"PENGORBANAN 2 KSATRIA SEJATI ANTASENA DAN WISANGGENI"

"PENGORBANAN 2 KSATRIA SEJATI ANTASENA DAN WISANGGENI"

Sedikit profil keduanya :


ANTASENA adalah putra dari
Werkudara dengan istri Dewi Urang Ayu. Cucu dari Batara Mintuna Antasena, kalau dalam militer sekarang adalah sebagai angkatan lautnya pandawa, sedangkan angkatan darat dikuasa Antareja, untuk angkatan udara dikuasai oleh Gatotkaca. Ontorejo merupakan hasil dari perkawinan antara Werkudara dengan Dewi Nagagini, sedangkan Gatotkaca juga putra Werkudara dari istri Dewi Arimbi. Antasena merupakan tokoh yang tidak pernah bertutur kata dengan bahasa halus, baik kepada orangtuanya, paman-pamannya bahkan kepada Batara Guru, ataupun Dewa-dewa yang lain, walaupun tidak pernah bertutur kata dengan bahasa yang halus namun Antasena senantiasa memegang teguh yang namanya kejujuran dan tetap hormat kepada yang lebih tua. Dalam cerita pewayangan Antasena digambarkan sebagai tokoh yang ceplas ceplos, apapun yang menjadi ganjalan didalam hatinya langsung dia ungkapkan tanpa rasa sungkan, selain itu apabila ada yang salah ataupun berbuat sewenang-wenang maka Antasena tanpa mengenal rasa takut akan memerangi siapapun yang berbuat salah dan semena-mena, walaupun yang melakukan itu adalah seorang Batara Guru. Antasena dikaruniai kesaktian yang tinggi, bahkan sekelas dewapun tidak ada yang mampu mengalahkan kesaktian Antasena.

WISANGGENI

 sifat dan perilakunya sama juga dengan Antasena. Senantiasa memegang teguh akan sebuah kejujuran. Sakti Mandraguna, dalam berbicara juga tidak bisa menggunakan bahasa yang halus. Wisanggeni juga ceplas ceplos tanpa tedheng aling-aling dalam berbicara. Dalam pewayangan kesaktian Wisanggeni juga tidak ada yang bisa mengalahkan. Dalam sebuah lakon pewayangan yang mengangkat tema Wisanggeni Gugat digambarkan bagaimana kesaktian Wisanggeni yang dipergunakan untuk mengobrak-abrik kahyangan dikarenakan para Dewa khususnya Batara Guru telah berlaku semena-mena terhadap kakeknya, yaitu Batara Brama. Wisanggeni adalah cucu dari Batara Brama hasil perkawinan anak Batara Brama yang bernama Dewi Dersanala dengan Arjuna.
Antasena dan Wisanggeni adalah sosok yang tidak ada bisa mengalahkan baik oleh para dewa maupun manusia biasa bahkan hawa nafsupun tidak bisa mengalahkannya.
Oleh sebab itu, menurut hemat para dewa, Antasena dan Wisanggeni dapat menjadi penghalang bagi terselenggaranya perang agung Bharatayuda Jayabinangun. Karena itu Antasena dan Wisanggeni harus dibinasakan terlebih dahulu. Namun karena tidak ada dewa yang dapat mengalahkan kadigdayan Antasena, Sang Hyang Wenang diminta untuk bersedia mencabut nyawa Antasenadan Wisanggeni. Akhirnya suatu hari, Antasena bersama Wisanggeni naik ke Kayangan dan menghadap Sang Hyang Wenang guna meminta keterangan seputar perang Bharatayuda. Sesampainya di kayangan, Sang Hyang Wenang berkata
bahwa Pandawa dapat menang dalam Bharatayuda dengan syarat Wisanggeni dan Antasena bersedia dicabut nyawanya terlebih dahulu. Antasena dan Wisanggeni tidak keberatan. Yang terpenting bagi mereka berdua adalah Pandawa dapat menang dalam Bharatayuda serta dapat hidup bahagia selama-lamanya. Akhirnya Antasena dan Wisanggeni mati, pulang ke alam keabadian dengan tersenyum puas
Dari sedikit profil tentang Antasena dan Wisanggeni ada pelajaran yang bisa diambil yaitu tentang kejujuran, dimana untuk era modern ini ternyata kejujuran itu sangat mahal harganya. Selain itu juga meskipun kesaktiannya sangat tinggi, Antasena dan Wisanggeni tidak semena-mena kepada setiap orang, dan dengan kesaktiannya pula Antasena dan Wisanggeni senantiasa membela apa yang seharusnya itu benar. Berbeda halnya dengan sekarang ini yang mempergunakan aji mumpung. Mumpung mempunyai kekuasaan bisa nilep duit rakyat, mumpung mempunyai duit banyak bisa semena-mena terhadap orang lain. Bahkan dengan kekuasaan dan kesaktiannya menjadi yang benar menjadi salah dan salah menjadi benar
salam RAHAYU

Source: The Lost History Of Nusantara
Tulis Komentar
Press Enter to Search