Karoham Habib Sholeh dan Bertemunya Dengan Nabi Khidir

Karoham Habib Sholeh dan Bertemunya Dengan Nabi Khidir

Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Abdurrahman Assegaf pernah berkata bahwa Habib Sholeh adalah orang yang doanya selalu terkabul dan orang yang sangat dicintai dan disegani.

Dari banyak referensi tentang karomah beliau, kisah ini diambil dari dari Managib Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid yang ditulis Shohibul Fadhilah Sayyidiy Al-Habib Muhammad Rafiq Al-Kaff yang dipublish pada 6 Juli 2017.

Dalam Managib tersebut diceritakan beberapa karomah dan perjalanan dakwah Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid. Habib Sholeh lahir di Korbah Ba Karman, Wadi ‘Amd, sebuah desa di Hadramaut, Yaman, pada tahun 1313 Hijriyah. Ayah beliau Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid terkenal dengan sebutan Al-Bakry Al-Hamid, ulama yang sangat dihormati. Ibundanya seorang wanita salehah bernama ‘Aisyah, dari keluarga  Al-Abud Ba Umar dari Masyaikh Al-‘Amudi.

Beliau mempelajari Al-Quran dari seorang guru bernama Syaikh Said Ba Mudhij, di Wadi ‘Amd. Sedangkan ilmu fiqih dan tasawuf beliau pelajari dari ayahnya Al-Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid. Pada usia 26 tahun, bertepatan tahun 1921 Masehi, Al-Habib Sholeh meninggalkan Hadramaut dan hijrah ke Indonesia ditemani Syeikh Fadli Sholeh Salim bin Ahmad Al-Asykariy. Setibanya di Indonesia, beliau singgah di Jakarta beberapa hari.

Mendengar kedatangan Habib Sholeh, sepupu beliau Habib Muhsin bin Abdullah Al-Hamid, meminta Habib Sholeh untuk  tinggal sementara di kediamannya di Kota Lumajang. Setelah menetap beberapa hari, beliau pindah ke Tanggul, Jember, Jawa Timur. Dan akhirnya menetap di Tanggul, hingga akhir hayat beliau.

Sebelum memulai dakwahnya di Jember, Habib Sholeh pernah mengasingkan diri lebih dari tiga tahun. Beliau berkhalwat dengan membaca Alqur’an, bersalawat dan berdzikir. Guru besarnya Al-Imam Al-Qutub Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mengajak beliau keluar dari khalwatnya, lalu meminta Habib Sholeh datang ke kediamannya di Kota Gresik.

Sesampainya di rumah Al-Habib Abubakar, Habib Sholeh mendapat mandat dan ijazah dengan memakaikan jubah  imamah dan sorban hijau dari gurunya sebagai pertanda kewalian quthb (kutub) yang akan diembannya. Setelah itu, Habib Sholeh mendapat isyarat untuk datang ke Makkah dan Madinah. Usai berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, beliau kembali ke Indonesia untuk berdakwah.

Dakwah Habib Sholeh diawalinya dengan membangun mushalla di tempat kediamannya. Habib Sholeh mengisinya dengan salat berjamaah dan menghidupkan Quran antara magrib dan Isya. Beliau juga memberi tausiyah dan pengajian yang membahas seputar ilmu syariat dan ilmu fiqih. Setiap selesai salat Ashar, beliau membacakan kitab An-Nashaihud Dinniyah, karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, yang diuraikannya ke dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, yakni bahasa Madura.

Beberapa tahun kemudian, beliau mendapat hadiah sebidang tanah dari seorang Muhibbin (orang yang mencintai anak cucu keturunan Rasulullah SAW) yakni Haji Abdur Rasyid. Di atas tanah inilah beliau membangun masjid yang diberi nama Masjid Riyadus Shalihin dan kemudian mewakafkannya. Dakwah dan kegiatan keagamaan pun kian hidup setelah masjid ini berdiri.

Selain berdakwah di masjid, Habib Sholeh dalam kesehariannya, selalu melapangkan orang susah. Membantu orang-orang yang dililit utang, membantu fakir dan anak yatim. Jika beliau melihat gadis dan pemuda yang belum kawin, beliau mencarikan pasangan hidup dengan menawarkan seorang calon. Pernah pula dalam sehari beliau mendamaikan dua atau tiga orang yang bertikai.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Habib Sholeh tercatat sebagai pemberi semangat dengan meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Islam Surabaya. Beliau dikenal karena akhlaknya yang  mulia, tidak pernah menyakiti hati orang lain.

Dikisahkan, suatu waktu beliau sedang berjalan bersama Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi, Kwitang, Jakarta. Beliau berkunjung ke kediaman Habib Ali di Bungur, Jakarta. Saat melintasi sebuah lapangan, beliau melihat banyak orang berkumpul melaksanakan salat Istisqa (salat minta hujan), lantaran Jakarta saat itu dilanda kemarau panjang. Tak lama kemudian, setelah Habib Sholeh menengadahkan tangannya ke langit, seraya membaca doa meminta hujan. Taklama kemudian, hujan pun turun.

Suatu ketika ada orang bertanya, "Ya Habib Sholeh, apa sih kelebihan ibadah Habib sehingga doa Habib cepat terkabul?  Habib Sholeh menjawab, "Mau tahu rahasianya? Saya tidak pernah menaruh pispot di kepala saya."
Orang itu bertanya kembali, "Apa maksudnya, ya Habib?"

Habib Sholeh berkata, “jangan pernah pispot di kepala dalam beribadah artinya, jangan membanggakan dunia yang pada akhirnya hanya akan membuat diri kita malu. Pispot, walaupun terbuat dari emas murni yang terbaik di dunia dan bertahtakan intan berlian yang juga terbaik, kalau dibuat topi, tetap akan membuat malu. Kalau orang membangga-banggakan diri bermodalkan dunianya, lihat saja, orang itu akan terjerembab oleh dunia. Karena amal orang itu dipamer-pamerin," kata Habib Sholeh. Selain itu katanya, "Jangan melakukan dosa syirik."

Karomah Habib Sholeh

Nama Habib Sholeh kian terkenal dan harum. Kisah-kisah yang menceritakan karamah beliau tak terhitung. Tetapi perlu dicatat, karamah hanyalah  suatu indikasi kewalian seseorang. Kelebihan itu dapat dicapai setelah  melalui proses panjang yaitu pelaksanaan ajaran Islam secara kaffah (sempurna). Dan itu dilakukan secara konsekwen dan terus menerus (istiqamah), sampai dikatakan bahwa istiqamah itu lebih mulia dari seribu karamah.

Banyak yang meyakini, Habib Sholeh Tanggul adalah seorang waliyullah yang dekat dengan Nabi Khidir (Alaihiisalam). Karena itu pula beliau terkenal dermawan, seolah apapun yang beliau miliki ingin beliau berikan kepada setiap orang yang  membutuhkannya.

Pertemuannya dengan Nabi Khidir disebut-sebut sebagai salah satu karamah Habib Sholeh. Kala itu, layaknya pemuda keturunan Arab lainnya, orang masih memanggilnya Yik, kependekan dari kata Sayyid, yang artinya Tuan, sebuah gelar untuk keturunan Rasulullah.

Suatu ketika Yik Sholeh sedang menuju Stasiun Kereta Api Tanggul yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba seorang pengemis datang meminta uang. Habib Sholeh yang sebenarnya membawa sepuluh rupiah menjawab tidak ada, karena hanya itu yang dimiliki.

Pengemis itupun pergi, tetapi  kemudian datang dan minta uang lagi. Karena dijawab tidak ada, ia pergi lagi, tetapi lalu datang untuk ketiga kalinya. Ketika didapati jawaban yang sama, orang itu berkata, “Yang sepuluh rupiah di saku kamu?”  seketika Yik Sholeh meresakan ada yang aneh. Lalu ia menjabat tangan  pengemis itu. Ketika berjabat tangan, jempol si pengemis terasa lembut seperti tak bertulang.

Keadaan seperti itu, menurut beberapa kitab klasik adalah ciri fisik Nabi Khidir. Tangannya pun dipegang erat-erat oleh Yek Sholeh, sambil berkata, “Anda pasti Nabi Khidir, maka mohon  doakan saya.” Sang pengemis pun berdoa, lalu pergi sambil berpesan bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu. Tak lama kemudian, turun dari kereta api seorang berpakaian serba hitam meminta Yik Sholeh menunjukkan rumah Habib Sholeh.

Karena tidak ada yang nama Habib Sholeh, dijawab tidak ada. Karena orang itu menekankan ada, Yik Sholeh menjawab, “Di daerah sini tidak ada tuan, nama Habib Sholeh. Yang ada Sholeh, saya sendiri, “Kalau begitu Anda lah yang saya cari,” jawab orang itu lalu pergi, membuat Yik Sholeh tercengang.

Sejak peristiwa itu, rumah Habib Sholeh selalu ramai dikunjungi orang, mulai sekadar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari Tanggul, tetapi  juga luar Jawa bahkan luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain.
sumber: duta islam

Baca juga: