Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Entah Kenapa, Meskipun Saat Engkau Tiada Saya Gres Kelas 3 Sd, Saya Begitu Rindu Padamu Gus..


Tulisan ini untuk Gus Dur. Walau kala Gus dur menjabat, saya belum lahir dan belum mengenalnya, tetapi saya banyak mendengar dan membaca tentangnya. Jadi, sedikit banyak tahu ihwal beliau.

Dulu, waktu Gus dur meninggal (saat itu saya kelas 3 SD), mendengar kabar itu saya menangis, padahal saya tak tahu 'siapa Gus dur'. Tiap kali mendengar kisah tentangnya, tawa dan haru selimuti perasaanku. Tertawa lantaran guyonannya yang nyentrik, terharu bahkan menangis lantaran sosoknya yang berilmu dan bijaksana, menyayangi semua elemen bangsa serta perjuangannya yang 'tidak mudah', diludahi orang yang ia beri makan dan ia didik sepenuh hati. Bagaimana rasanya? Namun bagaimanapun, Gus Dur tetap memaafkannya.
*Tulisan ini di kutip dari aneka macam sumber.

Rindu kami untukmu, Gus ...

"Gus, Kami sangat rindu padamu"
Begitu ungkapan hati orang-orang yang mengeluh merindukan sosok nyentrik yang mempunyai intelektualitas tinggi. Abdurrahman Wahid atau biasa di sapa Gus Dur ini lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 Desember 1940 dan "Menghadap Allah" pada umur yang ke-69 tahun (30 Desember 2009).

Sebelum Gus Dur berpulang, ketika duduk di kursi kehormatan istimewa RI-1, dia sempat melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial dan menjadi polemik di kala itu. Pernyataan sentilan dia tehadap dewan perwakilan rakyat misalnya, menyampaikan bahwa dewan perwakilan rakyat menyerupai Taman Kanak (TK), Kumpulan Playgroup, menyebut sapaan "Prof" yang berada di kursi dewan perwakilan rakyat sebagai 'Profokator' dan masih banyak lagi. Beberapa oknum yang 'belum bangun' tentu murka dan geram dengan apa yang di lontarkan Gus Dur. Singkat cerita, pada 23 Juli 2001 kejadian penting sejarah perpolitikan 'kotor' bangsa Indonesia terjadi. Gus Dur lengser dari jabatannya alasannya ialah jutaan fitnah yang melanda dia kala itu, yang nyatanya tidak terbukti dalam persidangan.

Antara rasa percaya dan tidak percaya, namun ini nyata. Orang-orang yang dia didik dan besarkan malah pada karenanya menjatuhkan sosok Gus Dur. Sejak ketika itu, rasa 'tidak terima' menyelimuti tiap-tiap orang yang bersahabat dan mengenal sosok Gus Dur. Sebelum dilengserkannya Gus Dur dari masa jabatannya sebagai Presiden RI dengan cara yang tidak konstitusional, ratusan ribu 'Pasukan Berani Mati' membela Gus Dur dan siap perang darah jikalau hingga Gus Dur di lengserkan dari kursi Jabatan RI. Tapi dia berpesan, "Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus di pertahankan mati-matian. Apa lagi hingga meneteskan darah orang Indonesia. Nanti, semoga sejarah yang membuktikannya" sontak luluh hati mereka, tangisan haru menyelimuti rakyat seantero negeri kala itu.

"Gus Dur, mungkin kamu bukan lagi Presiden kami semenjak ketika itu. Tetapi Engkaulah Guru Bangsa kami, Guru Bangsa yang abadi, seabadi anutan Toleransi yang kamu tumpahkan kepada kami"

Begitu cloteh banyak orang yang masih sangat menyayangi sosok Gus Dur. Memang semenjak kehadirannya di Bumi Pertiwi ini, banyak pelajaran berharga yang di bawakan oleh Gus Dur menyerupai Toleransi, Demokrasi, dan juga Islam Nusantara yang ramah tamah. Gus Dur disebut sebagai 'Bapak Tionghoa' oleh masyarakat etnis Tionghoa pada masanya, alasannya ialah Gus Dur bisa melegalitaskan Tiong Hoa sebagai salah satu etnis yang ada di bumi nusantara.

Sejak ketika dilengserkannya Gus Dur hingga ketika ini, istilah "hukum karma" kolam hal yang patut dipercayai. Semua orang yang dahulu menjatuhkan Gus Dur, sekarang hidup tak teratur. dewan perwakilan rakyat yang dahulu dia sebut sebagai "Kumpulan Anak Taman Kanak-kanak dan Playgroup", sekarang benar terjadi. Banyak penghina Gus Dur yang 'jatuh tertimpa tangga', menjadi DPO Polisi misalnya.

Hingga detik ini
Ribuan bahkan jutaan insan yang dekat, mengenal dan minimal sudah membaca ihwal 'sosok Gus Dur' masih sangat merindukan guyonnya yang nyentrik, menyindir dengan tawa. Jasanya banyak di kenang generasi bangsa. Misalnya dengan berdirinya Komunitas 'Gus Durian' atau komunitas-komunitas semacam itu untuk kembali memperkenalkan dan membumikan 'ajaran' Gus Dur.

Gus, kami masih mencicipi bahwa engkau masih ada di sini, bersama kami. Maafkan kami yang belum bisa berbuat banyak untuk negeri ini, malahan kami sibuk mengurus diri, mencari simpati dan empati,  mempertinggi jabatan dan memperbanyak harta tanpa perduli dengan nasib bangsa Indonesia kedepannya.

Gus, jasadmu memang telah tiada.
Namun Jasamu, awet selamanya.

Gus Dur, kami rindu
Walau kala itu, saya belum tahu dan belum mengenalmu, namun saya banyak membaca dan mendengar tentangmu. Aku percaya kamu ialah guru sejati, guru dari seluruh guru di Indonesia yang ada pada masa itu, hingga ketika ini. Semoga Gusti Tuhan selalu memberkatimu, mengukuhkan jasamu, menempatkanmu dan seluruh keluargamu serta anak-cucumu di singgasananya yang suci.

Gus Dur, do'a, rindu dan cinta kami dari hati selalu tercurah untukmu wahai sang Guru Sejati. WE LOVE YOU SO MUCH. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com

Bagikan ke

0 komentar: