Widget HTML Atas

Mbah Kholil, Santri Pencuri Pepaya

K.H MUHAMMAD KHOLIL (MBAH KHOLIL) BANGKALAN - MADURA
Narasumber : KH. Imam Bukhori ( Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Kholil ), Bangkalan
(Dari buku Biografi K.H Muhammad Kholil)


jalan di sekitar pondok pesantren kedemangan MBAH KHOLIL, Santri Pencuri Pepaya
Santri Pencuri Pepaya
Pada suatu hari, seorang santri berjalan-jalan di sekitar pondok pesantren kedemangan. Kebetulan di dalam pesantren terdapat pohon pepaya yang buahnya sudah matang-matang kepunyaan kiai. Entah alasannya yakni lapar atau pepaya sedemikian merangsang seleranya, santri itu nekad bermaksud mencuri pepaya tersebut.

Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, merasa dirinya kondusif maka dipanjatlah pohoh pepaya yang paling banyak buahnya. Kemudian dipetiknya satu persatu buah pepaya yang matang-matang itu. Setelah cukup banyak santri itu lalu turun secara perlahan-lahan.

Baru saja kakinya menginjak tanah, ternyata sudah diketahui oleh beberapa santri, tak ayal lagi santri yang mencuri pepaya itu dilaporkan kepada Kiai Kholil. Kiai murka besar kepada santri itu. Setelah itu disuruhnya dia memakan pepaya itu hingga habis, dan alhasil diusir dari pondok pesantren. Tak usang sehabis insiden itu , santri yang diusir alasannya yakni mencuri pepaya itu ternyata menjadi Kiai besar yang alim. Kealiman dan ketenaran kiai tersebut hingga kepada pesantren kedemangan. Mendengar gosip menarik itu, beberapa santri ingin mengikuti jejaknya.

Pada suatu hari, beberapa santri mencoba mencuri pepaya di pesantren. Dengan keinginan biar dimarahi kiai. Begitu turun dari pohon pepaya. Kontan saja petugas santri memergokinya. Maka insiden itu dilaporkan kepada Kiai Kholil. Setelah melihat beberapa dikala kepada santri yang mencuri pepaya itu, seraya Kiai mengucap :

“Ya sudah, biarlah” kata Kiai Kholil dengan nada datar tanpa ada murka tanpa ada pengusiran. “Wah, celaka saya tidak sanggup menjadi kiai,” desah santri pencuri pepaya sambil menangis meratapi perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya.

........................................................................................................................................................................................................

Orang Arab Dan Macan Tutul
Suatu hari menjelang sholat maghrib, menyerupai biasanya, Kiai Kholil mengimami jamaah sholat berjamaah bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba ia kedatangan tamu orang berbangsa Arab, orang Madura menyebutnya Habib.

Seusai melakukan sholat Kiai Kholil menemui tamu-tamunya termasuk orang arab yang gres tiba yang mengetahui kefasihan bahasa Arab. Habib tadi menghampiri Kiai Kholil sambil berucap : ” Kiai . . . ,bacaan Al Fatihah (antum) kurang fasih”, tegur sang habib.
“O . . . begitu”, jawab Kiai Kholil tenang.

Setelah berbasa-basi, beberapa saat, habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksakan sholat maghrib. “Tempat wudlu ada disebelah masjid itu. Habib, Silahkan ambil wudlu disana”, ucap Kiai sambil mengambarkan arah daerah wudlu. Baru saja selesai berwudlu, tiba-tiba habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan Bahasa Arabnya yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun habib mengucapkan bahasa arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul , namun macan itu tidak pergi juga.

Mendengar ribut-ribut disekitar daerah wudlu, Kiai Kholil tiba menghampiri. Melihat ada macan yang sepertinya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh.

Dengan insiden ini, habib paham bahwa bantu-membantu Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.