Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Cerita Di Balik Tidur Gus Dur Berdasarkan Gus Mus


Tidur merupakan acara di mana insan tidak sadar terhadap apa terjadi di sekelilingnya. Namun, hal ini berbeda dengan tidur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dinilai banyak kalangan menyimpan misteri.

Misteri yang dimaksud ialah, meskipun dalam kondisi tertidur saat diskusi, rapat, musyawarah, dan lain-lain, Gus Dur justru bisa menanggapi dengan tangkas dan cerdas pembicaraan di forum. Persis menyerupai orang yang terjaga padahal dirinya terlelap saat lembaga berlangsung.

Awalnya, tidak sedikit orang-orang yang tidak menyukai sikap Gus Dur tersebut sebab dianggap kurang sopan dan tidak etis. Namun, justru saat Gus Dur bisa menanggapi musyawarah dengan brilian sesudah terlelap, orang-orang tersebut berbalik kagum, hormat, dan menyukai Gus Dur.

Tidur Gus Dur ini terjadi bukan di lembaga biasa. Putra sulung KH Wahid Hasyim ini pernah terlelap di pertemuan internasional dengan pemimpin tertinggi Iran, sidang paripurna, rapat pleno di DPR, dan forum-forum besar lainnya.

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang merupakan sobat karib Gus Dur mengungkapkan misteri tidur Gus Dur yang kerap memahami pembicaraan orang-orang di lembaga meskipun dirinya terlelap. Cerita ini ia dapatkan eksklusif dari Gus Dur saat orang-orang ramai membicarakan tidurnya.

Saat orang-orang terkesima, Gus Mus justru menanggapinya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, tidak ada juga yang tak masuk nalar perihal misteri tidur Gus Dur ini. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini mengungkapkan bahwa kecerdasan Gus Dur justru terletak pada kesiapan dirinya menghadapi forum-forum besar.

Gus Mus berkata: “Tak ada yang aneh jikalau Gus Dur bisa menyerupai itu. Tak ada yang tak masuk akal. Gus Dur punya siasat dan bisa dipahami. Manakala mendapatkan seruan untuk diskusi, seminar, simposium, dialog, atau konferensi, dan sejenisnya, Gus Dur lebih dulu mencari tahu siapa saja pembicaranya.

Lalu Gus Dur mempelajari pikiran-pikirannya, perspektifnya, dan gagasan-gagasan yang pernah disampaikannya, baik dalam karya-karya tulisnya maupun ceramah-ceramahnya. Nah, dari membaca semua itu, Gus Dur menangkap apa yang akan dibicarakan dan disampaikan para pembicara atau narasumber itu kelak.”

Gus Mus menirukan Gus Dur: “Paling-paling tak jauh dari itu juga.” (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Fenomena Gus Dur ini dalam perspektif ilmu sastra dan retorika ada teori berjulukan bara’ah al-istihlal. Dalam tradisi keilmuan pesantren, teori ini terdapat dalam kitab Al-Jauhar al-Maknun, perihal balaghah, sastra Arab.

Inti teori ini berdasarkan KH Husein Muhammad dalam bukunya Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur (2012) yaitu pembicara biasanya akan mewakili pikirannya dengan mengungkap substansi yang akan diurainya kemudian.

Sumber :nu.or.id