Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Hujan Pun Segan Dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)

Mbah Yai Hamid (adik pendiri NU; KH Wahab Chasbulloh) yaitu putra mbah Chasbulloh Said Tambak Beras yang wafat tahun 1956 M.


Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang berguru dari Makkah, hidup dia hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk ngajar para santri atau ngaji di kampung kampung sekitar Tambakberas saja.

Jadi, dapat dikata, mbah Hamid yang mbengkoni (menunggui) pondok dengan dibantu mbah Yai Fattah, sedang mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja mbah Wahab ngajar santri.

Karamah uniknya, jikalau terjadi mendung di animo hujan, biasanya mbah Hamid akan keluar rumah ngawasi tukang yang sedang menciptakan bata merah (mbah Hamid berdagang bata merah), Ketika mbah Hamid keluar rumah, maka biasanya mendung tidak jadi menurunkan hujan.

Jadilah orang orang kampung Tambak Beras makmum Yai Hamid dalam menciptakan bata. Artinya, sekalipun animo hujan, jikalau mbah Hamid masih menciptakan bata merah, maka masyarakat akan ikut buat bata alasannya yaitu tidak kawatir hujan.Kyai Wahab Chasbullah, Tokoh dan Diplomat Internasional

Suatu saat, KH. Wachid Hasyim pergi ke Tambakberas untuk sowan ke mbah Wahab Chasbulloh. Setelah bertemu mbah Wahab, Yai Wachid minta ditakwilkan mimpinya yang berupa kejebur atau kecemplung sumur.

Tahu Yai Wachid minta takwil mimpi, maka mbah Wahab menyuruh Yai Wachid untuk menemui adiknya, yakni mbah Hamid. Ketika Yai Wachid bertemu mbah Hamid dan bercerita ihwal mimpinya, maka mbah Hamid hanya menangis.

Setelah Yai Wachid pulang, mbah Wahab bertanya, “Lapo mbok tangisi? (kenapa kau menangisi Yai Wachid).

Jawab mbah Hamid, “Gus Wachid niku cepet drajatnya, tapi geh cepat pejahnya.” (Yai Wachid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya).

Terbukti KH. Wachid Hasyim masih muda sudah jadi menteri agama, dan masih muda pula wafatnya. (riwayat dari KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada 16-8-2016).

Karamah unik lainnya dia tidak dapat di foto. Beberapa santri dan Kiai memberi kesaksian ihwal hal itu.

Mbah Hamid wafat pada 8 ramadhan. Setelah sahur, dia terhuyung terus berbaring dan minta diambilkan Quran. Setelah quran di tangan mbah Hamid, dia menutupi wajahnya dengan quran, dan innalillahi wainna ilayhi rajiun. Untuk mbah Hamid, alfatihah.

0 komentar: