Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Hukum Menambahkan Kata "Sayyidina" dalam Shalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Dalam kaitan ini, perlu dijelaskan bahwa dari sekian banyak hadis Rasulullah yang terkait
redaksi bacaan shalawat di dalam shalat tidak ditemukan tambahan lafaz Sayyidina sebelum nama beliau
Hal tersebut mungkin karena 2 sebab: pertama, karena Tawaddhu’ (kerendahan
hati) beliau, dan kedua, karena beliau tidak mau dipuji dan disanjung secara langsung atau
memang karena ada sebab lain. Padahal, beliau sendiri telah menyatakan di dalam salah
satu hadisnya, yang artinya, “Aku adalah Sayyid (pemimpin) manusia.” Sementara tentang
Hasan, cucu beliau, beliau bersabda, : Sesungguhnya anak ini adalah Sayyid kalian.” Dalam
ayat al-Qur’an Nabi Yahya, Allah sanjung dengan beberapa pujian, diantaranya Allah sebut
dengan sebutan Sayyid. Bila sebutan sayyid, Allah sendiri telah menyanjung Nabi Yahya
sebagai Nabinya, maka sanjungan itu tentunya lebih utama untuk Nabi Muhammad sebagai
Nabi dan Rasul yang paling mulia.

Dari dalil-dalil yang disebutkan di atas menunjukkan dengan jelas tentang kebolehan
menyebut Nabi Muhammad dengan Sayyid, sedangkan mengenai pendapat orang yang
melarang menggunakan lafaz Sayyid, hal itu justru masih memerlukan dalil.
Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum
muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat
utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad. Syaikh
Ibrahim al-Bajuriy menyatakan:

ﺍَﻷَﻭْﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮُﺍﻟﺴِّﻴَﺎﺩَﺓِ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍْﻷَﻓْﻀَﻞَ ﺳُﻠُﻮْﻙُ ﺍْﻷَﺩَﺏِ

Artinya: “ Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi), karena hal
yang lebih utama bersopan santun kepada beliau .” [1]
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ , ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﻭَﻟَﺪِ ﺁﺩَﻡَ ﻳَﻮْﻡ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺃﻭَّﻝُ ﻣَﻦْ ﻳُﻨْﺴَﻖُّ
ﻋَﻨْﻪُ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮُ ﻭَﺃﻭَّﻝُ ﺷَﺎﻓﻊٍ ﻭَﺃَﻭَّﻝُ ﻣُﺸَﺎﻓِﻊٍ .

Artinya: “ Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda, “Saya adalah
sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur,
orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk
membrikan syafa’at .” [2]

Hadis ini menyatakan bahwa Nabi menjadi Sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi
Muhammad menjadi Sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau menjadi Sayyid
manusia di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayyid Muhammad bin
Alawi al-Malikiy al-Hasaniy: “Kata Sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad
di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat
hadis “saya adalah Sayyidnya anak cucu Adam di hari kiamat.” Tapi Nabi menjadi Sayyid
keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. [3]

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi Muhammad membolehkan memanggil beliau dengan
Sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad sebagai junjungan kita
umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan “hadis” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam
shalat?

ﻟَﺎ ﺗُﺴَﻴِّﺪُﻭﻧِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ

Artinya:“ Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat ”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi, Sehingga mereka
mengatakan bahwa menambah kata Sayyidina di depan nama Nabi Muhammad adalah
Bid’ah Dhalalah (sesat).

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa
arab, susunan kata-katanya ada yang tidak sinkron. Dalam bahasa arab tidak dikatakan ﺳَﺎﺩَ-
ﻳَﺴِﻴْﺪُ , akan tetapi ﺳَﺎﺩَ –ﻳَﺴُﻮْﺩُ , Sehingga tidak bisa dikatakan ﻟَﺎﺗُﺴَﻴِّﺪُﻭْﻧِﻲ Oleh karena itu, jika
ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits Maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan
sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi keliru dalam menyusun kata-kata bahasa arab. Imam
Suyuthiy dalam kitab al-Hawiy , Imam jalaluddin al-Mahalliy, Imam al-Sakhawiy dalam kitab
al-Maqashid al-Hasanah , Imam Muhammad al-Ramliy, Imam Ibn Hajar al-Haitamiy, Imam
al-Ajluniy dalam kitab Kasyf al-Khafa mengatakan hadis tersebut adalah hadis palsu.
Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina
dalam shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat
kepada Nabi Muhammad boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika
membaca tasyahud di dalam shalat.
Pembahasan ini telah disimpulkan oleh Syaikh Muhammad Ibn Ahmad Ibn Said al-Jufriy
dalam Nazham Fath al-Mannan :

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝُ ﻓِﻲ ﻟَﻔْﻆِ ﺍﻟﺴِّﻴَﺎﺩَﺓْ * ﻓَﺜَﺎﺑِﺘَﺔٌ ﻟِﺨَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠِﻴْﻨَﺎ
ﻭَﺛَﺎﺑِﺘَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ * ﻛَﺴَﻌْﺪٍ ﻭَﺍﻟْﺤَﺼُﻮْﺭِ ﻭَﺍﺧَﺮِﻳْﻨَﺎ
ﻭَﻧَﺺُّ ﺍﻟﻨَّﻬْﻲِ ﻋَﻦْ ﻟَﻔْﻆِ ﺍﻟﺴِّﻴَﺎﺩَﺓْ * ﻓَﻤَﻮْﺿُﻮْﻉٌ ﺑِﻠَﺤْﻦِ ﺍﻟْﻮَﺍﺿِﻌِﻴْﻨَﺎ
ﺯِﻳَﺎﺩَﺓُ ﻟَﻔْﻆِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﺍﺣْﺘِﺮَﺍﻣًﺎ * ﻭَﺣَﻖٌّ ﺟَﺎﺀَ ﻣِﻦْ ﻣُﺘَﺄَﺩِّﺑِﻴْﻨَﺎ
ﺗَﺄَﺩَّﺏْ ﺍَﻧْﺖَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍْﻹِﻣْﺘِﺜَﺎﻝِ * ﻭَﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔُ ﻓَﺎﻋِﻠِﻴْﻨَﺎ

Artinya:” Adapun pendapat yang mengukuhkan penggunaan lafaz sayyidina kepada Nabi
Muhammad adalah pendapat yang memiliki dalil. Lafaz sayyidina juga telah datang
penggunaannya untuk selain Nabi Muhammad seperti sahabat Nabi yang bernama Saad dan
untuk Nabi Yahya yang mendapat gelar Hashur dan juga selain mereka. Hadis yang melarang
penggunaan lafaz sayyidina merupakan hadis Maudhu’ (dibuat-buat) yang dijadikan iklan
oleh para pemalsu hadis. Penambahan lafaz sayyidina adalah bentuk penghormatan kepada
Nabi Muhammad dan kebenaran dari orang yang menyanjung adab. Jagalah adabmu
sebelum engkau menjalankan perintah Nabi Muhammad sebagaimana para sahabat
melakukannya. [4]

[1] Syaikh Ibrahim al-Bajuriy, Hasyiyah Ala Ibn Qasim vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr) h. 156.

[2] Imam Muslim, Shahih Muslim hadis no: 4223.

[3] Sayyid Muhammad Ibn Alawiy Ibn Abbas al-Malikiy al-Hasaniy, Manhaj al-Salaf Fi Fahm
al-Nushush Bain al-Nazhariyyah Wa al-Tathbiq (Makkah: 1419) h. 2234-235.

[4] Syaikh Muhammad Ibn Ahmad Ibn Said al-Jufriy , Nazham Fath al-Mannan . h. 33.