Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

150 Juta Per Bulan, Dana Peziarah Makam Gus Dur Ternyata Tidak Untuk Pesantren Tebuireng, Ini Penjelasannya


Rata-rata 100 ribu peziarah tiba ke makam Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di PP Tebuireng, Diwek, Jombang. Dana infak yang terkumpul dari para peziarah pun melimpah. Rata-rata dalam sebulan mencapai Rp 150 juta.

Dana infak ini disalurkan para peziarah melalui kotak amal yang ada di lorong menuju ke area makam. Terdapat 3 kotak amal di potongan lorong. Kotak amal dari besi ini masing-masing berukuran 100x60x80 cm. Selain itu, terdapat sejumlah kotak amal cadangan untuk mengganti ketiga kotak amal tersebut bila telah penuh.

Dana infak peziarah dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT). Lembaga di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy'ari ini berdiri semenjak tahun 2007. Selain mengelola infak, forum ini juga menjadi unit pengumpulan zakat dari masyarakat umum.

Manajer Program LSPT Muhammad Rusdi mengatakan, kotak amal tersebut mulai dipasang tahun 2010, tepatnya sesudah Gus Dur wafat dan dimakamkan di Tebuireng 31 Desember 2009.

Ketiga kotak amal ini tanpa penjagaan. Sehingga peziarah betul-betul secara suka rela menyalurkan sedekah ke dalam kotak amal tersebut. Awal-awal dipasang, kata Rusdi, nilai infak dari para peziarah di kotak amal Rp 50-80 juta per bulan.

"Saat ini angkanya rata-rata Rp 100-150 juta per bulan," katanya di kantor LSPT, Jalan Irian Jaya No 10, Tebuireng, Jombang, Kamis (22/03/2018).

Pada bulan-bulan libur sekolah dan menjelang Ramadan, Rusdi melanjutkan, nilai infak yang terkumpul dari kotak amal makam Gus Dur mencapai Rp 250 juta. Seperti Januari 2017 mislanya, infak yang terkumpul Rp 251,6 juta, Juni Rp 233,2 juta dan Desember Rp 247,65 juta.

Tingginya penerimaan infak ini seiring dengan semakin membeludaknya peziarah. "Uang di dalam kotak amal pecahan terkecil Rp 500, paling besar pecahan Rp 100 ribu," ungkap Rusdi.

Untuk memudahkan penghitungan, ketiga kotak amal di lorong dibongkar seminggu sekali, yakni tiap hari Selasa. Pembongkaran dam penghitungan melibatkan 7 karyawan LSPT. Setidaknya diharapkan waktu 3-6 hari untuk menghitung uang tersebut.

"Yang menciptakan usang penghitungan yaitu banyaknya uang koin, untuk uang kertas harus diseterika agar rapi, juga harus ditata sesuai seruan bank," ujarnya.

Penempatan kotak amal di lorong menuju makam Gus Dur, kata Rusdi, bukan tanpa alasan.  Sebelum ada kotak amal, peziarah menyalurkan sedekahnya dengan cara melempar uang ke area makam. Ada pula yang menitipkan melalui penjaga makam. Lama kelamaan pengasuh kemudian menyarankan menciptakan kotak amal supaya orang gampang bersedekah.

Disalurkan untuk Orang Tidak Mampu
Rusdi menjelaskan, dana infak yang dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) sepenuhnya untuk banyak sekali kegiatan sosial. Tak sepeser pun dana dipakai untuk pembangunan PP Tebuireng. Menurut dia, dana tersebut sepenuhnya dipakai untuk meringankan beban masyarakat kurang mampu.

"Ada insiden banyak orang main ke pondok ingin minta pertolongan sebab kekurangan ekonomi. Kalau setiap hari harus bertemu dengan Gus Solah (Pengasuh PP Tebuireng KH Salahuddin Wahid) kan ribet, maka dibuat forum untuk mengelola infak. Menurut dia infak ini bukan haknya pesantren, tapi hak masyarakat kurang mampu," terperinci Rusdi.

Selain itu, lanjut Rusdi, acara sosial penyaluran dana antara lain peduli siswa tak bisa yang sudah menyentuh 52 anak, peduli yatim menyentuh 224 anak, pertolongan abdi pesantren menyentuh 80 orang, 27 orang pensiunan guru swasta, 279 orang masyarakat miskin, 118 anak akseptor beasiswa pendidikan di PP Tebuireng, 14 kesehatan anak dan 25 unit taman pendidikan Alquran (TPQ).

Dana infak juga dipakai untuk membantu pembangunan ratusan masjid dan musala di Jombang, pertolongan terhadap lansia yang tak bisa beraktivitas, serta pertolongan untuk korban peristiwa alam.

"Kami ada acara rutin tiap bulan, fakir miskin dan lansia tiap tanggal 10 kami ajak salat duha di masjid, istigasah, pengajian. Pulangnya kami beri masakan dan uang saku," ujarnya.

Dana infak peziarah juga sekarang terdapat Griya Sehat dan kendaraan beroda empat kesehatan di area makam Gus Dur. Griya Sehat untuk memberi pertolongan medis ke para peziarah yang sakit ringan. Mobil sehat untuk mengantar peziarah yang butuh perawatan ke rumah sakit. [dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com