Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Hukum menutup Pertemuan Dengan Sholawat

Sudah menjadi tradisi di masyarakat hampir setiap kali pertemuan ditutup dengan pembacaan shalawat. Shalawat seakan menjadi aba-aba perpisahan dan rasanya tidak lengkap jika tidak dilakukan.

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw memang dianjurkan Allah kepada umat islam. Setidaknya 17 kali dalam sehari semalam karena shalawat menjadi salah satu rukun shalat dalam lima waktu. Di luar shalat pun kita dianjurkan membaca shalawat dimana pun dan kapan pun.

Bagaimana dengan tradisi membaca shalawat usai pertemuan?

Imam Sakhawi dalam kitabnya al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ‘Ala al-Habib al-Syafi’menuliskan satu bab mengenai membaca shalawat setelah pertemuan. Beliau mengataan:

واما الصلاة عليه عند تفرّق القوم بعد اجتماعهم ففيه حديث ما جلس قوم مجلسا ثم تفرّقوا عن غير ذكر الله, الحديث. (القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع

Kelanjutan hadits tersebut disampaikan dalam kitab Sunan al-Tirmidzi. Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال ما جلس قوم مجلسا لم يذكرو الله فيه ولم يصلّوا علي نبيّهم الاّ كان عليهم ترة فان شأ عذّبهم وان شاء غفرلهم. (سنن الترمذي, رقم 3302)

“Dari Abi Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersapda, ‘Tidak ada suatu kaum yang berkumpul dalam satu pertemuan kemudian mereka berpisah, tapi mereka tidak berdzikir kepada Allah SWT dan tidak membaca shalawat kepada Nabi Muhamad SAW kecualai mereka akan ditimpa penyesalan (kesedihan) pada hari kiamat kelak. Apabila Allah SWT berkehendak maka akan menyiksa mereka. Dan jika Allah SWT berkenan, maka akan memberikan ampunan kepada mereka’. (Sunan al-Tirmidzi 3302).

Dari hadits ini menunjukkan bahwa membaca shalawat seusai pertemuan memang dianjurkan Rasulullah. Membaca shalawat ketika mau berpisah dalam satu pertemuan bukan hanya  boleh, bahkan Sunnah dilakukan.

0 komentar: