Media Informasi dan inspirasi santri indonesia

Sayyid ‘Abdullah Bin Shadaqah Bin Zaini Dahlan Al-Jailani

Beliau yaitu seorang ulama besar yang dilahirkan pada tahun 1290H /1291H (1874M /1875M) di Kota Makkah al-Mukarromah. Beliau lahir dalam keluarga ulama yang sholeh. Ayahanda dia yaitu saudara kandung Syaikhul Islam Mufti Haramain Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan, ulama dan mufti Hijaz yang masyhur, manakala bunda dia yaitu saudara wanita Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi ( Pengarang kitab I`anathuttholibin ).


Nasab penuh dia yaitu Sayyid ‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matUllah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh bin Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az-Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul radhiyaAllahu`anhum ajma`in.

Tatkala dia berusia 6 tahun, ayahandanya wafat, Sidi Ahmad Zaini Dahlan telah mengambil kiprah ayahandanya untuk menjaga dan memberi pendidikan yang tepat kepadanya. Pamannya ini turut mencintai dirinya serta menawarkan perhatian besar terhadapnya. Beliau berada di bawah asuhan pamannya ini sehinggalah ulama besar Hijaz ini wafat di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1304H (1887M).

Setelah kepergian pamannya yang mulia, Sayyid ‘Abdullah kembali ke Kota Makkah dan menyambung pengajiannya dengan para ulama di sana, antaranya dengan pamannya Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, Syaikh Muhammad Husain al-Khayyath, Habib Husain bin Muhammad al-Habsyi dan lain-lain ulama terkemuka. Kedalaman ilmunya diakui para ulama sehingga dia diberi kepercayaan untuk menjadi Imam dalam Masjidil Harom di Maqam Ibrahim (tempat bagi Imam mazhab Syafi’i ) serta menjadi tenaga pengajar di Masjidil Haram yang mengendali halaqoh ilmu di Babus Salam.

Sayyid ‘Abdullah populer sebagai u`ama yang suka mengembara dari satu tempat ke satu tempat demi berbagi risalah dakwah dan ilmu. Beliau telah merantau ke banyak tempat menyerupai Zanzibar, Yaman, India, Mesir, Bahrain, Iraq, Syam, India, Sri Lanka, Tanah Melayu, Singapura, Jawa dan Sulawesi. Beliau juga telah mendirikan banyak sekali madrasah di tempat-tempat tersebut. Apa yang menarik ialah sewaktu di Tanah Melayu dia telah dilantik menjadi Syaikhul Islam (Mufti) Kedah kedua. Namun jawatan tersebut hanya disandangnya kira-kira setahun yaitu dari 1904M sehingga 1905M dan dilepaskannya sebab dia berhasrat untuk kembali ke Makkah.

Setelah usang berkelana, kesudahannya Sayyid ‘Abdullah telah menentukan untuk menetap di Desa Ciparay Girang, Karang Pawitan dalam tempat Garut, Jawa Barat. Di situlah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1943 M, sesudah menjalani hidup yang penuh keta`atan dan keberkatan. Beliau meninggalkan beberapa karangan, antaranya:-

1. Irsyad Dzil Ahkam;

2. Zubdatus Sirah an-Nabawiyyah;

3. Tuhfatuth Thullab fi qawa’idil i’raab;

4. Khulaashah at-Tiryaaq min samuum asy-Syiqaaq;

5. Irsyadul Ghaafil ila maafiith thoriiqatit Tijaaniyyati minal baathil;

6. Fatwa fi ibthal thoriqah wahdatil wujud.

Mudah-mudahan Allah senantiasa mencucuri Rahmat dan Ridho-Nya kepada Sayyidi ‘Abdullah bin Shodaqoh Dahlan al-Jilani al-Hasani. …… Hadiyatan liruhihi al-Fatihah

Syekh Jangkung, Wali Lugu Dari Pati

Wali yang termasuk murid Sunan Kalijaga ini populer dengan keluguannya. Sifat itu membawanya pada ketulusan sejati seorang manusia.


Masyarakat Desa Miyono gempar. Branjung, salah satu warga yang cukup terpandang lantaran kekayaannya, ditemukan tewas di kebun belakang rumahnya. Segera petugas dari desa menyidik ke tempat insiden perkara, menyidik lantaran maut Branjung dan siapa pembunuhnya.

Di dikala warga Desa Miyono sudah berkerumun di rumah Branjung tiba-tiba muncul Saridin. Masyarakat pribadi menunjukkan pandangan pada adik ipar Branjung yang populer gulung tikar itu. Saridin tiba dengan sebilah bambu runcing yang ujungnya berlumuran darah. Segera Saridin dipanggil. “Kemari kamu, Din,” ujar seorang petugas.

“Ya… saya tuan,” jawab Saridin.

“Kamu tahu siapa yang membunuh Branjung?” ujar petugas itu sambil menunjuk jenazah Branjung dengan perilaku menyelidik. Saridin menggeleng. Tapi petugas yang sudah curiga itu tak mau menyerah. Mayat Branjung yang mengenakan baju macan ia rapikan lagi hingga badan Branjung yang terbaring itu kini ibarat macan. “Nah, kalau ini kau tahu siapa yang membunuh?” tanya petugas itu lagi.

“Lha, kalau macan ini saya membunuh,” jawab Saridin. Tak ayal warga Desa Miyono gempar dengan pernyataan Saridin itu. Berarti Saridin-lah yang membunuh Branjung.

Semalam memang telah terjadi insiden pembunuhan di kebun belakang rumah Branjung. Ceritanya diawali ketika Saridin menjagal buah durian yang kepemilikannya ia bagi dua dengan kakak iparnya, Branjung. Perjanjiannya ialah setiap durian yang jatuh pada siang hari dimiliki oleh Brajung, sedang yang jatuh pada malam hari dimiliki oleh Saridin. Branjung yang mengajukan perjanjian itu. Rupanya Brajung salah mengira, ia pikir pada siang hari durian jatuh dari pohon. Padahal durian jatuh pada umumnya pada malam hari.

Jelas saja setiap siang Branjung tidak mendapat durian satu pun. Sedangkan pada malam hari ia mengintip ke kebun dan melihat Saridin selalu mendapat durian jatuh dalam jumlah cukup banyak. Kenyataan ini menciptakan Brajung mempunyai niat licik. Merasa telah rugi ia berencana menakut-nakuti Saridin dengan menyamar sebagai macan. Dan tanpa pikir panjang segeralah ia bergerak sambil berjalan menjiplak macan.

Pertama Saridin tidak menyadari keberadaan kakak iparnya yang menyamar jadi macan itu, tapi Saridin mulai curiga dikala ia tidak menemukan durian dari arah bunyi jatuh yang ia dengar. Begitu hingga beberapa kali, hingga ia memergoki seekor macan yang membawa durian di tangannya. Tahulah Saridin sekarang, si macan yang kurang bimbing itulah yang telah menyusup ke kebunnya. Merasa terancam dengan keberadaan macan itu Saridin pribadi membunuhnya dengan bambu di genggamannya.
Dijebloskan ke Penjara

Dibawalah Saridin menghadap kepala desa untuk disidang secara adat. “Saridin, benar kau telah membunuh kakak iparmu?” tanya kepala desa menegaskan.

“Pak kepala desa, demi Tuhan saya tidak membunuh kakak ipar sendiri,” jawab Saridin polos. Sebagaimana dilakukan petugas keamanan desanya, kepala desa kemudian menutup lagi badan Branjung dengan pakaian macannya. “Nah, kalau macan ini kau yang membunuh?” tanya kepala desa. “Ya, betul saya yang membunuh macan ini lantaran ia mencuri durian saya,” jawab Saridin. Begitu terus hingga berulang-ulang. Saridin tetap tidak mengakui telah membunuh Branjung. Ia hanya membunuh macan, lantaran memang itulah yang terjadi.

Kepala desa merasa resah apa yang harus ia putuskan. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Branjung telah dibunuh oleh Saridin, tapi Saridin tidak sanggup dieksekusi lantaran yang ia bunuh ialah macan, samaran kakak iparnya. Karena merasa tidak sanggup mencari solusi duduk kasus yang gres pertama kali terjadi ini, Kepala Desa Miyono membawa kasus ini ke Kadipaten Pati.

Di hadapan Joyo Kusumo, Bupati Pati, insiden tadi kembali berulang. Kalau pakaian macan Branjung dibuka, Saridin tidak mengakui ia telah membunuh, sedang kalau pakaian Branjung dirapatkan Saridin mengakui ia telah membunuh. Tahulah Bupati, Saridin yang dihadapannya ini ialah orang desa yang lugu dan dungu maka dengan sedikit berbohong ia berkata.

“Ya sudah, Din, kalau begitu macan yang salah, lantaran macan salah, ia harus dikubur, kau sendiri akan saya beri penghargaan dikarenakan telah membunuh macan. Kamu nanti akan saya pindahkan ke bangunan besar, di sana kau akan diberi makan gratis setiap hari, kau bebas tidur atau mengerjakan apa saja, tapi kau dihentikan keluar, kau hanya boleh keluar kalau kau bisa. Nanti kalau kau mau mandi akan ada orang yang mengantar dan menjaga kamu,” ujar Joyo Kusumo kepada Saridin.

Sebagai orang yang gulung tikar tentu saja Saridin bahagia mau diberi makan gratis. Apalagi kalau mandi akan diantar, “Wah, seolah-olah Priyayi,” ujar Saridin gembira. Maka dibawalah Saridin ke tempat yummy yang tidak lain ialah penjara itu. Di sana ia mendekam sebagai tahanan. Disitulah Saridin mulai menyadari apa yang menimpanya. Karena Bupati membolehkan dirinya keluar dari penjara kalau ia bisa. Saridin ingin keluar untuk minta maaf pada istrinya lantaran telah menjadi suami yang berulah. Di sana pula Saridin menghayati wejangan Sunan Bonang, yang mengatakan, jikalau seorang insan telah menyatukan rasa dengan Sang Pencipta, apa yang diingnkan niscaya akan terlaksana.

Begitulah Saridin sanggup pulang dan minta maaf kepada istrinya. Beberapa kali itu ia lakukan. Tapi dasar lugu dan jujur, sesudah menengok sang istri, Saridin pulang kembali ke penjara. Sampai karenanya kelakuannya ini diketahui petugas dan menciptakan berang Bupati, Saridin dijatuhi sanksi mati tapi berhasil meloloskan diri lantaran Bupati memperbolehkan dirinya kabur bila berhasil lolos dari kepungan prajurit.

Demikianlah satu babak dalam dongeng Saridin yang turun temurun dalam tradisi masyarakat Pati. Tokoh ini dikenal masyarakat sebagai seorang wali yang mempunyai keluguan tiada tara. Ia memang rakyat biasa yang polos, tapi justru lantaran kepolosannya itulah yang menciptakan menguasaai ilmu hakikat.

Saridin yang juga dinamai Syekh Jangkung, hidup di tempat Kajen, Pati. Daerah itu masih ada hingga sekarang. Mengenai kelahirannya tidak ada data yang kongkrit yang m,encatatnya. Tapi berdasarkan kisah turun temurun yang hidup subur dikalangan masyarakat dan pesantren di Pati. Saridin diyakini hidup se zaman dengan para walisongo, yakni pada era ke-15.
Cerita Lucu di Kudus

Keberadaan Syekh Jangkung amat terkait dengan Sunan Kalijaga. Wali keramat inilah yang mengajarkan Saridin ilmu hakikat. Konon, Sunan Kalijaga juga yang menolongnya dikala bayi dibuang oleh ibunya di sungai. Makanya kemudian Saridin mengamalkan beberapa wejangan sufistik dari Sunan Bonang yang ia dapatkan dari Sunan Kalijaga.

Keberadaan Saridin juga tidak sanggup lepas dari Sunan Kudus. Saat melarikan diri ke kabupaten Pati, Saridin bertemu dengan Sunan Kalijaga yang menyuruhnya berguru di pesantren Sunan Kudus di Kudus. Maka berangkatlah Saridin untuk menuntut ilmu.

Sekalipun ia murid baru, Saridin sudah menguasai dasar-dasar agama. Seperti syahadat dan rukun dogma yang didapatnya dari Sunan Kalijaga. Kepada Sunan Kudus Saridin menggali lagi makna kalimat suci itu. Saat mengaji itulah beberapa insiden unik terjadi.

Karena murid gres dikerjai oleh murid-murid lama. Para santri setiap hari diwajibkan mengisi tempat air untuk wudu. Nah, Saridin yang juga terkena kewajiban itu rupanya tidak kebagian ember. Para santri usang tak ada satupun yang mau meminjamkan bejana padanya.

Melihat Saridin resah kesulitan mendapat ember, seorang santri bilang dengan maksud mengolok. “Din, kau tidak kebagian bejana ya, tuh ada keranjang…. Bawa saja air di sumur itu pakai keranjang,” ujar santri itu sambil menahan senyum. Terdorong melaksanakan kewajibannya Saridin membawa saja keranjang itu. Ajaib, air yang seharusnya lolos di sela-sela lubang keranjang itu, malah sanggup tertampung hingga Saridin sanggup mengisi tempat wudu hingga penuh. Para santri yang melihat hanya terdiam melihat ulah Saridin.

Berita itu karenanya hingga kepada Sunan Kudus. Di hadapan mursyidnya itu Saridin dengan jujur menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal. Menganggap Saridin sedang menyombongkan diri dengan kelebihannya, Sunan Kudus kemudian mengetes Saridin. “Din… kau ;kan tadi mengisi air, kini di tempat wudu itu apakah ada ikannya?” tanya Sunan Kudus. “Setiap air niscaya ada ikannya, Kanjeng Sunan, begitu pula di tempat air wudu itu,” jawab Saridin polos. Para santri yang mendengar tanggapan Saridin kontan tertawa. “Mana mungkin tempat wudu ada ikannya,” pikir mereka. Tapi sesudah di cek memang betul ditemukan ikan di dalamnya.

Sunan Kudus gusar melihatnya, kali ini Sunan Kudus merasa ditantang. “Baik, Saridin, kini apa yang ada ditanganku ini?” ujar Sunan Kudus. “Buah kelapa, kanjeng,” jawab Saridin pelan.

“Katamu setiap air ada ikannya, kelapa ini didalamnya ada airnya, apakah kau tetap menyampaikan bahwa dalam kelapa ini ada ikannya?” tanya Sunan Kudus lagi. “Ada Kanjeng,” jawab Saridin polos. Kembali hadirin tertawa lantaran menganggap Saridin dungu. Tapi sesudah kelapa itu dibelah kagetlah mereka semua, termasuk Sunan Kudus, lantaran didalamnya ada ikan hidup yang berenang di air kelapa. Menganggap Saridin melaksanakan hal-hal yang tak patut, yaitu menunjukkan karomah diri pada orang lain. Sunan Kudus marah, dan Saridin pun di usir dan dihentikan menginjak tanah Kudus lagi.

Dengan frustasi Saridin pergi, rupanya hal yang dialaminya diketahui Sunan Kalijaga. Wali yang bijak ini kemudian menasehati Saridin untuk sabar sekalipun perbuatannya tadi dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Sikap Sunan Kudus juga dijelaskan oleh Sunan Kalijaga sebagai perilaku yang masuk akal seorang insan biasa yang merasa malu jikalau dipermalukan di depan orang lain di hadapan murid-muridnya. Setelah insiden itu Sunan Kalijaga Menyuruh Saridin mengasingkan diri untuk lebih dalam mengenal Allah SWT serta menjalani latihan-latihan rohani untuk menyatu dengan-Nya.

Setelah lulus Saridin kembali ke masyarakat, ia kemudian dikenal sebagai sufi yang namanya cukup disegani di masa Kerajaan Mataram. Ia mengajarkan konsep-konsep tasawuf pada orang-oarang yang ingin mengaji padanya. Ia menetap kembali di Kajen, tanah kelahirannya, hingga wafat. Makamnya masih sering diziarahi orang hingga sekarang.

Sumber kisah Alkisah Nomor 07 / 29 Maret – 11 April 2004

Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya, Melawan Penjajah Dengan Dakwah

Demi menegakkan fatwa islam, ia tak kenal kompromi dengan pemerintah kolonial Belanda.

Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya, melawan penjajah dengan dakwah

Habib Umar lahir di Arjawinangun pada bulan Rabiu’ul Awwal 1298 H atau 22 Juni 1888. Ayahnya, Syarif Ismail, Adalah Dai berdarah Hadramaut yang membuatkan Islam di Nusantara. Ibunya orisinil Arjawinangun, Siti Suniah binti H.Shiddiq. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak: Umar, Qasim, Ibrahim, dan Abdullah. Garis keturunan Habib Umar hingga kepada Nabi Muhammad melalui Sayyidina Husein.

Pandidikan agama eksklusif diperoleh dari ayahnya sendiri, gres kemudian ia mengembara ke banyak sekali pesantren di Jawa Barat, dari tahun 1913 hingga 1921.

Menyaksikan masyarakat Kampung Arjawinangun, Cirebon, tanah kelahiranya karam dalam kebiasaan berjudi dan perbuatan dosa besar lainnya, Habib Umar merasa terpanggil untuk memperbaikinya. Dalam sebuah mimpi, ia bertemu Syarief Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, yang memberinya restu untuk niat baiknya tersebut. Selain itu Syarief Hidayatullah juga mengajarkan hakikat kalimat Syahadat kepadanya. Maka, setiap Malam Jum’at Habib Umar pun Menggelar pengajian di rumahnya.

Tapi upaya itu menerima perlawanan serius dari masyarakat. Mereka mencemooh, menghina, dan mencibir pengajian Habib Umar. Dibawah tekanan masyarakat itu, ia terus berjalan dengan dakwahnya itu. Dan Karena pengajiannya dianggap meresahkan masyarakat, pada gilirannya pemerintah kolonial menangkap Habib Umar dan menjebloskannya ke dalam Penjara. Namun, tiga bulan kemudian ia di bebaskan, berkat perlawanan yang diberikan oleh jama’ahnya hingga jatuh korban di kalangan antek-antek Belanda.

Kepalang basah, tahun 1940, Habib Umar bahkan menyediakan rumahnya sebagai markas usaha melawan pemerintah kolonial Belanda. Tidak hanya itu, ia juga turun tangan dengan mengajarkan ilmu kanuragan kepada kaum muda.

Bulan Agustus 1940 ia ditangkap Belanda lagi danpengajiannya ditutup, Enam bulan kemudian, 20 Februari 1941, ia dibebaskan.

Semangat usaha melawan kolonialisme semakin membara dalam dada Habib Umar. Mka ia pun banyak mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh agama di seputar Cirebon, ibarat Kiai Ahmad Sujak (Bobos), Kiai Abdul Halim (Majalengka), Kiai Syamsuri (Wanantara), Kiai Mustafa (Kanggraksan), Kiai Kriyan (Munjul).

Tidak Hanya pada masa penjajahan Belanda, Pada zaman Jepang pun nama Habib Umar melejit lagi sebagai pejuang agama. Ia memperkarakan Undang-Undang yang di keluarkan Jepang yang melarang pengajaran abjad Arab di Masyarakat. UU itu dianggap sebagai alat biar umat islam meninggalkan Al-Quran.

Panji-Panji Syahadatain
Pada masa kemerdekaan, Tahun 1947, Habib Umar mulai mengibarkan panji-panji Syahadatain. Itu bermula dari pengajian yang dipimpinnya yang semula dikenal sebagai “Pengajian Abah Umar” menjadi “Pengajian Jamaah Asyahadatain”. Ternyata pengajian ini menerima simpati luas sehingga menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tahun 1951 forum itu menerima restu dari presiden Soekarno.

Tahun 1951, Habib Umar sempat mendirikan Pondok Pesantren Asyahadatain di Panguragan. Namun Selain mengajarkan ilmu agama dan ketrampilan ibarat bertani, menjahit, bengkel, koperasi, dan ilmu kanuragan, Habib Umar juga mengharuskan Jamaahnya bertawasul kepada Rasulullah, Malaikat, Ahlul bayt, Wali, setiap final shalat fardhu. Menurutnya, tawasul menyebabkan terkabulnya suatu doa. Lebih Jauh lagi, Habib Umar juga mendirikan Tarekat Assyahadatain.

Ia Juga sekaligus pemimpin Tarekat Assyahadatain, menulis buku berjudul Awradh Thariqah Al-Syahadatain, Sebagai pedoman Bagi Jamaahnya. Syahadat, berdasarkan Habib Umar, Tidak Cukup dilafadzkan di mulut, tapi maknanya juga harus membias ke dalam jiwa. Dengan persaksian dua kalimat syahadat itu, seseorang akan diampuni atas dosanya, dan terkikis pula akar-akar kemusyrikan dalam dirinya.

Karyanya yang lain yaitu Awrad (1972), memakai Bahasa kawasan yang berisi ilmu ahlaq dan tasawuf, aqidah dan pedoman hidup kaum muslimin.

Habib Umar menghadapa ke Hadirat Allah pada 13 Rajab 1393 atau 20 Agustus 1973. Semoga Amal Ibadah dan perjuangannya menerima jawaban yang setimpal dari Allah SWT.

Source: ALKISAH NO.09/4 – 17 MEI 2009 HAL 146

Mbah Kyai Musyafa’ Orang “Gila” Yang Penuh Karomah

Kyai Musyafa ~ Sebelum dikenal sebagai Wali, Mbah Kiai Musyafa’ dianggap orang Gila. Namun lalu banyak orang yang menemukan Karomahnya. Karena itu, sesudah dia meninggal, makamnya kerap didatangi peziarah.


Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah, tampak sangat anggun jikalau dilihat dari bukit yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Masjid Al-Muttaqin yang berada di sentra kota terlihat sangat mayoritas dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak sangat kukuh, ibarat menegaskan betapa Allah SWT Mahabesar.

Dari ketinggian bukit itu, tampak kecantikan kota Kaliwungu yang mempesona. Disana terdapat makam alim ulama dan para penyiar agama Islam tempo dulu. Masyarakat menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit), sebuah tempat perbukitan. Salah seorang ulama besar yang dimakamkan disana yakni Kiai Musyafa’ bin Haji Bahram.

Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian ia biasa disapa, inipun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah tiba kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melakukan riadah.

Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969), Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, menciptakan sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Tidak jarang orang juga menyampaikan bahwa Mbah Syafa’ yakni orang gila, alasannya ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan insan pada umumnya.

Anggur Mekkah
Sangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ yakni orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya. Pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ di bikin geger. Pasalnya sesudah trend haji, ada seorang haji yang tiba ke sana, ia mengaku di titipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang gres saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ menyaksikan sendiri, selama trend haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.

Sejak itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi sesudah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya. Suatu ketika Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.

Dalam kisah yang lain, sekitar tahun 1060-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, alasannya sebagai pembela negara dia menerima kiprah ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia hingga di tempat tinggal Mbah Syafa’, dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.

Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat lalu ia masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu kontribusi Mbah Syafa’.

Di belakang hari, kode tersebut sanggup diketahui sesudah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.

Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian menduga tempat itu akan dipakai untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibentuk sumur.

Setelah beberapa saat, orang gres sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui kejadian yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak usang berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berbagai kejadian absurd terjadi termasuk sesudah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika ketika sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Mbah Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah, padahal ia telah meninggal dunia.

Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Mbah Rasyid begitu ia hingga di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, menciptakan resah Mbah Rasyid. Hatinya gres damai sesudah uang itu ia kembalikan ke kuburan Mbah Syafa’.

KaromahView All

TokohView All