Nikah Dulu Atau Menyelesaikan Kuliah Dulu???

Nikah Dulu Atau Menyelesaikan Kuliah Dulu???

"Maaf ya nak, Bukan berarti kami menolak lamaran Ananda. Hanya saja biarlah Aisyah menyelesaikan dulu studinya di program magister, menikah kan gampang bisa suatu saat nanti kalau ananda gadis lain yang lebih siap sebaiknya memilihnya"

Tidak sedikit pria yang mundur teratur dari proses lamaran setelah mendapat jawaban demikian. Jawaban khas orang melayu untuk menolak secara halus. Faktor penolakan itu bisa karena prianya yang di tolak, bisa juga memang anak gadisnya masih harus sekolah lebih lanjut.

Penolakan secara halus memang sudah kadung menjadi ciri khas orang Melayu. Selama alasannya tidak bertentangan dengan syariat tentunya sah-sah saja. Sementara kalau alasannya "hanya" karena faktor masih sibuk belajar tentu menjadi bahan diskusi yang menarik. Akankah pernikahan sebagai ibadah yang agung bisa ditunda "sekedar" untuk belajar? Pertanyaan yang juga menyeruak adalah apakah betul sebuah pernikahan mampu menunda proses belajar mengajar? Selama manajemen waktu bisa berjalan scara baik, insaallah, pernikahan tidak akan mengganggu kegiatan belajar sebagaimana menunda pernikahan.

Sikap sebagian orang atau wali yang menolak pernikahan anak gadisnya merupakan sebuah nilai yang harus dikritisi. Jangan sampai sikap demikian justru, tanpa disadari, akan merugikan kepentingan anak gadisnya. 

Petuah dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Hukum sikap semacam itu (menolak lamaran) itu bertentangan dengan perintah Rasulullah, Rasulullah pernah bersabda;
"Apabila datang (melamar) kepada kamu lelaki yang kamu ridhai akhlak dan (komitmennya kepada) agama, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu)"

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ،ٌ.
"Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang mempunyai kempuan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan diri." Shahih Al-Bukhari

Tidak mau menikah berati menyia nyiakan maslahat pernikahan. Nasehat Syaikh Muhammad bin Shalih kepada kaum muslimin, terutama mereka yang menjadi wali bagi putri putrinya, dan kaum muslimat hendaklah tidak menolak untuk menikah dengan alasan menyelesaikan studinya.

Perempuan bisa saja minta syarat kepada calon suami, mau dinikahi tetapi dengan syarat memperbolehkan meneruskan studi sampai selesai, demikian pula (kalau sebagai guru) mau dinikahi dengan syarat tetap menjadi guru sampai satu atau 3 tahun, selagi belum sibuk dengan anak anaknya. Yang demikian boleh boleh saja. Akan tetapi, adanya perempuan yang mempelajari ilmu pengetahuan di perguruan tinggi yang tidak kita butuhkan adalah merupakan masalah yang perlu dikaji ulang.

Menurut pendapat Syaikh Muhammad, bahwa apabila perempuan telah tamat sekolah dasar, telah mampu membaca  dan menulis hingga dapat membaca AlQuran dan tafsirnya, dapat membaca hadist serta penjelasanya (syarahnya), maka hal itu sudah cukup, kecuali kalau untuk mendalami suatu disiplin ilmu yang memang dibutuhkan oleh umat, seperti kedokteran dan lainya, apabila di studinya tidak terdapat sesuatu yang terlarang, seperti ikhtilat (campur baur dengan laki laki) atau hal lainya. 

Source: Al-Fatawa a-Syar'iyyah fi al Masa'il al-ashriyyah min Fatawa Ulama al-Balad al-Haram


Tulis Komentar
close