Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Suami Tidak Boleh Kasar Kepada Istri Walaupun Istri Salah

Tidak semudah bergaul dengan teman, bergaul dengan istri seorang suami tidak jarang kerepotan.

Watak aslinya sering muncul tanpa kendali. Pemarah, pencaci, bahkan tidak jarang ringan tangan. Betapa banyak wanita yang menjadi korban kekerasan, bukan sekedar mendapat bombardir kata-kata kasar bukan mustahil ada wanita yang merasakan menjadi sansak hidup.

Parahnya sikap jelek demikian selalu tersembunyi, biasanya pihak istri merasa takut atau lebih suka mengalah. Sifat demikian ibarat bensin disiram dalam api,  seakan tidak merasa bersalah, suami berperilaku kasar dan masih merampas harta istri. Ada yang malu-malu dengan alasan di hutang, dikembalikan tanpa terimakasih masih mending, seringnya malah tidak dikembalikan. Bahkan tidak jarang yang tega merampas, meminta secara kasar.

Islam tidak seperti yang di tuduhkan oleh kaum orientaslis, bukan agama yang semena-mena terhadap wanita, tidak juga sewenang-wenang terhadap pria. Hukum dan ketetapan syariat Islam sangat pas dengan kondisi dan tabiat manusia. Lantas bagaimana dengan perilaku pria muslim yang sewenang wenang terhadap suaminya? Betulkah Islam membenarkanya?

Dari kitab "Fatawa Ulama al-Balad al-Haram"  halaman 535-536.

Suatu ketika ada seorang lelaki bertanya: Bagaimana hukum syariat menurut pandangan Syaikh terhadap suami yang memukul istrinya, merampas hartanya, serta bermuamalah dengannya dengan muamalah yang buruk?.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab.

Suami yang memukul istrinya, merampas hartanya serta bermuamalah dengan buruk adalah berdosa,  telah bermaksiat kepada Allah Swt,  sebagai firman-Nya:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

 "Dan bergaullah dengan mereka secara patut" An-Nisa : 19

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

"dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibanya menurut cara yang ma'ruf" (Al-Baqarah:228)

Tidak boleh bagi siapapun  memperlakukan istrinya dengan perlakuan buruk seperti itu, sementara dia sendiri meminta istrinya memperlakukan dirinya secara baik. Sungguh ini termasuk kecurangan yang masuk dalam kategori kebinasaan yang di sampaikan Allah Swt dalam firman-Nya:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣).

"Celaka besar bagi orang orang yang curang, (yaitu) orang orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta di penuhi, sedang apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi" (Al-Muthafifin:1-3)

Setiap orang yang meminta haknya dipenuhi secara utuh sedang ia sendiri tidak memenuhi hak orang lain secara utuh, maka dia masuk dalam kategori orang orang yang di sebutkan dalam ayat di atas.

Nasehat Syaikh Al-Utsaimin kepada orang tadi dan yang semisal denganya adalah hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam mempergauli wanita (istri), sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah pada Khutbahnya di padang Arafah ketika haji Wada'

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ. أخرجه مسلم

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ. أخرجه مسلم

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ. أخرجه مسلم

“Bertakwalah kalian kepada Allah (dalam menangani) istri-istri. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan rasa aman dari Allah, menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas mereka, (ialah) mereka tidak boleh memasukkan ke ranjang kalian seseorang yang kalian benci. Jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Bagi mereka (yang menjadi kewajiban) atas kalian memberi rezki dan sandang bagi mereka dengan sepantasnya”. [HR Muslim, 1218]

Syaikh Utsaimin menyampaikan pula kepada orang yang bertanya tadi,dan yang semisalnya bahwa sesungguhnya tidak mungkin kehidupannya akan bahagia kecuali suami istri saling bermuamalah dengan cara yang adil dan baik, saling meniadakan penganiayaan, dan saling menampakkan kebaikan.