Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Gus Dur Dan Dongeng Hizib Shofi


Oleh Nur Khalik Ridwan

Di Jawa Tengah bab barat, terdapat seorang Kiai. Saya menyebutnya, Kiai KUA, alasannya yaitu pekerjaan sehari harinya di Kantor Urusan Agama di sebuah kecamatan, dan sudah pensiun.

Kiai KUA belajar salah satunya kepada seorang kiai dari Buntet. Namanya Kiai Akyas. Kiai KUA, mengambil ilmu Kiai Akyas, salah satunya ijazah wirid Hizib Mubarok. Pengamalannya dibaca setiap ba'da maktubah atau sehabis sholat 5 waktu. Ijazah diperoleh pada tahun 70-an.

Salah satu anak dari Kiai KUA, ikut mengamalkan Hizib Mubarok, atas dawuh dari ayahya itu. Namanya saya sebut Kang Saleh.

Kiai KUA yang sangat menghormati Gus Dur, pada suatu malam mengalami mimpi. Dia didatangi Gus Dur, dan berkata: "Aku telah memberi anakmu sebuah buku." Pada besuk paginya, Kiai KUA, memanggil anaknya dan meminta keterangan.

Kang Saleh, anak Kyai KUA, yaitu seorang guru agama. Dia berdasarkan dawuh dari ayahnya, mengamalkan Hizib Mubarok dan mudawamah sholat tahajud. Suatu ketika sehabis sholat tahajud ia mendengar bunyi yg sangat terang dalam pendengaran batinnya, berbunyi: "Shodaqta". Lalu, sehabis itu ada bunyi berbunyi "Kuat..!" Tidak usang sehabis itu, Kang Saleh mendengar bunyi gemercik air masuk ke telinganya seraya memasukkan lafadz Hizib Shofi.

Setelah mendapat Hizib Shofi tersebut ia mendadak lupa dengan lafadz Hizib Mubarok yg sudah didawamkan selama 8 tahun. Pada kejadian "masuknya" Hizib Shofi itu ia juga melihat salah seorang kiai ternama dari Cirebon.

Hizib Shofi, berdasarkan Kang Saleh, sebagaimana bunyi yg terdengar ketika itu berfungsi: 1. Untuk memohon kebaikan diri pribadi; 2. memohon kebaikan utk masyarakat luas; dan 3. memohon kebaikan utk bangsa dan negara Republik Indonesia.

Bersamaan dengan diterimanya Hizib Shofi, Kang Saleh juga diberi wirid untuk dimudawamahkan, yaitu:

١. لاحول ولا قوۃ الا بالله العلي العظيم ١۰۰ x
٢. سورۃ الفاتحۃ ١۰۰ x
٣. استغفرالله العظيم ١۰۰ x

Bersamaan dengan itu pula, Kang Saleh diminta supaya selalu nderes Al-Qur'an dan mencatat ayat-ayat penting dalam buku catatan.

Cerita inilah yang diceritakan Kang Saleh kepada ayahnya. Dan, Kyai KUA, gres mengerti sehabis Anaknya bercerita, dan yang dimaksud Gus Dur perihal "buku yang diberikan kepada anaknya" ternyata yaitu serangkaian Hizib Shofi dan beberapa wirid di atas dan nderes Al-Qur'an. Saya memperoleh kisah itu dari sobat kami, yang bersahabat dengan Kang Saleh. Lafazh dari Hizib Shofi itu adalah:

"وصلی الله علی سيدنا محمد وعلی اله وصحبه وبارك وسلم اجمعين,

ولاحول ولاقوۃ الابالله العلي العظيم,

سورۃ الفاتحۃ."

Cerita ini menawarkan pesan tersirat pengertian bahwa, ada homogen laris wirid melalui jalan bimbingan Ruhani menyerupai ini. Dalam kisah sufi, hal menyerupai ini menyerupai kisah Syekh Uwaisy al-Qarni, yang tidak bertemu fisik dengan Kanjeng Nabi, tetapi memperoleh bimbingan dari Kanjeng Nabi.

Kisah menyerupai ini juga ada di dalam Kitab Ihya, ketika menceritakan tasbih dengan redaksi Subhanalloh al-'Aliyyid Dayyan, Subhanalloh asy-Syadidil Arkan, Subhana man Yadzhabu bilIai wa ya'ti bin Nahar, Subhana man la Yusghiluhu Sya'nun 'an Sya'nin, Subhanalloh al-Hannanil Mannan, Subhanalloh al-Musabbahi fi kulli makan, yang berdasarkan Syaikh Ma'ruf al-Karkhi didengar dari sebagian wali Abdal, yang mendapat melalui pendengaran batin yang keras, sehabis disiplin wirid dan sholat, di pinggir laut. Kaprikornus ada di antara para hebat wirid itu yg memakai jalan menyerupai ini.

Hikmah kedua, seorang yang mudawamah terdapat amalan-amalan tertentu, ia sanggup memperoleh warid, sesuatu yang tiba kepadanya, berupa pengalaman-pengalaman spiritual. Melalui kisah ini, Gus Dur pun, memberi kabar kepada seorang ayah melalui mimpi, atas anugrah yang diperoleh anaknya. Wallahu a'lam.

Sumber :nu.or.id

Bagikan ke

0 komentar: