Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Kh. Abdul Hamid Dan Pondok Pesantren Al Hikam

Pondok Pesantren Al Hikam - Disamping mempunyai jabatan sebagai pengurus PB NU, KH. Hasyim Muzadi yakni juga pimpinan pondok pesantren Al Hikam, Malang. Sebelum pondok pesantren Al Hikam berdiri, KH. Abdul Hamid pernah berkata kepada KH. Anwar, Bululawang, bahwa kelak suatu hari KH. Hasyim Muzadi akan membangun pondok pesantrennya di sebelah utara rumahnya.


Kebenaran dari ucapan KH. Abdul Hamid tersebut kini terbukti, yaitu KH. Hasyim Muzadi kesannya menjadi pimpinan pondok pesantren yang ia berdiri sempurna disebelah utara rumahnya, hal ini persis menyerupai yang dikatakan oleh KH. Abdul Hamid kepada KH. Anwar, Bululawang. Padahal tanah yang ketika ini menjadi lokasi pondok pesantren yang dipimpin oleh K.H Hasyim Muzadi pada awalnya yakni tanah milik orang lain.

Sahabatku Yang Baik Hatinya
orang mengenal Kiai Hamid alasannya yakni ia dikenal sebagai seorang wali. Dan orang menyampaikan wali – biasanya – hanya alasannya yakni abnormalitas seseorang. Tidak banyak yang tahu wacana sejatinya beliau. Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul auliya’, tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Syekh Abdul Qodir yakni menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa berdasarkan madzhab Syafi’I dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah kedua dan Panglima perang.

Padahal ia juga wali besar. Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut hingga sekarang.

Kyai Abdul Hamid yang punya nama kecil Abdul Mu’thi lahir di Lasem Rambang Jawa Tengah tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1914 M. dari pasangan Kiai Abdullah bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq. Beliau yang biasa dipanggil Mbah Hamid ini yakni putra keempat dari 12 saudara.

Seperti umumnya anak cerdas, Hamid pada waktu kecil nakalnya luar biasa, sehingga dia yang waktu kecil dipanggil Dul ini panggilannya dipelesetkan menjadi Bedudul. Kenakalannya ini dibawa hingga menginjak usia remaja, dimana dia sering terlibat perkelahian dengan orang China yang pada waktu itu dipihak para penjajah. Pernah suatu ketika dia ajengkel melihat lagak orang China yang sombong, kemudian orang China tersebut ditempeleng hingga klenger.

Karena dia dicari-cari orang China kemudian oleh ayahnya dipondokkan ke Termas Pacitan. Sewaktu dia mencar ilmu di Termas sering bermain ke rumah kakeknya, Kiai Shiddiq di Jember dan kadang kala bertandang ke rumah pamannya Kiai Ahmad Qusyairi di Pasuruan. Sehingga, sebelum dia pindah ke Pasuruan, dia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat disana.

Setelah di pesantren Termas dipercaya sebagai lurah, Kiai Hamid sudah mulai menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai instensif dan konon dia suka berkhalwat disebuah gunung bersahabat pesantren untuk membaca wirid. Semakin lama, dia semakin jarang keluar kamar. Sehari-hari di kamar saja, enath apa yang diamalkannya. Sampai kawan-kawannya menarik hati . Pintu kamarnya dikunci dari luar. Tapi, anehnya dia dapat keluar masuk.

Tawadlu’ dan Dermawan
Kiai Hamid yang kemudian diambil menantu Kiai Qusyairi yakni sosok yang halus pembawaannya. Meski sebagai orang alim dan menjadi menantu kiai, ia tetap tawadlu’ (rendah hati). Suaranya pelan dan sangat pelan. Ketika apa saja apelan, entah mengajar, membaca kitab, berdzikir, shalat amaupun bercakap-cakap dengan tamu. Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau simpel sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya, ia menangis dulu, kesannya tidak jadi marah. “Angel dukane, simpel nyepurane”, kata Durrah, menantunya.

Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun ia menawarkan sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap tangan di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan ia pesan kepada pencuri biar mampir lagi jikalau ada waktu.

Sikap tawadlu’ sering ia sampaikan dengan mengutip aliran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan)”. Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada permintaan suatu acara, ia menentukan duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada daerah kosong disitu ia duduk, tidak mau duduk di barisan depan alasannya yakni tidak mau melangkahi badan orang.

Kiai Hamid yang wafat pada tahun 1982 juga dikenal sebagai orang yang dermawan. Biasanya, kebanyakan orang jikalau memberi pengemis dengan uang recehan Rp. 100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, ia jikalau memberi tidak melihat berapa uang yang dipegangnya, eksklusif diserahkan. Kalau tangannya kebetulan memegang uang lima ribuan, ya uang itu yang diserahkan kepada pengemis. Tak hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dua kali setahun ia selalu membagi sarung kepada masing-masing anggota keluarga.