Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Perjuangan-Perjuangan Gus Dur Yang Selalu Relevan Dan Layak Diteruskan

Kabar Santri ~ Sudah sewindu lebih Abdurrahman Wahid atau biasa disebut Gus Dur wafat. Namun, pemikiran-pemikiran serta peran praksisnya di ranah sosial, politik, keagamaan, budaya, dan seterusnya meninggalkan warisan yang tidak lekang digerus zaman.


Dia menyerupai hadir di daerah dan waktu yang tepat. Pemikirannya terus-menerus dibicarakan, diawetkan, dan dirujuk untuk membaca fenomena perubahan masyarakat –muslim terutama– yang begitu cepat dengan segala duduk kasus di dalamnya seiring dengan berkembangnya teknologi informasi pada kurun digital ketika ini.

Harus diakui, perkembangan dan perubahan masyarakat pada kurun digital atau milenium ini telah menjadikan banyak duduk kasus serius yang tidak hanya perlu dicermati, tetapi juga ditangani dengan sempurna oleh semua pihak, terutama negara.

Ibarat bom waktu, kalau tidak cepat ditanggapi, ia akan meledak dan meluluhlantakkan semua bangunan kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan yang telah susah payah dicoba dibangun dan diperjuangkan para pendiri bangsa. Gejalanya bisa dilihat secara aktual ketika ini. Tidak hanya di banyak sekali media umum (medsos), contohnya Facebook, Twitter, dan Instagram, tetapi juga di dunia nyata.

Bangunan kebangsaan (keindonesiaan) yang ditopang oleh pilar demokrasi yang menawarkan penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan dan pluralitas dalam masyarakat, baik pluralitas agama, keyakinan (kepercayaan), politik, maupun budaya, tampak mulai tergerus.

Fenomena tersebut seiring dengan bangkitnya populisme dalam politik yang dimanfaatkan para petualang politik dengan memainkan warta keagamaan atau warta rasialis untuk mendulang laba politik pragmatis. Mereka memanfaatkan momentum itu tanpa peduli ekses negatif yang terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat menjadi terbelah begitu tajam dan kerap terlibat konflik yang mencemaskan.

Gus Dur, baik dalam kapasitas dirinya sebagai seorang kiai maupun pemikir (cendekiawan) sekaligus politikus yang pernah menjadi kepala negara sebelum dilengserkan oleh kekuatan politik di DPR ketika itu dan tetap berlanjut sehabis dilengserkan, telah banyak menawarkan sumbangsih berharga bagi generasi ketika itu dan setelahnya.

Meskipun telah tenang di pusaranya semenjak delapan tahun lalu, semangat perjuangannya tidak pernah surut dan mati. Suara-suaranya dari alam kubur menyerupai berteriak-teriak mengingatkan bangsa ini. Apa yang Gus Dur perjuangkan ketika itu sebagian buahnya telah berhasil, tetapi banyak juga yang belum terwujud.

Setidaknya ada tiga bentuk usaha Gus Dur yang selalu penting dan relevan diperjuangkan hingga kapan pun. Pertama, demokrasi dan keadilan. Bagi Gus Dur, demokrasi sejauh ini yaitu pilihan terbaik alasannya yaitu ia mengakomodasi kebebasan dan kepentingan elemen masyarakat dan individu. Karena itu, ia menolak keras sistem lain yang antidemokrasi. Namun, demokrasi yang Gus Dur inginkan yaitu demokrasi yang tidak berhenti pada tataran prosedural menyerupai rutinitas pemilihan umum (pemilu). Tetapi, itu mesti berlanjut ke tataran yang lebih substantif, yakni demokrasi yang membuat keadilan sosial dan kemaslahatan seluruh rakyat, terutama mereka yang paling lemah, papa, miskin, dan tertindas.

Keadilan, kata Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), yaitu salah satu ketentuan dasar yang dibawakan Islam, baik itu keadilan perorangan (individual) maupun keadilan politik (kolektif). Keadilan yaitu tuntutan mutlak dalam Islam. Quran berkali-kali menawarkan rumusan: ’’hendaklah kalian bertindak adil’’ (an ta’dilu) dan rumusan ’’menegakkan keadilan’’ (kunu qawwamina bi al-qisth). Dengan dua rumusan Quran itu, Undang-Undang Dasar 1945 mengemukakan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI): menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. Kalau negara lain mengemukakan kemakmuran (prosperity) dan kemerdekaan (liberty) sebagai tujuan, negara kita lebih menekankan prinsip keadilan daripada prinsip kemerdekaan itu.

Kedua, pluralisme dan kebinekaan. Gus Dur yaitu seorang pluralis sejati. Dia mengerti bahwa bangsa ini semenjak mula dibangun di atas kebinekaan suku, bangsa, dan agama. Ini yaitu berkah Tuhan yang patut disyukuri dengan cara merawat dan mengembangkannya untuk kemajuan bangsa. Gus Dur tidak menampik kenyataan bahwa umat muslim yaitu secara umum dikuasai di negara ini. Sebagai mayoritas, kata Gus Dur, mereka mesti membuatkan budaya hening dan melindungi kelompok minoritas. Dalam hal itu, Gus Dur menekankan pentingnya mengawal konstitusi dan substansi nilai-nilai keislaman yang luhur. Bagi Gus Dur, Islam yang berorientasi kepada kebangsaan harus bisa mewarnai kehidupan bernegara.

Menurut Gus Dur, kebinekaan yaitu rumah yang terdiri atas kamar-kamar. Di kamar-kamar itu penghuninya bebas berekspresi. Namun, ketika ada di ruang tamu dan ruang makan, seluruh penghuni harus mengikuti dan tunduk kepada aturan main bersama rumah tersebut. Jika ada serangan dari musuh luar, seluruh penghuni harus tolong-menolong melawan. Dan, kalau keluar rumah, semua penghuni harus menjaga nama baiknya. Mengutip Mahfud M.D. (2014), pluralisme hanya bisa tegak dengan ratifikasi kesamaan derajat semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Supaya aspirasi dan kehendak setiap warga tidak liar, maka meniscayakan demokrasi. Lalu, supaya demokrasi tidak liar, harus ada kedaulatan aturan semoga demokrasi tidak berjalan prosedural, tetapi subtansial.

Ketiga, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Demokrasi dan pluralisme sangat membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang sanggup menopang dan memperkuat keduanya. Bagi Gus Dur, Islam yaitu agama yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasinya. Nilai-nilai kemanusiaan itu contohnya disebutkan dalam Al-Qu'ran, ’’Wahai manusia! Sungguh, Kami telah membuat kau dari seorang pria dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku semoga kau saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kau di sisi Tuhan ialah orang yang paling bertakwa.’’ (QS al-Hujurat [49]: 13)

Mengingat dan memperingati sewindu Gus Dur dengan demikian berarti merawat dan mewujudkan spirit Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, pluralisme, kebinekaan, dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Itu bekerjsama yaitu usaha universal, di mana pun dan kapan pun.

Gus Dur sangat menyayangi bangsa dan negara ini. Dia tidak ingin bangsa ini dirusak dan dihancurkan oleh orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Mereka yang mengorbankan kepentingan bersama dan lebih besar demi ambisi politik sempit dan pragmatis. Perjuangan Gus Dur perlu diteruskan semua anak bangsa yang menyayangi negara ini.