Gus Mus: Semangat Beragama Tinggi Tanpa Ngaji, Bermasalah!

Gus Mus: Semangat Beragama Tinggi Tanpa Ngaji, Bermasalah!


Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri mengatakan, orang beragama dengan semangat berlebihan, tapi tanpa mengaji itu menjadi masalah. Kaprikornus apa pun harus ngaji.

Gus Mus mengutip sebuah hadits, siapa yang menginginkan dunia, maka harus ngaji. Bila ingin akhirat, maka harus ngaji. Siapa ingin keduanya, juga harus ngaji .

“Semangat hiperbola dalam agama tanpa diimbangi pemahaman mendalam terhadap agama akan  jadi  masalah,” ungkapnya ketika tampil menjadi narasumber Mengaji Indonesia di UIN Surabaya, Senin (05/03/2018) malam.

Menurut Gus Mus, di atas langit ada langit, di atas orang cendekia ada yang lebih pintar. Mengaji itu dari lahir sampai liang lahat. Boleh berhenti sekolah, tapi dihentikan berhenti belajar.

Pemerintah Harus Tegas
Lebih lanjut Gus Mus menyampaikan, kita itu dari banyak sekali insan yang mempunyai kedudukan sendiri-sendiri.  Permasalahasan-permasalahan wacana menjaga keindonesiaan segala macam, menjaganya juga berbeda-beda.

Baca Juga: Sangar! Puisi Gus Mus "Kau Ini Bagaimana?" Kaprikornus Bahan Demo di Malaysia

“Ada persoalan-persoalan di masyarakat kita, dan paling aku hanya bisa ngomong atau menulis. Pemerintah itu berbeda atau lain dengan saya. Kalau aku mengimbau, itu pantas, tapi bila pemerintah itu mengimbau itu kurang pantas. (Pemerintah) bisa melaksanakan, mempunyai wewenang,” ucap Gus Mus

“(Menangani ) persoalan-persoalan ini pemerintah harus di depan alasannya ialah yang mempunyai tanggung jawab melayani umat ini hanya pemerintah. Kaprikornus soal halal haram, diskriminasi dan lainnya, bila sekadar Pak Rektor, apalagi saya, itu tidak bisa,” lanjutnya.

Menurut Gus Mus, pemerintah harus tegas. Karena ini negara hukum, maka harus taat hukum, siapa pun harus taat hukum.

“Jadi, harus ada yang pribadi melaksanakan sanksi alasannya ialah mempunyai wewenang. Ada yang mengimbau, dan semuanya bareng-bareng mendandani rumah kita,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Gus Mus, satu sama lain harus saling mendukung untuk kepentingan Indonesia.  Dalam rumah ini tentu saja berbeda-beda. Isinya macam-macam. Intinya sudah diajarkan agama, yaitu dengan rahmatan atau kasih sayang.

“Asal kita mendahulukan kasih sayang, kita tidak hanya akan masuk surga, tapi kita sudah di nirwana itu sendiri,” ujar Gus Mus. 

Sumber :nu.or.id
Tulis Komentar
Press Enter to Search