Kisah Kh Dimyati Wonosobo Bai'at Pribadi Dengan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

Kisah Kh Dimyati Wonosobo Bai'at Pribadi Dengan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

Kabar Santri ~ Beliau yaitu KH Dimyati bin Syihab berasal dari tempat Kaliwiro Wonosobo, menuntut ilmu di Pesantren Jampes Kediri asuhan Syaikh Ikhsan.


Dalam satu perjalanan spiritualnya, suatu ketika dia tiba kepada Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah Wonosobo, KH M. Chasbulloh, dia matur kepada Mbah Kiai Chasbulloh minta izin ikut ngaji thoriqoh, tapi Mbah Kiai Chasbulloh tidak mengizinkan, dia ngendiko "nggak mau saya, kau bocah edan kok mau ngaji thoriqoh" tetapi mbah Kyai Dimyati tetap memohon untuk bisa mengaji.

Kemudian Mbah Kiai Chasbulloh ngendiko " ya sudah, kalo kau memang mau ngaji, kalau kau memang laki laki sejati, ngaji pribadi sama kanjeng Syaikh Abdul Qodir jailani... Mbah Kyai Dimyati pun sendiko dawuh, "nggeh kalau itu yang Mbah Chasbulloh dawui, saya nderek.

Singkat cerita, kemudian Mbah Kiai Dimyati mujahadah di musholla milik Mbah Kiai Abu Hamid, adik ipar Mbah Kiai Chasbulloh, yang kini menjadi Madrosah Ponpes Futuhiyyah Bumen selama 3 hari 3 malam, dan balasannya hingga pada malam yang ke 3, Kanjeng Syaikh hadir menemui Mbah Kiai Dimyati dan mentalqinnya, YA DIMYATHI, QUL LAA ILAAHA ILLALLOH. Dan ditirukan oleh Mbah Kiai Dimyati... Ba'da shubuh tepat.

Mbah Kiai Chasbulloh yang memang tajam mata batinnya, mengetahui rawuhnya Kanjeng Syaikh pada malam tersebut pribadi bergegas ke musholla tempat Mbah Kiaii Dimyati mujahadah,, pribadi menemui.. Mbah Dim pribadi dipeluk sambil ngendiko.. Alhamdulillaaaah, pancen lanang temenan deke (kamu memang lelaki sejati) ditalqin kanjeng Syaikh Abdul Qodir Jailani.

Kemudian dia berpesan, itu dilarang kau ajarkan, hanya untuk kau sendiri, Mbah Dim pun nderek dawuhnya Mbah Kiai Chasbulloh, dia hanya menggunakan untuk pribadi, tidak diajarkan kepada orang lain. Itulah sekelumit kisah perjalanan spiritual Mbah Kiai Dimyati Syihab.

Sewaktu masih di Jampes, dia juga guru ngaji Ihya' ulumiddin dan salah satu muridnya yaitu Mbah Kiai Abdul Hamid Kajoran, Magelang. Beliau berdua sama-sama jago dzikir, jago hikmah, menyukai kedigdayaan sehingga dia berdua sering tanding satu sama lainnya.

Dan berdasarkan satu riwayat, semenjak masih di Jampes hingga muqim, Mbah Kiai Dim selalu kalah dari Mbah Kiai Hamid Kajoran, hingga hingga dia berdua muqim pun masih sering tanding berkelahi kesaktian.

Hingga suatu ketika diceritakan kalau Mbah Hamid Kajoran rawuh ke Kaliwiro pada hari Jum'at, sehabis sholat Jum'at di masjid jami' Kaliwiro, dia berdua berkelahi tanding di lapangan Kaliwiro, ditonton oleh masyarakat sekitar.

Pada ketika itu yang pertama unjuk kesaktian yaitu Mbah Dim, dia mengibaskan tangan kanannya di dada, tiba-tiba di tangannya sudah tergenggam sebilah keris, masyarakat pun bertepuk tangan. Setelah itu giliran Mbah Hamid mengibaskan tangannya, dan muncullah keris ditangannya. Tepuk tangan pun bergema lagi.

Selanjutnya Mbah Dim melempar kerisnya ke arah langit, dan keris tersebut terbang hingga tak terlihat, Mbah Hamid pun melaksanakan hal yang sama, namun ketika mbah hamid melempar, kerisnya tidak bisa terbang, berulangkali dicoba, tidak terbang juga, hingga disoraki oleh masyarakat yang menonton balasannya dia membaca sesuatu (wirid) pada keris tersebut dan dilempar ke atas, keris itupun terbang ke langit hingga tak terlihat dan masyarakat pun bertepuk tangan.

Itu yaitu berkelahi kesaktian terakhir antara Mbah Kiai Dimyati dan Mbah Kiai Hamid Kajoran, semenjak kekalahan Mbah Hamid tersebut, mbah hamid tidak pernah tiba lagi ke Kaliwiro untuk bertanding.

Mbah Kiai Dimyati yaitu salah satu ulama yangat ketat dalam syariat, sehabis Mbah Kiai Dimyati muqim di desa Bumen, dahulu tidak ada yang berani lewat depan masjid Bumen menggunakan celana pendek atau rok pendek, alasannya yaitu kalo tertangkap lembap Mbah Dim maka akan di dukani... Ke*ek kowe, dengkul ora ditutupi, begitu juga jikalau tidak menggunakan peci, maka dia akan duko, complo*g (tengkorak) kowe, sirah ora ditutupi, bahkan tak jarang tongkat dia dilemparkan kepada orang yang tidak menutup aurat, (berpeci/celana panjang atau sarung. Begitulah beliau, sangat ketat dlm syariat.

Beliau berpuasa dalam satu minggu selama 5 hari, Senin, Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu. Tiap jam 12 malam selalu istiqomah qiyamullail. Beliau termasuk salah satu ulama yang membagi malam menjadi 3 bagian. Beliau dikaruniai usia yg panjang, hingga dia wafat usianya diatas 110 tahun, pastinya berapa usia dia narasumber tidak mengetahui secara pasti.

Ketika penulis ngaji Safinah kepada dia waktu masih SD, dia sudah berumur 105 lebih, dan dia ketika mengaji tidak menggunakan kacamata alias masih normal. Al Qur'an dia pun masih menggunakan Al Qur'an yang kecil. Bahkan Hizib Ghozali milik dia pun masih menggunakan goresan pena tangan dia sendiri yang ditulis didalam semacam buku saku Pramuka.

Beliau sangat disegani dan dihormati oleh siapa saja, bahkan tercatat Alm Gus Dur kurang lebih 4x sowan kepada dia baik sebelum menjadi Presiden maupun ketika masih menjadi Presiden. Dalam satu kesempatan pada program pertemuan pengasuh pondok pesantren se Jawa tengah di Salatiga, Gus Dur sempat ngendiko, ulama sepuh yang saya takuti di Jawa tengah itu cuma satu, yaitu KH Dimyati Kaliwiro Wonosobo.

Nafa'anallohu bi ulumihi wa amaddana bi asroorihi wa a'aada alaina min barokatihi wa uluumihi wa anwaarihi fiddiini wad dunyaa wal akhiroh amiin.

ARTIKEL MENARIK LAINYA:

Buka Komentar
close