu, setiap kiai yang akan ditimba ilmunya oleh Kholil muda, maka para kiai itu selalu mengistimewakannya. Didatangi Macan Pada suatu hari di bulan syawal, Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santri-santrinya. “Anak-anakku, semenjak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok ini” kata Kiai Kholil agak serius.

Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu, sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditunggu-tunggu belum tampak juga. Memasuki ahad ketiga, datanglah ke pesantren seorang cowok kurus tidak seberapa tinggi bertubuh kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah Kiai Kholil, kemudian mengucap salam “Assalamu’alauikum” ucapnya agak pelan dan sangat sopan.

Mendengar salam itu, bukannya tanggapan salam yang diterima, tetapi kiai malah berteriak memanggil santrinya, hei… santri semua, ada macan…macan…ayo kita kepung. Jangan hingga masuk pondok” seru Kiai Kholil kolam seorang komandan di medan perang. Mendengar teriakan Kiai, kontan saja semua santri berhamburan, tiba sambil membawa apa saja yang ada, pedang, celurit, tongkat, pacul untuk mengepung cowok yang gres tiba tadi yang mulai nampak pucat.

Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun alasannya ialah tekad ingin nyantri ke Kiai Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya cowok itu mencoba tiba lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren eksklusif disong-song dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya, gres pada malam ketiga, cowok yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara rahasia pada malam hari. Karena lelahnya cowok itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, jadinya tertidur di bawah kentongan surau.

Secara tidak diduga, tengah malam, Kiai Kholil tiba dan membangunkannya, karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Kiai Kholil, sesudah berbasa-basi dengan seribu alasan, gres cowok itu lega sesudah resmi diterima sebagai santri Kiai Kholil. Pemuda itu berjulukan Abdul Wahab Hasbullah. Seorang kiai yang sangat alim, satria berdebat dan pembaharu pemikiran. Kehadiran KH. Wahab Hasbullah dimana-mana selalu berwibawa dan disegani baik mitra maupun lawan bagaikan seekor macan, menyerupai yang disyaratkan Kiai Kholil.