Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

HUKUM UPACARA PERINGATAN MALAM NISFI SYA’BAN

Segala puji hanyalah milik Allah yang telah meyempurnakan agama-Nya bagi kita,
dan mencukupkan nikmat-Nya kita, semoga shalawat serta salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat.
    Sesungguhnya Allah telah berfirman:
    “pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepada nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.”
    Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, yang mana semuanya menunjukkan dengan jelas bahwasannya Allah telah menyempurnakan untuk umat agamanya. Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka. Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengalaman. Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid’ah yang tertolak meskipun niatnya baik.
    Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam nisfu sya’ban dan mengkhususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits tentang fadhilah malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dho’if, sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu’.
    Dalam hal ini, banya diantara para ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan fadhilah shalat pada hari nisfu sya’ban.
    Pendapat para ahli Syam diantaranya Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah. Hadits-hadits lema bisa diamalkan dalam ibadah jika alasannya didukung oleh hadits-hadits shahih. Sedangkan upacara perayaan malam nisfu sya’ban tidak ada dasar hadits yang shahih, sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-hadits dho’if.
    Adapun pendapat para ulama ahli Syam berbeda dalam pelaksanaanya dnegan dua pendapat:
1.    Menghidup-hidupkan malam nisfu sya’ban dalam masjd dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah). Dahulu Khalid bin ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar menyan, memakai celak, dan mereka bangun malam menjalankan shalatul-lail di masjid.
2.    Berkumpulnya manusia pada malam nisfu sya’ban dimasjid untuk shalat, bercerita dan berdoa adalah makruh hukumnya, tetapi boleh jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri.
    Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam nisfu sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (idul fitri dan idul adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjama’ah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi saw dan para sahabatnya. Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, begitu pula malam nisfu sya’ban. Nabi beum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan tabi’in ahli fiqh dan syam (syiria).
    Jika seandainya malam nisfu sya’ban, malam jumat pertama pada bulan Rajab, serta malam isra’ mi’raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Muhammad saw menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankan sendiri.
    Allah lah tempat bermohon untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten diatasnya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah Maha Pemberi dan Maha Mulia.
    Semoga shalawat serta salam selau dilimpahkan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya , begitu pula atas keluarga dan para sahabat beliau. Amin