Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

[recent]

Istilah Dan Ciri Pondok Pesantren Modern

Istilah pondok pesantren modern pertama kali di perkenalkan oleh Pondok Modern Gontor. Istilah Modern dalam istilah Gontor berkonotasi pada nilai-nilai komodernan yang konkret ibarat disiplin, rapi, sempurna waktu, kerja keras. Termasuk nilai modern yang bersifat fisikal yang tergambar dalam cara berpakaian santri Gontor dengan simbol dasi, jas, dan rambut pendek ala militer.

 Istilah Modern dalam istilah Gontor berkonotasi pada nilai Istilah Dan Ciri Pondok Pesantren Modern

Defini Pesantren Modern Definisi dan arti dari Pondok Pesantren Ponpes Pontren Modern (kholaf, ashriyah), yang merupakan kebalikan dari Pondok Pesantren Salaf (salafiyah, tradisional) Oleh Litbang Ponpes Al-Khoirot Malang. Pondok pesantren Modern mempunyai konotasi yang bermacam-macam. Tidak ada definisi dan kriteria niscaya perihal ponpes ibarat apa yang memenuhi atau patut disebut dengan pesantren 'modern'.

Ciri Khas Pesantren Modern
Namun demikian, beberapa unsur yang menjadi ciri khas pondok pesantren modern ialah sebagai berikut :

1. Penekanan pada bahasa Arab percakapan
2. Memakai buku-buku literatur bahasa Arab kontemporer (bukan klasik/kitab kuning)
3. Memiliki sekolah formal dibawah kurikulum Diknas dan/atau Kemenag dari SD/MI MTS/SMP MA/SMA maupun sekolah tinggi.
4. Tidak lagi menggunakan sistem pengajian tradisional ibarat sorogan, wetonan, dan bandongan.

Kriteria-kriteria di atas belum tentu terpenuhi semua pada sebuah pesantren yang mengklaim modern. Pondok Modern Gontor, inventor dari istilah pondok modern, umpamanya, yang ciri modern-nya terletak pada penggunaan bahasa Arab kontemporer (percakapan) secara aktif dan cara berpakaian yang menjiplak Barat. Tapi, tidak mempunyai sekolah formal yang kurikulumnya diakui pemerintah. Pesantren modern, dengan demikian, ialah kebalikan dari Pesantren Salaf.

Pelopor Pondok Pesantren Modern
Pelopor dari pesantren modern ialah Pondok Modern Gontor. Pondok inilah yang secara sistematis dan sedikit demi sedikit memperkenalkan suatu sistem gres bagi dunia pesantren sehingga dengan reformasi sistem ini maka pesantren tidak hanya disukai oleh kalangan masyarakat pedesaan tapi juga mulai menarik masyarakat urban/perkotaan untuk menyekolahkan dan mengirimkan anaknya untuk dididik di pesantren.

Sistem yang diberlakukan pesantren modern menciptakan masyarakat yang selama ini agak sinis menjadi besar hati dengan pesantren. Karena komodernan yang di tonjolkan tidak hanya sekedar jargon dan simbol-simbol belaka, tapi juga meliputi implementasi dari nilai-nilai modern yang hakiki dan islami.

Namun sistem pondok modern bukan tanpa kritik. Salah satu kritik yang di dengungkan ialah lemahnya santri modern pada penguasaan kitab kuning klasik (kutub at-turats). Dan terlalu terfokus pada penguasaan bahasa Arab modern dan "ringan".

Berangkat dari kritikan ini, maka banyak pesantren yang tidak eksklusif menjiplak bulat-bulat sistem ini tetapi mengombinasikannya dengan sistem salaf dan sistem pendidikan lain yang sebelumnya hanya di luar pesantren ibarat pendidikan formal, dan lain-lain.

Pesantren Kombinasi Salaf Modern
Tidak semua pesantren menjiplak 100% sistem modern yang digunakan Gontor. Banyak dari pesantren yang masih mempertahankan sistem pesantren salaf. Sebagian mengambil jalan tengah dengan mengombinasikan dua sistem yang berbeda yaitu sistem salaf dan modern sekaligus.

Salah satu misalnya ialah Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang yang merupakan kombinasi salaf dan modern. Ia mempunyai ciri khas yang ada di pesantren salaf ibarat pengajian kitab kuning/klasik (kutub atturats) dengan sistem sorogan dan wetonan, ada madrasah diniyah, tahfidzul Qur'an, dan pada waktu yang sama mempunyai sekolah formal dan mengajarkan bahasa Arab kontemporer.

Pesantren ibarat Al-Khoirot Malang beranggapan bahwa sistem kombinasi antara sistem modern, salaf dan pendidikan formal ialah sistem terbaik ketika ini untuk di implementasikan di pesantren.

Hujan Turun Begitu Kh Nawawi Banten Doa Dengan Bahasa Jawa Di Depan Ka'bah

Kita semua setuju menginginkan keberuntungan dunia dan akhirat. Secara lahir kita bekerja, usaha. Bekerja harus, maka Tuhan berfirman: harrik yadaka ungzil ‘alaikar rizqa (gerakkan tanganmu, kau Ku beri rizki).


Anda dilarang mengharap rizki dari Tuhan kalau tidak bernah “menggerakkan tangan” untuk bekerja. Jangan hanya mendapatkan pinjaman orang lain (krido lumahing asto) –mohon maaf-  itu  namanya tidak muruah (pendremisan).

Semua para nabi bekerja. Nabi Adam dan istrinya Hawa, bertani. Nabi Nuh seorang tukang: kayu bisa, bangunan bisa, berilmu besi bisa. Kalau sekarang, Nabi Nuh menyerupai alumni SMK. Nabi Sulaiman berilmu merangkai janur, jago dekorasi. Bahkan Nabi Sulaiman penyayang binatang-binatang. Nabi Sulaiman juga bisa menguasai arah mata angin. Maka Tuhan berfirman dalam Al-Quran: “Wa li Sulaimana rieh”. Nabi Sulaiman menguasai [mengerti] cuaca: besok hujan, besok reda, besok banjir, besok surut, besok pasang, besong angin ke utara, besok ke selatan. Barangkali kalau kini ia yaitu pakar metreologi dan geofisika.

Sedangkan secara batin yaitu ibadah dan berdoa. Apabila bisa, sekian banyak doa semua dihafalkan. Bila tidak bisa, semampunya. Jika terpaksa tidak bisa bahasa Arab, menggunakan bahasa Jawa tidak apa-apa.

Romo KH. Idris Marzuki, Lirboyo, pernah dawuh kepada saya:

“Koe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

“[Kamu kalau menerima doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka menerima doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu menerima ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir kalau bertemu wali Jawa memberi ijazah doa menggunakan bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura]”

Maka, saya sering berdoa dengan doa Jawa. Saya menerima doa Jawa dari Romo KH. Achmad Abdul Haq dan KH. Dalhar Watucongol Magelang. Doa Jawa yang menciptakan tekun bekerja dan kelapangan rizki.

“Allāāhumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allāāhumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allāāhumma kitra-kitri, sugih angsa sugih meri. Allāāhumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

Almarhum KH. Nawawi Banten pernah diminta untuk berdoa di Makkah dan tetap menggunakan bahasa Jawa. Padahal ia jago bahasa Arab. Hasil karyanya diatas 40 kitab, semuanya berbahasa Arab. Kejadiannya, suatu saat di Tanah Arab usang sekali tidak turun hujan. Ulama-ulama Makkah dan Madinah didatangkan untuk berdoa minta hujan di depan ka’bah. Selesai berdoa, malah semakin panas, hingga beberapa bulan. Sang raja teringat, ada seorang ulama yang belum diajak berdoa. Setelah dicari, ketemu. Orangnya pendek, kecil dan hitam. Mungkin kalau melamar perawan jama kini pribadi ditolak. Kenapa? Karena bukan tipe idola, walaupun mungkin bisa masuk facebook.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut dipanggil oleh sang raja supaya supaya berdoa kepada Tuhan di depan ka’bah: meminta hujan.

Anehnya, meski KH. Nawawi Banten bisa berbahasa Arab dengan fasih, di depan ka’bah, berdoa meminta hujan dengan menggunakan bahasa Jawa. Para ulama Makkah dan Madinah berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “amin”.

Mbah Nawawi berdoa: “Ya Allah, sampun dangun mboten jawah, nyuwun jawah.”

Seketika hujan datang. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justeru ampuh. Maka, kalau anda mendengan orang berdoa dengan fasih menggunakan bahasa Arab, jangan minder alasannya yaitu belum tentu mujarab. Jadi, berdoa menggunakan bahasa Jawa, boleh-boleh saja, asalkan diluar shalat. Kalau berdoa di dalam shalat, wajib berbahasa Arab.
Itu tadi doa yang menyangkut dengan pekerjaan. Saya punya doa yang terkait dengan keamanan. Berbahasa Jawa:

“Bismillāhirrahmānirrahīm. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Lailāhaillallāh Muhammadur Rasūlullah.”

Jadi, secara lahir bekerja, secara batin berdoa. Bahkan, untuk strata yang lebih rendah – mohon maaf – kalau Arab tidak bisa, Jawa tidak bisa, boleh tidak berdoa, asalkan mau berdzikir yang banyak. Karena dzikir itu sama dengan berdoa.

Tuhan berfirman: man saghalahu dzikri ‘an mas alati, a’thaituhu qabla an yas alani. [Barangsiapa terlena berzdikir kepadaKu hingga tidak sempat meminta apa-apa, pasti Kuberi dia apa-apa, sebelum dia meminta apa-apa.

Kisah Nabi Sulaiman Dengan Semut

Kerajaan Nabi Sulaiman AS ketika itu sedang mengalami demam isu kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman AS mulai didatangi oleh umatnya untuk meminta dukungan dan memintanya memohon kepada Tuhan s.w.t biar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman AS kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan insan berkumpul di lapangan untuk berdoa memohon kepada Tuhan s.w.t biar demam isu kering segera berakhir dan hujan segera turun.


Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Tuhan s.w.t penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Tuhan pemilik segala khazanah, saya berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Tuhan saya akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Tuhan saya berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air- Mu, kabulkanlah permohonanku", doa sang semut kepada Tuhan s.w.t. Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman AS kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "kita segera pulang, sebentar lagi Tuhan s.w.t akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Tuhan s.w.t telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Nabi Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.

 ketika itu sedang mengalami demam isu kering yang begitu panjang Kisah Nabi Sulaiman Dengan Semut

Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian ia memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kamu bawa itu?. Si semut menjawab, Ini yaitu kurma yang Tuhan s.w.t berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol kemudian ia berkata kepada si semut, Wahai semut ke marilah engkau, masuklah ke dalam botol ini saya telah membagi dua kurma ini dan akan saya berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan saya akan tiba lagi untuk melihat keadaanmu.

Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS tiba melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu Wahai Nabiullah, saya selama ini hanya menghisap airnya dan saya banyak berpuasa. Selama ini Tuhan s.w.t yang memperlihatkan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Tuhan Pemberi Rezeki (Ar-Rozak), jawab si semut.

Syair Dan Do’A Abu Nawas

ABU NAWAS - Untuk pertama kalinya saya terhanyut dikala melagukan syair badung Abu nawas, syair yang dilantunkan dengan syahdu memintak ampunan terhadap segala dosa yang bertabur menyerupai butir pasir, sungguh efeknya menjalar dalam setiap urat hatiku. Aku jiwai dengan sepenuh hati setiap bait – baitnya.


Berikut syairnya yang menggetarkan hati siapa saja yang membacanya, insyaAllah :

Ilahi lastu lilfirdausi ahla
Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubataan wagfir dzunubi
Fainaka ghafirudz dzanbil azhimi
Dzunubi mitslu a’daadir rimali
Fahabli taubata ya dzal jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi
Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali

Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak
Muqirran bi dzunubi wa qa da’aaka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun
Wain tadrud faman narju siwaaka

Artinya
Wahai tuhanku…aku sesungguhnya tak layak masuk syurgamu Tapi..aku juga tak mampu menahan amuk nerakamu
Karena itu mohon terimalah taubatku ampunkan dosaku
Sesungguhnya engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar

Dosa – dosaku bagaikan bilangan butir pasir
Maka berilah ampunan oh..tuhan ku yang maha agung
Setiap hari umurku terus berkurang
Sedangkan dosaku terus menggunung
Bagaimana saya menanggungkanya

Wahai tuhan, hambamu yang pendosa ini
Dating bersimpuh ke hadapanmu
Mengakui segala dosaku
Mengadu dan memohon kepadamu

Kalau engkau ampuni itu karena
Engkau sajalah yang dapat mengampuni
Tapi jikalau engkau tolak, kepada siapa lagi kami memohon
Ampun selain kepada engkau

Setiap bait saya lantunkan dengan sepenuh hati, mohon ampun kepada Tuhan dan mohon ampun kepada ibuku, dadaku rasanya luruh dan plong. Rasanya pengaduanku didengar olehNya. Pengaduan pendosa yang tak ada daerah lain untuk mengadu selain kepadanya.

Kh. Abdurrahman Mranggen, Luwes Dan Berdedikasi Tinggi

Kelahiran dan Nasab KH. Abdurrahman
Abdurrahman dilahirkan dan dibesarkan di kampung Suburan Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak pada tahun 1872 M. Beliau yaitu putra dari seorang guru ngaji yang salih berjulukan KH. Qashidil Haq bin Abdullah Muhajir. Selain mengajar, sang ayah juga ulet berkebun dan menyewakan sebagian rumahnya untuk penginapan para pedagang luar kota.


Secara rinci, nasab KH. Abdurrahman adalah: KH. Abdurrahman bin Qashidil Haq bin Raden Oyong Abdullah Muhajir bin Raden Dipo Kusumo bin Pangeran Wiryo Kusumo (Pangeran Krapyak) bin Pangeran Sujatmiko (Wijil II/Notonegoro II) bin Pangeran Agung (Notoprojo) bin Pangeran Sabrang bin Pengeran Ketib bin Pangeran Hadi bin Kanjeng Sunan Kalijogo, hingga Ronggolawe Adipati Tuban I (Syeikh al-Jali/Syeikh al-Khawaji) yang berasal dari Baghdad keturunan Sayidina Abbas ra. paman Rasulullah Saw.

Sejak kecil bersahabat dengan Ilmu Agama

Sejak kecil KH. Abdurrahman dididik pribadi oleh ayahnya sendiri. Setelah beranjak dewasa, barulah dia mencar ilmu di Pondok Pesantren di kawasan Tayem, Purwodadi, Jawa Tengah. Pernah juga nyantri di di seberang sungai Brantas JawaTimur. Kemudian terakhir dia mencar ilmu di Pondok Pesantren Sapen, Penggaron, Semarang (dulu ikut Kabupaten Demak) yang diasuh KH. Abu Mi’raj (yang jadinya menjadi mertua beliau).

Karena minat belajarnya yang tinggi, sehingga sehabis mengajar pun, dia masih menimba ilmu kepada beberapa guru, di antaranya yaitu kepada Hadhratus Syaikh KH. Sholeh Darat, seorang ulama kenamaan dari Semarang Barat. Selian itu dia juga mencar ilmu kepada KH. Ibrahim Brumbung, Mranggen. Dan dari sinilah dia mendalami ilmu thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Menjadi Khalifah Thariqat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah

Pada suatu hari KH. Ibrahim berkata kepada murid-muridnya: “Barangsiapa yang nanti tidak batal salatnya, maka dialah yang berhak menyandang khalifah.”

Kemudian berlangsunglah salat berjamaah, dan di tengah melakukan salat, tiba-tiba terlihat seekor ular yang merayap dari arah KH. Ibrahim menuju para jamaah. Tentu saja hal ini menciptakan para makmum ketakutan lari tunggang langgang. Sehingga semua santri membatalkan salatnya, kecuali KH. Aburrahman yang masih tetap khusyuk meneruskan salatnya. Maka dengan demikian dia dinyatakan berhak untuk menyandang khalifah thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandliyah.

Kemudian Hadhratus Syaikh K.H. Ibrahim berkenan mewisuda dia menjadi khalifah.

Disiplin dalam Bekerja, Istiqamah dalam Beribadah

Kemampuan dia dalam berbahasa Arab, ternyata menjadi modal dasar bagi kemajuan perjuangan yang dia geluti. Karena kemampuan berkomunikasi dengan para pedagang Asing terutama Arab, bisa menciptakah jaringan korelasi kerja yang baik, dan bisa memperlihatkan rasa akidah yang tinggi.

Dalam hal duniawi, dia tentu memiliki kewajiban untuk memperlihatkan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Oleh alasannya yaitu itu dia tidak segan-segan dan tidak aib untuk berdagang walau dalam skala yang kecil. Dalam berdagang, dia senantiasa amanah, sehingga sangat dipercaya dan disukai oleh pelanggan. Dan prinsip dia yaitu tidak pernah mengambil laba yang banyak.

Meski pelanggan bertambah banyak, hal itu tidak lantas menciptakan dia lupa akan kiprah dan kewajibannya. Beliau tidak pernah berangkat berdagang sebelum mengerjakan amalan rutinnya, yaitu salat Dhuha, sekalipun di pasar sudah dinantikan para pelanggannya.

Beliau yaitu profil seorang yang konsekuen dan berdedikasi tinggi. Beliau menyadari sebagai seorang yang berilmu, tentu memiliki kewajiban kiprah dan tanggung jawab yang tinggi untuk senantiasa mengamalkan ilmu-ilmu yang dikuasai demi pengabdian kepada Tuhan dan RasulNya, Agama, Nusa dan Bangsa. Oleh alasannya yaitu itu, dalam kesehariannya, dia selalu melayani dan berkhidmah kepada masyarakat, santri dan keluarganya demi menggapai ridha Tuhan Swt.

Pribadi yang Luwes

Dari kepribadian dia inilah masyarakat mulai simpati dan tertarik kepada dia sehingga ada di antara mereka yang ikut mengaji dan menitipkan putranya kepada beliau. Hanya saja pada dikala itu yang nyantri kepada dia semuanya masih menjadi santri kalong, artinya pada malam hari mereka mengaji dan pagi harinya mereka pulang untuk bekerja atau membantu orang tua.

Beliau juga dikenal sebagai seorang yang luwes dalam setiap pergaulan. Sehingga dia bisa beradaptasi dengan sobat bergaulnya. Bila bergaul dengan sesama kiai, muncul sifat kharismatik beliau. Dan jikalau bergaul dengan para bangsawan, muncul sifat wibawa beliau.

Istri dan Keturunan KH. Abdurrahman

Istri pertama KH. Abdurrahman yaitu Ibu Nyai Suripah, ipar dari KH. Ibrahim Brumbung Mranggen, dan dikaruniai empat orang putra, namun sehabis Ibu Nyai Suripah wafat kesemuanya dipanggil Tuhan Swt ketika masih kecil.

Kemudian dia menikah lagi dengan Hj. Shafiyah (dengan nama kecil Fatimah) binti KH. Abu Mi’raj bin Kiai Syamsudin, Penggaron, Semarang. Dalam Pernikahan kali ini, dia dikaruniani sebelas putra dan putri.

Pendiri Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen

Pondok Pesantren Futuhiyah didirikan oleh K.H. Abdurrahman bin Qosidil Haq bin Abdullah Muhajir, kurang lebih pada tabun 1901. Namun, secara outentik tahun berdirinya belum sanggup dipastikan, alasannya yaitu tidak ditemukan data yang kongkrit. Hanya saja berdasarkan dongeng orang-orang tua, bahwa pada hujan debu jawaban meletusnya gunumg Kelud di permulaan kala 20, Pondok Pesantren Futuhiyyah sudah berdiri, walaupun santrinya masih relatif sedikit, yaitu hanya dari kawasan Mranggen dan sekitarnya. Mereka tiba ngaji ke Pondok hanya pada malam hari alasannya yaitu pada pagi harinya harus pulang kerumah untuk membantu orang renta mereka.

Pondok Pesantren Futuhiyah semula hanya sebuah surau (langgar) yang sebagian tempatnya dipakai untuk tempat ibadah, mengaji dan musyawarah, serta sebagian yang lain dipakai sebagai tempat tinggal oleh santri. Mereka mencar ilmu secara sederhana dan traditional. Pada mulanya, yang diajarkan hanya: membaca al-Qur’an, fashalatan, kitab-kitab tarjamah atau kitab makna gandul, dan membiasakan bacaan Maulud Diba’ – Barzanji.

Berpulangnya KH. Abdurrahman

Tiada jalan yang tak berujung, tiada awal yang tak berakhir. Demikian pula halnya dengan KH. Abdurrahman, sehabis menekuni jalan kehidupannya dengan penuh pengabdian, membuatkan syariat agama Islam, dan mengenyam pahit getirnya kehidupan mulai dari seorang santri hingga menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat yang disegani, dia berpulang ke rahmatullah pada tanggal 20 Dzulhijjah 1360 H/1941 M. dalam usia 70 tahun.

Semoga semua amal dia diterima Tuhan Swt. dan mendapat jawaban yang lebih besar dan mulia dari dunia dan seisinya. Amin.