Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

[recent]

Kisah Uwais Al Qorni

Kabar Santri ~ Uwais Al Qorni Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang termasuk hebat perdagangan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Sewaktu kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah angin kencang petir dengan ombak yang berpengaruh menciptakan kapal itu terombang-ambing dan hampir tenggelam.

  Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama  Kisah Uwais Al Qorni

Berbagai perjuangan dibentuk untuk menghindai kapal itu dihantam angin kencang ombak , namun semua perjuangan mereka sia-sia saja. Semua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka.

Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan hening sambil berzikir kepada Tuhan SWT. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang terombang-ambing dan berjalanlah beliau di atas air dan mengerjakan solat di atas air.

Beberapa orang pedagang yang bahu-membahu beliau dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan beliau berkata, “Wahai Wali Allah, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!” Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para pedagang itu memanggil lagi, “Wahai wali Allah, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!” Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, ” Ada apa ?” Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa. pedagang itu berkata, “Wahai wali Allah, tidakkah kau hendak mengambil lantaran wacana kapal yang hampir karam ini?” Wali itu berkata, “Dekatkan dirimu kepada Tuhan SWT.” Para penumpang itu berkata, “Apa yang mesti kami lakukan?” Wali Tuhan itu berkata, “Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.”

Kesemua mereka mampu meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, “Wahai wali Allah, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat.” Wali Tuhan itu berkata lagi, “Turunlah kau semua ke atas air dengan membaca Bismillah.” Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Tuhan yang sedang duduk di atas air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang memuat muatan beratus ribu dinar itu pun karam ke dasar laut. Habislah kesemua barang-barang perdagangan yang mahal-mahal karam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka bangun di atas air sambil melihat kapal yang karam itu.

Salah seorang dari pada pedagang itu berkata lagi, “Siapakah kau wahai wali Allah?” Wali Tuhan itu berkata, “Saya yaitu Uwais Al-Qarni.” Pedagang itu berkata lagi, “Wahai wali Allah, bekerjsama di dalam kapal yang karam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir.” Uwais Al Qorni berkata, “Sekiranya Tuhan SWT kembalikan semua harta kamu, Apakah kau betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?” pedagang itu berkata, “Betul, saya tidak akan menipu, ya wali Allah.” Setelah wali itu mendengar akreditasi dari para pedagang itu, maka beliau pun mengerjakan solat dua rakaat di atas air, lalu beliau memohon kepada Tuhan SWT biar kapal itu dimunculkan menyerupai semula bahu-membahu hartanya. Tidak berapa usang kemudian, kapal itu muncul bertahap sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap menyerupai semula, tiada yang kurang.

Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke daerah yang dituju. Setelah hingga di Madinah, pedagang yang berjanji dengan wali Tuhan itu terus menunaikan janjinya dengan membagi-bagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada satupun yang tertinggal. Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin

Ciri - Ciri Rumah Yang Di Sukai Malaikat

Kabar Santri ~ Rumah bukan sekadar daerah kita berlindung dari panas dan hujan. Rumah juga bukan sekadar daerah untuk kita berehat melepaskan lelah lenguh, sehabis penat bekerja.


Rumah juga mesti menjadi daerah yang sanggup meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan SWT, dan juga menjadi daerah yang disukai oleh malaikat. Mudah-mudahan rumah yang disukai oleh Malaikat akan banyak rahmat, nikmat dan doa dari malaikat untuk kita.

Antara rumah yang disukai oleh malaikat yaitu :

1. Rumah mereka yang bersuci dan berzikir

2. Rumah orang yang rukuk dan sujud, ada ruang untuk solat berjemaah

3. Rumah orang yang bersifat benar dan menunaikan kesepakatan

4. Rumah yang makanannya halal

5. Rumah yang penghuninya bersilatur rahim

6. Rumah yang penghuninya berbuat baik terhadap ibu bapak

7. Rumah suami isteri yang soleh dan solehah

8. Rumah penghuninya tidak melaksanakan masalah haram dan munkar

9. Rumah yang penghuninya mengamalkan salam dan meminta izin

10. Rumah yang penghuninya bersifat merendah diri dan hormat menghormati

11. Rumah yang menolak perkara-perkara keji

12. Rumah yang penuh kasih sayang antara penghuninya

Jadikanlah rumah kita menyerupai yang disebutkan di atas. Mudah-mudahan penuh rahmah dan berkah dari Tuhan SWT......insyaALLAH...amin.

Kh. Amin Sepuh, Kiai Sakti Dari Babakan Ciwaringin

Kiai Amin bin Irsyad, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Amin Sepuh, lahir pada hari Jum’at, tanggal 24 Dzulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Beliau yakni termasuk ahlul bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah.


Kiai Amin yakni sosok santri kelana tulen. Kiai Amin semasa kecil berguru ilmu agama kepada ayahnya, yaitu Kiai Irsyad (wafat di Makkah). Kemudian, sesudah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dan ilmu kanuragan dari sang ayah, dia dipindahkan ke pesantren Sukasari, Plered, Cirebon di bawah asuhan Kiai Nasuha. Setelah itu dia pindah ke sebuah pesantren di tempat Jatisari di bawah bimbingan Kiai Hasan.Dan dia pun terus berkelana ke aneka macam tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni.

Beliau juga sempat berguru di Pesantren Kaliwungu Kendal (kakak angkatan KH. Ru’yat), sesudah itu ke pesantren Mangkang Semarang. Setelah itu dia pindah ke sebuah pesantren di tempat Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaidah.Kemudian dia pindah ke Pesantren Bangkalan Madura, tepatnya dia berguru kepada Syaikh KH.Cholil.Ketika berada di Bangkalan dia di bawah bimbingan Kiai Hasyim Asy’ari, yang mana pada waktu itu KH.Hasyim Asy’ari masih tahassus kepada KH.Kholil Bangkalan Madura. Kemudian sesudah kepulangan KH.Hasyim Asy’ari ke Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH.Amin Sepuh pun bertahassus kepada beliau.

Belum kenyang berguru di Pesantren Tebu Ireng, dia bertolak ke tanah Arab untuk memperdalam ilmu.Salah satu guru dia di Makkah yakni Kiai Mahfudz Termas, seorang ulama ternama di Makkah asal Pacitan Jawa Timur.Sebagai seorang santri yang sudah cukup matang, dia pun menerima kiprah untuk mengajar para santri mukim, yaitu prlajar Indonesia yang tinggal di Makkah.

Kepengasuhan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, Babakan Ciwaringin

Berdasar amanah dari sang ayah, yaitu Kiai Irsyad (cucu Ki Jatira, pendiri Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon), Kiai Amin diamanatkan untuk menimba ilmu kepada Kiai Ismail bin Nawawi di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Ketika mesantren di Babakan Ciwaringin, dia dikenal dengan sebutan Santri Pinter, alasannya yakni dia pintar mengaji.Setelah dia menyelasaikan tahassus, kemudian dia dinikahkan dengan keponakan Kiai Ismail.

Sehingga sepeninggal Kiai Ismail, pada tahun 1916, pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin (Cikal bakal Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin) diteruskan oleh muridnya, yaitu Kiai Muhammad Amin bin Irsyad, yang lebih dikenal dengan dengan Kiai Amin Sepuh. Gelar itu disematkan kepada beliau, dikarenakan keilmuan dan asal muasal dia yang sama dengan pendiri Pesantren Babakan, yaitu Kiai Jatira dari Mijahan.

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang telah ia peroleh, serta upaya untuk mengikuti perkembangan Islam yang terjadi di Timur Tengah, Kiai Amin Sepuh memegang tampuk pimpinan Pesantren Babakan Ciwaringin, peninggalan nenek moyangnya dengan penuh kesungguhan.

Kiai muda yang masih energik ini, selain mengajar aneka macam khazanah kitab kuning, dia juga memperkaya pengetahuan para santrinya dengan ilmu keislaman modern, tentu dengan tetap mempriotrotaskan kajian ilmu ubudiyah dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin

Pada masa penjajahan, para santri kelana inilah yang menjadi perantara antar pesantren untuk melawan penjajah.Sementara pesantren di manapun berada, pesantren selalu menjadi basis perlawanan yang menakutkan bagi penjajah. Para santri kelana ini berbagi informasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dan tak jarang pula mereka yang menjadi garda depan dalam melaksanakan perlawanan terhadap penjajah.

Paska revolusi kemerdekaan, dia terus mengembangkan Pesantren dengan aneka macam aral melintang.Bahkan situasi dahsyat yang pernah dialami yakni ketika Agresi Militer Belanda ke dua, tepatnya pada tahun 1952, Pondok Pesantren Babakan diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin Sepuh sebagai sesepuh Cirebon, merupakan pejuang yang menantang penjajah.Pada ketika itu pondok dikepung dan dibakar.Sehingga menciptakan para santri pulang, sedang para pengasuh beserta keluarga mengungsi.

Baru dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1954, Kiai Sanusi, salah satu murid KH. Amin Sepuh, merupakan orang yang pertama kali kembali dari pengungsiannya. Sisa-sisa kitab suci berantakan, dan banyak kiatab karya KH.Amin Sepuh yang habis terbakar.Bangunan telah hancur, tnggal puing-puing, dan menjadi tampak angker.Namun secara sedikit demi sedikit lingkungan pondok mulai dibersihkan.

Kemudian pada tahun 1955,setelah situasi sudah mulai kondusif, KH.Amin Sepuh akibatnya kembali ke Babakan, kemudian diikuti oleh para santri berdatangan dari aneka macam pelosok.Semakin hari, santri terus bertambah banyak, dan Pondok Raudhotut Tholibin pun akibatnya tidak sanggup menampung para santri, sehingga para santri dititipkan di rumah para ustadz, menyerupai halnya KH. Hanan dan KH.Sanusi.

Pada perkembangannya, anak cucu dia turut mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren.Sehingga Pondok yang awalnya hanya satu, yaitu Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, kini telah menjadi banyak.Dan tercacat pada tahun 2012, telah terdapat sekitar 40 Pondok di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Kiai Amin dan Peristiwa 10 November 1945

Diceritakan dalam sebuah majelis, sebenarnya almarhum KH. Abdul Mujib Ridlwan, Putra KH. Ridlwan Abdullah Pencipta lambang NU, mengajukan sebuah pertanyaan, “Kenapa perlawanan rakyat Surabaya itu terjadi 10 November 1945, kenapa tidak sehari atau dua hari sebelumnya, padahal pada ketika itu tentara dan rakyat sudah siap?”

Melihat tak satupun hadirin yang sanggup menjawab, akibatnya pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Kiai Mujib, “Jawabannya yakni ketika itu belum diizinkan Hadratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari untuk memulai pertempuran, mengapa tidak diizinkan? Ternyata Kiai Hasyim Asy’ari menunggu kekasih Tuhan dari Cirebon yang akan tiba menjaga langit Surabaya, dia yakni KH. Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon dan KH.Amin Sepuh dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.”

KH.Amin Sepuh yakni seorang ulama legendaries dari Cirebon.Selain dikenal sebagai ulama, dia juga pendekar yang menguasai aneka macam ilmu bela diri dan kanuragan.Beliau juga seorang pakar kitab kuning sekaligus pendekar perang.

Sehingga ketika mendengar Inggris akan mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dengan misi mengembalikan Indonesia kepada Belanda, maka KH.Amin menggelar rapat bersama para Kiyai di wilayahnya.Menurut penuturan Kiai Fathoni, pertemuan itu dilakukan di tempat Mijahan, Plumbon, Cirebon.Bersama dengan Kiai Amin, Kiai Fathoni menjadi saksi pertemuan yang melibatkan KH. Abbas Abdul Jamil Pesantren Buntet, KH. Anshory (Plered), dan ulama lain. “Namun, ketika itu saya masih kecil”, tutur laki-laki yang dipercaya sebagai penerus pengasuhan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon tersebut.

Pertemuan itu ditindaklanjuti dengan pengiriman anggota laskar ke Surabaya untuk menghadang 6000 pasukan Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal AWS Mallaby. Tidak ketinggalan, KH.Amin juga ikut berangkat ke Surabaya serta turut mengusahakan pendanaan untuk biaya keberangkatan.Kyai Fathoni menyampaikan bahwa untuk pendanaan, dia menyerahkan 100 gram emas yang terdiri dari kalung, gelang, dan cincin.

Kepahlawanan KH Amin dalam kejadian 10 November memang cukup legendaris hingga sekarang.Bahkan ketika itu ada stasiun radio yang menyiarkan bahwa KH.Amin yakni seorang yang tidak mempan senjata maupun peluru ketika bertempur di Surabaya.Bahkan, dia juga dikabarkan tidak mati, meski dilempari bom sebanyak 8 kali.Siaran inilah yang menciptakan kepulangan KH.Amin ke Cirebon disambut oleh 3000-an orang untuk meminta ijazah kekebalan darinya.Kondisi ini tentu saja membuatnya marah.Sampai-sampai dia menyampaikan bahwa dia tidak mati alasannya yakni bomnya meleset, kenang Fathoni ketika ayahnya tiba dari Surabaya

Estafet Kepengasuhan

Pada masa pengasuhan KH. Amin Sepuh, Pondok Raudlotut Tholibin, Babakan mencapai kemasyhuran dan masa keemasan serta banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang handal. Hampir semua Kiai Sepuh di wilayah 3 Cirebon yakni muridnya, dan sebagian juga tersebar di aneka macam belahan nusantara.Seperti Kang Ayip Muh (Kota Cirebon), KH. Syakur Yasin, KH. Abdullah Abbas (Buntet), KH. Syukron Makmun, KH. Hannan, KH. Sanusi, KH. Machsuni (Kwitang), KH. Hasanuddin (Makassar). Di Babakan sendiri, murid-murid dia banyak yang mendirikan pesantren, menyerupai halnya KH. Muhtar, KH. Syaerozi, KH. Amin Halim, KH. Muhlas dan KH. Syarif Hud Yahya.Dan pada ketika ini, ribuan alumni telah tersebar di seluruh penjuru tanah air, dengan bermacam profesi dan jabatan di masyarakat maupun forum pemerintahan, baik sipil maupun militer.

Artefak pesantren Babakan Ciwaringin (Raudlotut Tholibin) sendiri masih eksis. Sejak KH. Amin sepuh wafat pada tahun 1972, disusul KH.Sanusi yang wafat pada tahun 1974 M, kepengurusan dilanjutkan oleh KH.Fathoni Amin hingga tahun 1986 M.

Setelah KH. Fathoni wafat, kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh KH.Fuad Amin (wafat tahun 1997) beserta KH. Bisri Amin (wafat tahun 2000 M). kemudian diteruskan oleh KH. Abdullah Amin (wafat tahun 2008) beserta KH. Drs. Zuhri Afif Amin (wafat pada tahun 2010 M). Setelah KH. Drs. Zuhri Afif Amin wafat, kepengurusan dilanjutkan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh, paraulama serta masyarakat yang berkompeten untuk kemajuan pesantren.

Kepulangan KH. Amin Sepuh

KH. Amin Sepuh bepulang ke rahmatullah pada hari Selasa, tanggal 16 Rabi’ul Akhir 1392 H,bertepatan dengan tanggal 20 Mei 1972 M. Bangsa ini kembali kehilangan sosok pahlawan tanpa tanda jasa, yang begiru gigih mempertahankan keutuhan bangsa Isdonesia. Semoga Tuhan mendapatkan segala amal dia dan menempatkannya di tempat yang mulia, amin.

Sunan Kalijaga (Raden Said)


Sunan Kalijaga ~ Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa.
Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya ialah Arya Wilatikta, Adipati Tuban - keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe.


Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga ialah Raden Said. Ia juga mempunyai sejumlah nama panggilan menyerupai Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.

Terdapat bermacam-macam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon beropini bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan dekat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga
Diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian dia mengalami masa selesai kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid ialah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, dia punya contoh yang sama dengan mentor sekaligus sobat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga menentukan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia beropini bahwa masyarakat akan menjauh bila diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi.

Sunan Kalijaga berkeyakinan bila Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan usang hilang. Maka fatwa Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia memakai seni ukir, wayang, gamelan, serta seni bunyi suluk sebagai sarana dakwah.

Dialah Pencipta Baju takwa, Perayaan Sekatenan, Grebeg Maulud, Layang Kalimasada, Lakon Wayang Petruk Makara Raja. Lanskap sentra kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga.

Di antaranya ialah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu-selatan Demak

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati ~ Banyak dongeng tak masuk nalar yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya yakni bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual ibarat Isra’ Mi’raj, kemudian bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan mendapatkan wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya yakni Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya yakni Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama semenjak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir.

Ia sempat berkelana ke banyak sekali negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati yakni satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk mengembangkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melaksanakan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean.

Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di kawasan Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.