Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Lima Dimensi Karakter Beragama

Charles Glock dan Rodney Stark (1965,1968) selama bertahun tahun melakukan riset dengan fokus keberagamaan. Dia menyimpulkan bahwa religiosity itu terkait erat dengan dimensi yang mendasarinya, yaitu dimensi iman, ritual, intelektual, experience dan dimensi konsekuen.

Dimensi pertama yaitu yang dalam bahasa agama disebut iman. Dalam dimensi ini umat beragama misalnya percaya adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dan tentunya terkait erat kepada segala sesuatu yang menjadi konsekuensi dari kepercayaan itu. pada dimensi ini, keberagamaan seorang bergantung kepada sedalam mana ia meresapi keyakinanya tersebut. Hal itu akan banyak berpengaruh kepada sikap keberagamaan itu sendiri, Artinya keimanan seseorang akan melahirkan sikap keberagamanya, baik dalam ibadah formal maupun non formal. Karena itu iman sangat menentukan penghambaan seorang terhadap Tuhanya. Dalam kitab Ihya Ulumudin karya Imam Ghozali mengatakan bahwa al-imanu yazid wa yanqus (iman itu bertambah dan berkurang). Dengan demikian karakteristik beragama seseorang oun akan seperti hanya keimanan terhadap Allah SWT.
Dimensi kedua, adalah dimensi ritual, yaitu praktik keagamaan yang diharapkan dilaksanakan oleh setiap pemeluk agama. Dalam implementasinya, hal tersebut sering pula terpengaruh atau dipengaruhi oleh aktifitas individunya, belum lagi pengaruh tradisiyang berlangsung pada masyarakat sering pulasangat kental dan erat dengan tradisi yang ada. Ritual antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain sangat berbeda, sekalipun bukan pada masalah prinsip. Dengan demikian, pada tataran inipun keberagamaan seorang terkadang kurang mengemuka dan tercermin dengan baik dalam kehidupan sehari hari.

Dimensi yang ketiga yaitu dimensi intelektual. Pada dimensi ini seseorang dapat memahami pengetahuan tentang agamanya sehingga dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial. Tetapi sangat ironis bila saat ini agama hanya dijadikan sebagai akumulasi pengetahuan yang belum mempengaruhi kehidupan keseharian pemeluknyadan hanya menjadi legalitas status beragama. Hal tersebut sepertinya sedang terjadi di zaman sekarang ini atau mungkin memang telah terjadi sejak dahulu yang terwaris dari zaman ke zaman sekarang. Tidak dapat kita pungkiri kenyataan yang ada saat ini bahwa  tidak sedikit mereka banyak mengetahui bahkan memahami tentang agama, Akan tetaoi sangat disayangkan hanya mengemuka pada tataran intelektual saja dan tidak tercermin pada sikap kehidupan keseharianya.

Dimensi yang keempat, adalah dimensi experience (pengalaman). Dimensi ini sulit diamati. Meskipun demikian, hal yang menjadi pengalaman seseorang akan dapat mempengaruhi cerminan keberagamaan dalam hidup keseharianya. Kadang atas pengalaman ruhani atau karena sebab apa saja seseorang menjadi tekun dalam beribadah dan sangat taat. Dimensi pengalaman juga sangat mempengaruhi keberagamaan seseorang dalam praktik ibadah dan kehidupan keseharianya.

Dimensi yang terakhir, yaitu dimensi consequence (konsekuensi). Pada dimensi ini, memiliki hubungan erat dengan keempat dimensi sebelumnya, juga berpengaruhkepada komitmen seseorang dalam menjalankan keagamaanya, sehingga dapat terwujud dengan sempurna pada setiap aktifitas kehidupan penganutnya. Akumulasi dimensi dimensi sebelumnya akan tercermin dalam dimensi ini. dan inilah dimensi ideal dalam keberagamaan seseorang dalam bahasa agama disebu "istiqamah" dalam Al-Quran dijelaskan sebagai berikut:

ِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushhilat [41] ; 30.

loading...
Gambaran dimensi tersebut apapun bentuknya, dipahami keberagamaan adalah suatu keniscayaan pada masyarakat. Namun, belum terimplementasi dengan baik, bila tidak dikatakan justru sebaliknya. Yang terjadi adalah degradasi moralitas di berbagai aspek bidang.


Abu Sangkan

Silahkan berkomentar sesuai judul. komentar mengandung link aktif/non aktif tidak akan muncul.
EmoticonEmoticon