Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Humor, Penangkal Info Sara


Oleh Ahmad Yahya

Menghadapi tahun politik, kita harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, apalagi dalam mengeluarkan statemen ataupun komentar yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan yang memicu munculnya reaksi negatif sesama anak bangsa. 

Persolan dan ketegangan menjelang pemilihan kepala tempat ketika ini sanggup dihadapi dengan sedikit rileks, santai, dan tidak perlu gontok-gontokan mengedepankan jagoannya masing-masing siapa yang paling ungggul dan gagasannya yang paling oke. Santai sajalah, alasannya yaitu stress berat bangsa ini akan penyelenggaraan beberapa pilkada juga masing menyisakan bekas luka, biarpun semuanya mengaku legowo dan selesai.

Setiap hari kita seringkali mendapatkan goresan pena maupun gambar di handphone perihal cerita-cerita ringan, cerita-cerita humor, kadang ya lucu kadang ya tidak, ataupun humor dan guyonan dengan orang-orang terdekat, tetapi sedikit sentuhan menyerupai itulah kadang kita senyum senang dan rileks, suasana tegang menjadi cair. Selera humor masyarakat makin tinggi tatkala keuntungannya sanggup dirasakan oleh banyak kalangan, humor juga tidak memandang usia, umur, status dan apa pun itu jenisnya.

Kita juga sanggup mengakses dengan gampang cerita-cerita humor ala Gus Dur lewat online, ataupun pengajian-pengajian Cak Nun yang dikemas dengan sederhana di tambah sentuhan humor tetapi makna yang disampaikan mengena, dan lawakan Cak Lontong yang unik dan khas.   

Lebih dari itu, Gus Dur selalu menawarkan pelajaran bagi bangsa ini bahwa semua masalah sanggup disikapi secara rileks, dipikirkan lebih jauh dan mendalam tanpa adanya goresan sesama anak bangsa. Tetapi perlu diakui Gus Dur mempunyai metode tersendiri untuk menuntaskan problem dan problem bangsa tanpa mengorbankan dan terjadinya pertumpahan darah. Itulah uniknya seorang Gus Dur.

Penulis yakin humor sanggup menciptakan suasana pilkada di tahun politik ini sanggup lebih hening dan santai, akan tetapi humor atau guyonannya dengan tidak saling menjatuhkan para pihak dan menghujat, apalagi hingga memunculkan isu-isu SARA dan memicu munculnya berita-berita hoaks.

Pada dasarnya humor yaitu salah satu bentuk budaya yang  bersifat universal. Setiap orang pasti  mempunyai rasa humor, perbedaannya hanya orang yang mempunyai rasa humor tinggi dan rasa humor yang rendah. Humor yaitu suasana hati yang bersifat sementara, dikatakan sementara alasannya yaitu munculnya humor itu terjadi alasannya yaitu humor pribadi terjadi.

Humor mungkin sudah ada semenjak insan mengenal bahasa, atau bahkan lebih tua. Humor sebagai salah satu sumber rasa gembira, mungkin sudah menyatu dengan kelahiran insan sendiri. Humor yang dalam istilah lainnya sering disebut dengan lawak, banyolan, dagelan, dan sebagainya.

Menurut Sujoko (1982) bahwa humor sanggup berfungsi untuk ; pertama melakukan segala impian dan segala tujuan gagasan atau pesan. Kedua sanggup menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar. Ketiga  mengajarkan orang melihat problem dari aneka macam sudut. Keempat sebagai sarana hiburan. Kelima melancarkan pikiran. Keenam menciptakan orang mentolelir sesuatu. Ketujuh menciptakan orang memahami soal pelik.

Tuhan SWT dan Nabi Muhammad SAW tidak melarang kita untuk bercanda tawa, selama dalam kadar yang masuk akal dan tidak melanggar rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam fatwa Islam.

Humor yaitu sebuah keniscayaan kebutuhan insan yang tidak sanggup dibantah lagi, yang terpenting humor tidak diplintir ke arah perpecahan antarumat dan bangsa. Gitu aja kok repot (Gus Dur). Wallahu a’lam.

Sumber :nu.or.id

Bagikan ke

0 komentar: