MEMAKNAI ARTI KE-IKHLASAN

MEMAKNAI ARTI KE-IKHLASAN


Pada suatu acara yang cukupdi padati pengunjung, seorang berkata “ikhklas itu seperti kita mengeluarkan kotoran, setelah itu tidak terpikirkan lagi”.
Sekalipun maksutnya menuangkan definisi kata ‘ikhlas”, ironis dan naif sekali bila ikhlas di samakan dengan kotoran. Justru sama sekali tidak bersih.
Apa sebenarnya ikhlas itu? Bila kita telusuri asal katanya dalam kamus bahasa  ArabMunjid, akar dari kata iklas itu adalah khalasha, yang berarti “bersih, berhasil, sampai dan pisah”. Dari ragam makna dan arti tersebut dapat dipahami bahwa ikhlas bukanlah seperti yang tergambar di atas. Ikhlas adalah sebuah nilai aktifitas yang intinya merujuk pada pengharapan objek yang hendak dituju yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, apalagi tergambar dengan yang sifatnya material.

Dalam beribadah seringkali kita di ingatkan agar selalu ikhlas. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin ketika menguraikan ibadah mengatakan” Ibadah dengan mengharapkan ganjaran (balasan) itu diperbolehkan (baik), hal tersebut dilakukan agar kita dapat termotivasiuntuk meraihnya”. Dari pernyataan ini dapat di pahami bahwa sebenarnya ikhlas itu bukanlah seperti membuang sesuatu yang tidak berharga yang selanjutnya tidak lagi kita pikirkan. Sebab, bila seperti itu yang di maksud dengan ikhlas, ibadah kita selama ini tidak ada nilai ikhlasnya bila masih mengharapkan sesuatu dari ibadah tersebut.

Dengan demikian, suatu pekerjaan atau perbuatan akan bernilai atau dinilai ikhlas bukan berdasar ada atau tidaknya pamriyang di harapkan. Keikhlasan lekatsekali  dengan subjek (pelaku) pekerja. Dam ultomate aim ( tujuanakhir) yang hendak di tuju.Disinilah penentuan nilai sebuah keikhlasan. Bila berbuat sesuatu dan hatinya tidak lepas dari keterpautan kepada penilaian manusialain atau embe-embelharapan lain,maka perbuatan tersebut tidak didasari oleh ikhlas, tetapi riya (ingin dipuji).
Merujuk kepada keterangan tersebut, mungkin ikhlas itu lebih mengena bila kita artikan sebagai sebuah ketulusan yang tidak rancu dan tumpang tindih. Boleh berharap tetapi jangan kepada yang selain Allah Swt. Jika demikian benarlah bila munjid menyebutkan; “ Kalimat ikhlas itu adalah tiada tuhan (tempat berharap) kecuali Allah”Kemurnian berbuat (taat) hanyalah kepada Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, “ maka sembahlah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan hanya kepada-nYa,” (QS Az-Zumar {39}; 2).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama lurus, Dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan demikian itulah Agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah {98};5). Ayat ini menunjukan bahwa ikhlas adalah ketulusan berbuat yang di tujukan hanyalah untuk Allah Swt. Semata, tidak untuk yang lain. Adapun jika kemudian dengan perbuatan itu manusia mendapatkan sesuatu, itu merupakam balasan nyata atas Maha Rahman-Nya Allah  Swt. Ikhlas adalah menjadikan Allah Swt sebagai tujuan yang terdepan dalam berbuat dan beramal.
Semoga bermanfaat


Baca juga: